Gebrakan Menteri Muda kepada Guru di Indonesia Melalui Pidatonya
Cari Berita

Advertisement

Gebrakan Menteri Muda kepada Guru di Indonesia Melalui Pidatonya

26 Des 2019

Oleh : Rifka Annisa Firdausi
Mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Malang.

Akhir November lalu, banyak warganet yang dikejutkan dengan viralnya pidato tentang Hari Guru oleh bapak menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia, yakni Nadiem Makarim disosial media. Pidato tersebut disampaikan ketika upacara memperingati Hari Guru Nasional pada 25 November 2019. Bahkan pada hari itu juga, Nadiem mengunggah teks pidatonya dilaman instagram pribadinya.

Tak hanya warganet, ternyata banyak masyarakat luar bahkan para politisi juga menanggapi perihal tersebut. Indra Charismiadji, yakni seorang Pemerhati dan Praktisi Pendidikan 4.0 mengatakan bahwasanya baru kali ini pidato seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dapat viral sepanjang sejarah bangsa Indonesia hingga mengundang para politisi dan masyarakat untuk angkat bicara.

Momentum Nadiem Makarim ketika menyampaikan pidatonya hingga sekarang masih lumayan hangat dibicarakan oleh banyak kalangan. Pidato yang disampaikan memang terlihat singkat, padat dan langsung to the point. Pidato tersebut memang bukan merupakan sebuah pidato yang berisi pesan inspiratif untuk para guru, bukan seperti pidato-pidato Hari Guru pada umumnya. Walaupun demikian, harus tetap kita apresiasi.

Namun, apasih yang membuat banyak kalangan berkomentar mengenai pidato Menteri muda ini?. Pidato Nadiem Makarim tersebut ternyata berisi tentang keresahan dan permasalahan yang selama ini dihadapi dan dialami oleh para pengajar dan pendidik di Indonesia alias guru. Selain itu, pidato tersebut juga berisi pesan tentang korelasi yang seharusnya dapat dibangun antara guru dan peserta didik.

Hal inilah yang memicu banyak kalangan untuk membicarakan perihal kondisi pendidikan nasional yang bisa dikatakan amburadul dan kurang efisien. Bagaimana tidak? Dalam teks pidato pak Nadiem sudah jelas tertulis diparagraf tiga hingga sembilan, yang memperlihatkan permasalahan krusial yang dialami guru dalam mengelola sistem pembelajaran yang diberlakukan oleh sistem pendidikan nasional, yang mana jika kita cermati isi pidato tersebut saling berbanding terbalik. 
Pada paragraf keempat tertulis, “Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.”
Realita memperlihatkan bahwasanya beban administrasi sangatlah menggangu fokus guru. Guru yang seharusnya mentransferkan ilmu yang dimilikinya kepada para peserta didik secara intens, justru terhalang oleh beban administrasi yang kian hari kian memenjaranya. Waktu guru pun tersita, sehingga sulit untuk mengenali potensi yang ada pada siswanya.

Pada Paragraf kelima tertulis, “Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.” Guru mendapat desakan dari para pemangku kepentingan pendidikan, agar mereka hanya terfokus kepada sebuah nilai, padahal potensi dan kemampuan siswa tidak hanya diukur dari hasil akademiknya saja. Hal ini menyebabkan guru terpaksa mengejar angka akademik karena tuntutan sebuah kebijakan.

Pada paragraf keenam tertulis, “Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.” Pada kenyataannya, kurikulum yang dipakai saat ini tidak memiliki standar proses dalam pembelajaran yang menyinggung aspek eksplorasi, sehingga guru pun sulit untuk melakukan pembelajaran diluar kelas karena tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Pada paragraf ketujuh tertulis, “Anda frustasi karena anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.” Sebagaimana yang kita tahu bahwa setiap kesuksesan bukan dilihat dari kemampuan menghafal yang sejalan dengan pemikiran akademik saja. Setiap siswa tentunya memiliki skills yang dapat menunjang dirinya untuk berkarya. Jadi, tidak hanya mengandalkan kemampuan akademisnya saja. Maka dari itu guru harus bisa balance antara mengkolaborasikan kemampuan berkarya dan menghafal dalam membantu mewujudkan cita-cita siswanya.

