Suara Keadilan Kami Mau Kau Kemanakan?
Cari Berita

Advertisement

Suara Keadilan Kami Mau Kau Kemanakan?

4 Okt 2019

Foto Penulis
Oleh : Ilham Abdun Nasir
(Ketua Senat Mahasiswa UMM)

Indikatormalang.com -Apa kabar para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat? Aku dengar kemarin engkau telah disumpah, gedung megah yang kau singgahi sesak dipenuhi dengan semangat yang penuh dengan keceriaan. Tak nampak memang kau tunjukan pada kami wajah melas atau pun sedih, semua tampak riang bergembira, karena memang lucu jika menunjukan kesedihan sedangkan yang engkau kejar adalah kekuasaan.

Namun, apakah kemudian hal ini bisa merubah keadaan ditengah polemik yang akhir-akhir ini marak terjadi dan cukup memanas, baik golongan bawah, menengah, hingga lapisan atas atau yang diisi oleh para elite politik. Mereka saling bertunggangan menyuarakan tuntutan yang sama yaitu keadilan untuk semua lapisan.

Lantas kemanakah lagi suara keadilan akan kami tuntut?. Sedangkan skeptis saat ini telah tumbuh, berawal dari perasaan trauma terhadap kepercayaan yang sudah dimandatkan oleh rakyat engkau salah gunakan.

Ditengah keadaan genting persoalan bangsa hari ini, polemik mengenai demokrasi sebagai buah hasil dari kemerdekaan Indonesia, dimana paham atau ideology persoalan yang mengatur pada kedaulatan tertinggi yang seharusnya ditangan rakyat, malah hari ini terkesan cuma pejabat yang mampu berdaulat. Kepentingan-kepentingan golongan elite politik yang tak mampu memberikan angin segar kepada masyarakat, sebagai buah kabar bahwa nasib rakyat begitu dipertimbangan.

Masuknya kepentingan bangsa imperialis yang diatur didalam persebutuhan para pejabat elite politik yang kemudian melahirkan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada Dehumanisasi pada golongan pribumi, pemanfaat sumber daya alam yang dikeruk dihabiskan lalu ditinggalkan mengakibatkan rakyat kebingungan membuat masyarakat hanya menelan pil pahit akibat dari lingkungan mereka yang sudah rusak dan sulit untuk dinormalisasikan kembali. Lantas apakah ini peran mereka sebagai dewan keterwakilan dari rakyat yang lupa bahwa hal yang baru diciptakan berupa perizinan menjadi lubang neraka buat bangsa kita sendiri.

Gelombang kemarahan akibat dari kepekaan masalah bangsa hari ini menunjukan bahwa betul-betul hari ini pemerintah lemah dalam mempertimbangkan persoalan kebutuhan rakyat. Prodak-prodak kebijakan dibuat dengan dalil karena kitab undang-undang yang dipakai selama ini sudah lama, peninggalan dari bangsa kolonial. Lantas kalau seperti ini yang dijadikan dalil maka sama dengan para pemangku kepentingan para perancang kebijakan ingin memunculkan sinyal perang antar bangsa sendiri. Hal ini bisa dilihat bahwa kurangnya keseriusan para elite ini dalam merancang, maupun menjawab rancangan yang sudah dibentuk dengan konsekuensi-konsekuensi yang logis ditengah masyarakat itu sendiri, sebagai wujud dari demokrasi dimana kedaulatannya ada ditangan rakyat maka apapun yang dibentuk harus ditengah harapan itu masyarakat sendiri. 

Dengan semakin kusamnya wajah-wajah serta inovasi kebijakan pemerintah pun turut menggugah hati rakyat untuk menyuarakan aspirasinya kepada para dewan perwakilan rakyat, gelombang-gelombang yang muncul sangat tinggi, namun sangat disayangkan tindakan-tindakan represif yang dilakukan oleh oknum keamanan sangat inkonstitusional dan menciderai  demokrasi kita hari ini. Sedangkan menyampaikan pendapat di muka umum secara konstitusional diatur didalam UU Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia.

Kewajiban dalam memberikan rasa keamanan serta kenyamanan seharusnya dimunculkan didalam situasi-situasi seperti ini, sehingga para penyuara-penyuara penuntut keadilan ini tidak muncul suatu pemikiran bahwa aparat keamanan adalah musuh bagi para demonstran. Timbulnya suatu pemikiran seperti ini dimulai dari tidak adanya tindakan pendekatan persuasif antara aparat keamanan dengan demonstran itu sendiri, serta adanya senjata api yang dibawa masuk dalam pengamanan aksi massa yang dirasa ini diluar dari SOP yang ada. Upaya untuk kemudian memukul mundur massa aksi dengan tindakan-tindakan kekerasan membuat beberapa massa aksi luka-luka, bahkan lebih parahnya lagi beberapa diantarannya meninggal dan diketahui bahwa korban ditembak.

Daftar catatan peristiwa pelanggaran HAM yang dilakukan didepan umum seperti halnya kasus yang diatas semoga segara diatasi, siapa dalangnya harus dihukum dengan seberat-beratnya, suara keadilan akan dipertaruhkan disini. Serta melalui proses inilah yang akan sedikit banyak akan mempengaruhi bagaimana aparat keamanan dalam bekerja nantinya, sebab mereka digaji oleh uang rakyat sudah semestinya melindungi para rakyat, bukan sebaliknya. Mereka menganggap para demonstran sebagai perusuh lalu dibersihkan dengan tindakan reprensif, sedangkan perusuh negara yaitu para Dewan Perwakilan Rakyat yang tak amanah malah engkau berikan perlindungan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia kini sedang dipertaruhkan, eksekutif-legislatif sudah dikuasi oleh salah satu barisan koalisi. Ingin memperkuat atau ingin menghancurkan bangsa dan negara ini pun lebih mudah diatur, sebab akan sering sekali terjadi perselingkuhan untuk sampai pada kepentingan diantara orang-orang yang ada dilembaga yang dimiliki oleh negara ini.

Dengan wajah baru hari ini pun kami berharap kepada para pemimpin, agar mampu mengantarkan nasib bangsa ini menjadi bangsa yang bukan hanya sekedar bisa bercita - cita / berangan - angan saja. Tapi perlu kita buktikan kepada dunia bahwa teriakan-teriakan perlawan yang terjadi akhir-akhir ini menjadi peringatan agar pemerintah lebih serius dalam mengurus persoalan bangsa dan juga negara agar lebih baik lagi. Karena bangsa ini bukan hanya dimiliki oleh golongan elit maupun golongan bawah, tapi seluruh golongan. Semoga nasib bangsa dan negara lekas membaik dalam aspek manapun tanpa kita terkecualikan, apabila itu baik untuk masyarakat dan negara kita bersama.

#hidup_mahasiswa
#hidup_buruh
#hidup_perempuan_yang_melawan
#hidup_rakyat
#panjang_umur_perjuangan

Penulis: Ilham Abdun Nasir
Status  : Mahasiswa PGSD UMM (Kader IMM Raushan Fikr FKIP UMM)
Editor   : Jab