Abdul Somad Mengarung Kata di Mayantara
Cari Berita

Advertisement

Abdul Somad Mengarung Kata di Mayantara

25 Nov 2019

sumber: google


Indikatormalang.com - Ustad Abdul Somad meniup dawuh soal “catur haram” di tengah masyarakat pembual. Ustad kenaaman itu seakan menjadi objek dari dari serangan ujaran kebencian baik dari netizen yang tak memiliki kredibilitas penglihatan objektif ataupun mesin buzzer yang mencari tranding guna membentuk turbulensi opini publik. Bahasan bidak catur dari dawuh tipis dirembeskan dari potongan selembar data elektronik (video), ditangkap frame jurnalistik, dipermak poros politik, dan disantap masyarakat yang lapar becerita (homo narran).

Mayantara atau cyberspace merupakan medan bebas nilai yang cenderung naif, penuh kecurigaan, tidak akomodatif, dan cenderung dimanipulasi. Mayantara konotasi ruang hidup layaknya Nusantara yang kita kenal. Jika padanan nilai kehidupan di Nusantara selalu dialogis korektif serta penuh tanggung jawab moral (setidaknya). Maka Mayantara dinding sebaliknya, moral itu pertanggung jawaban yang miskin dari kesungguhan.

Masyarakat Mayantara lebih suka spontanitas, susunan diksi bahasa mereka barang kali lebih banyak memusuhi komunikasi kesehariannya di kehidupan nyata. Dalam internet semua memiliki kekuatan yang sama namun tidak dengan kendalinya. Lalu apakah internet? Internet adalah energi, demikianlah Syaikh Hisyam Muhammad Kabbani katakan. Tidak ada sesuatu kultus yang abadi ataupun sakralitas sprituil yang ajeg, membahas agama sama tidak berdayanya layaknya debat kusir kemenangan elit politik atau kebijakan sosial atas dasar program kerja politik bukan semangat ideologis haluan negara.

Agama dalam Mayantara menjadi kawah dialog bahkan uji coba seberapa keimanan dan olah rasa cara pandang. Abdul Somad memahami dengan cara pandangan Islam skriptualis (tidak tepat istilah puritan) itu bagi kaum muslim yang setia mendengarkan dakwahnya dinilai sebagai tokoh yang memiliki otoritas dalam memberikan keterangan pelbagai persoalan agama Islam. Kutub perbedaan pandangan kegamaan di realitas sebenarnya tidak berujung kepada blok-blok spiritualitas, alasanya tidak menguntungkan bagi entitas muslim dan didorong dalam satu ikatan ukuwah.

Menyeret agama ke wilayah Mayantara bagi kalangan Islam fundamtalis, moderat, liberal, bahkan Ekstremis radikal cukup menguntungkan. Satu yang perlu dicatat bahwa dalam Islam adanya larangan perantara antara individu dan Tuhan. Dalam menyalurkan dakwah, Muslim merasa cocok karena internet tidak bersifat hierarkis. Alam dan agama sama-sama tidak menyukai kehampaan. Jika dulu Islam fundamentalis tidak hadir di Internet (periode 90-an) kini semua kelompok Islam hampir meramaikan kewargaan Mayantara.

Saya tidak cukup berani berkata di mana posisi ustad Abdul Somad, yang pasti dirinya dan dakwahnya adalah bahan yang menjadi pergunjingan, sebuah asupan bagi mereka yang haus akan bercerita. Demokrasi, kebebasan, dan mungkin agama dalam dunia Mayantara terlihat semu. Semua golongan kegamaan akan menyuguhkan yang terbaik versi masing-masing. Tidak terkecuali kelompok takhfiri seperti ISIS yang cukup berhasil memuaskan dahaga kekosongan nilai spirituil walau sebenarnya lebih terlihat sebagai keputusasaan saja. Paling tidak, potret timur tengah detik ini, merupakan efek gosip agama dicampur perasa ketidakpuasan politik.

Ada benarnya Michael Benedikt dalam Cyberspace: First Steps bahwa segala sesuatu bersifat informasional dan penting bagi individu akan dijual dan dibagikan secara gratis di Cyberspace. Siapa yang tak tertarik dengan agama? Islam yang mengatur ummatnya mulai dari tatakrama lahir sampai mati akan selalu menarik muslim mempelajarinya. Hanya saja ini tak akan sama jika membandingkan dakwah di surau dengan di Mayantara alias dunia maya yang luas itu.

Ustad Abdul Somad sejatinya korban ketidakpahaman para pengagumnya. Membagikan agurmentasi keagamaan di area yang cenderung chaos antar pemahaman, dan politis, akan cenderung memiskinkan agama itu sendiri. Belum lagi, latar belakang politik ikut meberikan serum yang memompa pandangan lain bahkan diluar kapabilitas dirinya sebagai tokoh agamawan.

Tidak juga Mengatasnamakan Islam menjadi pilihan mujarab untuk menghdirkan justifikasi ampun juga berdebat kusir di Mayantara. Justufikasi apapun tidak dapat diakui karena dalam Mayantara semuanya sama. Pengggunaan atas nama Islam bahkan cenderung sentimentil, lihat bagaimana Arab Saudi tahun 1996 menutup akses internet pada warganya dengan anggapan melindungi dari pornografi. Di sisi lain motif tersebut didorong oleh ketidaksukaan pada liberalisasi barat dan berkeyakinan  bahwa bahasa arab adalah bahasa yang tervalidasi untuk keyakinan dalam Islam dan bukan bahasa inggris yang menjadi bahasa dominan dalam perangkat internet.

Kanal-kanal diskusi agama di internet selalu menampilkan irisan ideologis. Argumentasi dan analogi penuh fallacy adalah hal yang biasa ditemukan, adakah yang bisa meluruskan? Bisa ia bisa tidak. Menilai fatwa agama bisa saja terlanjur kena bid’ah bahkan kafir, tidak berbicara menanggapi agama dianggap sekuler definitif. Catur haram bukan saja menghentak, tapi sejujurnya menggelitik karena semakin membuat batasan golongan dalam Islam semakin terlihat. Lagi-lagi sebuah bahan gratisasi untuk gosip bagi warga Mayantara.

Penulis: Melqy Mochammad (Estetika Institute)