Pada paragraf kedelapan tertulis, “Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.” Dalam sistem pendidikan nasional memang diberlakukan keseragaman, contohnya dalam pakaian seragam siswa sehari-hari ketika bersekolah. Hal ini menimbulkan pro kontra dimana-mana.

Pihak yang kontra menyebut dirinya tidak setuju karena itu akan membuat siswa tertuntut hanya dengan seragam. Kita tahu bahwasanya setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda, baik itu kebutuhan finansial maupun yang lainnya. Namun bagaimana jika suatu saat seragam yang mereka kenakan sudah tidak muat, sehingga mereka harus membeli lagi?

Bagaimana dengan yang tidak mampu? Bukankah sekolah negeri yang dibiayai oleh pemerintah hanya membagikan satu kali seragam gratis? Disisi lain mereka juga berpendapat, bukankah keberagaman itu indah?. Namun bagi mereka yang pro dengan adanya keseragaman ini berfikir bahwa itu akan menunjukkan identitas siswa masing-masing. Mana siswa yang sedang menempuh pendidikan dasar, mana pula siswa yang sedang menempuh pendidikan menengah.

Memang benar, bahwa keseragaman telah mengalahkan keberagaman yang mana keberagaman ini merupakan suatu prinsip dasar birokrasi, seperti yang sudah tertulis dalam naskah pidato Mendikbud muda ini. Baik itu birokrasi secara umum, maupun birokrasi secara khusus seperti birokrasi pada sektor pendidikan.

Paragraf kesembilan tertulis, “Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.” Lagi-lagi karena kurikulum. Kurikulum menuntut siswa untuk lebih aktif, kreatif dan inovatif dibandingkan gurunya, namun bagaimana siswa dapat mengembangkan keaktifan, kreativitas dan inovasinya jika tidak ada dorongan motivasi dari gurunya?. Guru pun tidak dibebaskan untuk berinovasi agar siswa juga mampu terinspirasi.

Poin-poin yang tertulis pada halaman pertama naskah pidato tersebut membuat sejumlah organisasi guru yang ada di Indonesia pun ikut mengkritisi mengenai pidato Mendikbud ini. Diantara yakni dari FSGI, IGI dan PGRI. Seorang Heru Purnomo merupakan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengatakan bahwa dirinya melihat bahwa pesan Pak Mendikbud dalam pidato Hari Guru Nasional tersebut memiliki sifat yang bias dan paradoksal. Di satu sisi, pada halaman pertama poin satu hingga delapan, Pak Menteri memuji, melihat dan mengakui guru terbelenggu. Sisi lain, pada halaman kedua, Pak Menteri menginginkan adanya perubahan yang dilakukan dari para guru.

Sama persis yang saya katakan diawal tadi bahwa isi dari pidato Pak Menteri ini berbanding terbalik. Perbaikan mutu pendidikan ini tidak cukup hanya menunggu perubahan dari guru saja, tetapi harus ada sistem yang mengatur mengenai hal itu. Bagaimana bisa mutu pendidikan ditingkatkan, jika tidak ada sistem yang memberlakukan aturan tersebut dan Kemendikbud tidak mendukung serta mengayomi dengan cara memberikan tudung hukum? Hal tersebut mengakibatkan upaya yang dilakukan oleh guru tidak akan berjalan dengan maksimal.

