Asah Nalar Mahasiswa, Pesmaba FKIP Berikan Materi Seputar Pendidikan
Cari Berita

Advertisement

Asah Nalar Mahasiswa, Pesmaba FKIP Berikan Materi Seputar Pendidikan

4 Sep 2019

Eriton Pemateri dalam Pesmaba FKIP UMM tampak sedang menyampaikan materi kepada peserta Pesmaba

Indikatormlang.com - Perhelatan rangkaian Pesmaba telah memasuki hari ke-3 dengan bertempat di parkiran belakang kampus III UMM. Pesmaba FKIP hari ini diwarnai dengan diskusi seputar pendidikan dengan tema besar "Akademisi yang Melintasi Zaman". (04/09/2019)

Dengan menghadirkan pemateri Eriton S.Pd yang merupakan alumni dari FKIP-UMM. Selain alumni, pembicara juga pernah menjabat sebagai salah satu Ketua Umum IMM Raushan Fikr FKIP-UMM sert Demisioner Sekertaris Cabang IMM Malang Raya.

Dalam prolognya, pemuda yang akrab disapa Eri ini memberikan tinjauan sejarah tentang peristiwa Mei 98 yang mampu meruntuhkan rezim Orba menuju Reformasi. Kemudian disusul dengan pertanyaan "Apakah hari ini Reformasi itu sudah tercapai?"

Eri melanjutkan,"Tapi sebenarnya persoalannya bukan pada reformasi itu, meelainkan transformatif harus selalu ada pada diri kita sebagai kaum pendidik" tururnya kepada mahasiswa baru FKIP yang mengikuti Pesmaba.

Dalam sajian materi yang dapat dipaparkan pemuda asal Semelue Aceh ini adalah tentang semangat kolektif yang ada pada mahasiswa 98 harus tetap tertanam dan terpatri pada jiwa pemuda sampai sekarang. Setelah memaparkan tinjauan sejarah, pembicara memberikan gambaran tentang bonus demografi, kemudian dikaitkan dengan pendidikan.

Selain itu, Pembicara menegaskan "Bonus demografi adalah meningkatnya usia produktif/anak muda. Hal itu bisa jadi peluang dan juga tantangan bagi para mahasiswa. Mengingat, Stigma dari masyarakat yang sering terdengar bahwa di era sekarang banyak mahasiswa yang menjadi pengganguran"

Maka solusi yang tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah belajar tidak hanya berkutat dalam ruang-ruang kelas. "Kuliah tidak cukup hanya sekedar belajar di kelas. Kita harus belajar lebih, salah satunya adalah belajar di organisasi. Karena kita adalah berasal dari background pendidikan, maka kita harus mampu berpikir lebih luas" Pungkasnya.

Tambahannya "Karena kita adalah calon guru, maka dari itu jadikanlah hal itu sebagai bentuk pengabdian. Ketika menjadi guru hanya digunakan untuk mencari uang, kita akan kalah dengan youtuber yang gajinya lebih mahal. Maka jadilah guru yang ikhlas, kreatif serta mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman"

Senada dengan itu, ketua pelaksana pelaksana Wahyu Hendra, memberi respon terkait materi ini "Harapannya setelah mahasiswa baru mendapat materi ini, tidak hanya berhenti di tahap dialektika saja. Tapi ada implikasi secara kongkrit yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan terkhusus ketika menjadi pendidik"

Reporter: Humas Pesmaba
Editor     : Redaksi