Tak lupa pula terkait kebijakan pengelolaan pendidikan, guru berada dibawah koordinasi pemerintah daerah. Dikarenakan permerintah daerah sudah diberi wewenang untuk mengatur daerahnya sendiri, baik dalam ekonomi, pendidikan maupun yang lainnya, maka hal ini dengan semestinya harus ada sinkronisasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, agar aturan yang nantinya dikeluarkan dapat berjalan dengan lancar.

Sementara ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim meminta Nadiem Makarim agar para guru di Indonesia mendapatkan posisi terhormat sesuai dengan pengorbanannya dalam mencerdaskan anak bangsa.

"Kami juga menangkap keinginan Nadiem Makarim untuk menempatkan guru pada posisi terhormat, dan karena itu IGI mendorong agar Menteri Nadiem Makarim memastikan guru-guru yang mengisi ruang kelas adalah guru-guru yang memiliki status yang jelas," kata Ramli.

Menurutnya, para guru yang bertugas mengisi ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar harus memiliki status yang jelas sesuai dengan kriteria profesionalisme guru. Salah satunya yaitu guru memperoleh gaji atau pendapatan di atas Upah Minimum Provinsi (UMP). Namun pada faktanya, saat ini masih ada guru yang mendapatkan gaji jauh lebih rendah dari buruh bangunan. Apabila pemerataan gaji guru sudah sesuai diatas UMP, maka bisa dikatakan Nadiem Makarim memposisikan guru ditempat yang mulia, sehingga guru benar-benar dapat berkonsentrasi pada kegiatan belajar mengajar untuk menyiapkan anak-anak bangsa di masa yang akan datang.

Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) DKI Jakarta, Nurbaiti juga merespon hal yang serupa, yakni harapan untuk untuk mengangkat seluruh guru honor menjadi PNS. Ia berharap agar pengabdian guru yang sudah bertahun-tahun menjadi honorer dapat dihargai. Adapun jika untuk mengikuti tes CPNS, mereka terkendala oleh usia. Toh, apabila diperbolehkan maka mereka harus bersaing dengan para CPNS yang usianya lebih muda dan tentunya lebih lihai dalam penguasaan teknologi.
Tak hanya itu, dalam teks pidato Nadiem Makarim halaman kedua tertulis lima poin berisi gebrakan untuk guru melakukan sebuah langkah menuju perubahan. Berkaitan dengan lima poin tersebut yang disampaikan oleh Nadiem Makarim dalam pidatonya, sebagian kalangan mahasiswa juga ramai berdiskusi mengenai hal ini. Sebab menurut mereka, merekalah yang akan meneruskan pengelolaan pendidikan bangsa ini agar lebih baik dan maju kedepannya.

Tak sedikit mahasiswa yang mengapresiasi lima poin ajakan untuk perubahan yang telah disampaikan Nadiem Makarim pada pidatonya tersebut. Kebanyakan dari mereka justru setuju dengan ide yang dicetuskan oleh Menteri muda kita ini dengan mengajak guru untuk melakukan langkah demi langkah menuju perubahan-perubahan kecil yang akan dapat  mengganti pola pikir siswa dengan lebih baik lagi, menghargai dan memberi kebebasan bagi guru untuk berinovasi demi pendidikan, dan lebih menekankan tugas yang membuat siswanya mampu berdiskusi dan berinteraksi dengan kelompok. Model pembelajaran ini sama persis seperti di finlandia, dan tentunya akan berakibat baik pada pendidikan Indonesia.

Namun yang harus digaris bawahi adalah, guru belum bisa melakukan perubahan-perubahan tersebut, jika belum ada regulasi yang mengikat dari pemerintah pusat yang diturunkan kepada pemerintah daerah. Harapan besar dari seluruh kalangan, baik guru, masyarakat, maupun kami sebagai mahasiswa adalah, dengen segera mas Menteri Nadiem Makarim untuk merealisasikan ide dan juga program yang dicetuskan, sehingga dapat membawa mutu pendidikan Indonesia menjadi pendidikan yang lebih baik dan maju serta dapat bersaing dikancah internasional.