Antropologi dan Feminisme di Indonesia
Cari Berita

Advertisement

Antropologi dan Feminisme di Indonesia

11 Agu 2019

Foto Penulis

Indikatormalang.com - Keberadaan manusia dalam suatu lingkungan sosial tidak mampu terpisah dari berbagai macam nilai – nilai yang tertananm dan dijunjung tinggi dalam lingkungan tersebut. Kendatipun ada kalangan tertentu yang beranggapan bahwa kebiasaan dan nilai – nilai tersebut merupakan hal yang terlampu kolot dan bukan masanya lagi jika digunakan sebagai patokan. Dalam tulisan kali ini, kita akan mengupas tentang Antropologi dan Feminisme di Indonesia.

Antropologi secara umum ialah ilmu tentang manusia, masa lalu dan  masa kini, yang menggambarkan manusia melalui pengetahuan ilmu sosial dan ilmu hayati, dan juga humaniora.  Antropologi berasal dari kata Yunani antrophos yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal") atau secara etimologis antropologi berarti ilmu yang mempelajari perjalanan manusia.

Antropologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau. Kendatipun secara holistik ilmu antropologi dibagi dalam empat cabang yaitu antropologi biologis, antropologi sosial dan budaya, antropologi arkeologi dan antropologi linguistik, dalam tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk mengkaji dengan satu cabang ilmu antropologi saja yakni antropologi sosial dan budaya. Karena antropologi sosial dan budaya memiliki kekuatan dalam pertarungan pemikiran budaya dan kebiasaan masyarakat dalam suatu lingkungan.

Sementara itu feminisme semakin kebanjiran peminat dan tidak sedikit generasi muda di Indonesia memilih untuk bergabung dan berbicara terkait hal ini. Feminisme adalah sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesetaraan dan keadilan hak dengan pria (tokoh feminism disebut Feminim). Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan. Secara luas pendefinisian feminisme adalah advokasi kesetaraan hak-hak perempuan dalam hal politik, sosial, dan ekonomi.

Gerakan feminisme dimulai sejak akhir abad ke-18 dan berkembang pesat sepanjang abad ke-20 yang dimulai dengan penyuaraan persamaan hak politik bagi perempuan. Literatur Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal yang berisi kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan. 

Penghujung abad 20, gerakan feminis banyak dipandang sebagai sempalan gerakan Critical Legal Studies, yang pada intinya banyak memberikan kritik terhadap logika hukum yang selama ini digunakan, sifat manipulatif dan ketergantungan hukum terhadap politik, ekonomi, peranan hukum dalam membentuk pola hubungan sosial, dan pembentukan hierarki oleh ketentuan hukum secara tidak mendasar.

Feminisme di Indonesia

Menelisik lebih dalam lagi tentang pergerakan feminism di Indonesia yang saat ini telah menarik jutaan kepala untuk turun sekedar nimbrung untuk berdiskusi ataupun mengambil langkah kongkrit dalam meperjuangkan nasib golongan kaum perempuan maka lebih afdhol lagi jika kita mengenal terlebih dahulu kedatanggannya di Indonesia. Perlu pembaca ketahui bahwa gerakan feminisme ini sudah terdengar sejak tahun 60-an dan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto saat itu gerkan feminism diberi ruang untuk berbicara. Kendatipun hadirnya pada tahun 1960-an namun menjadi isu dalam pembangunan baru sekitar tahun 1970-an. Dalam rentetannya gerakan ini berdasakan berbagai sumber literatur dibagi dalam tiga tahapan.

Tahapan yang Pertama adalah antara tahun 1975-1985. Pada masa, ini hampir semua Lembaga Swadaya Masyarakat tidak menganggap masalah gender sebagai masalah penting. Justru banyak yang melakukan pelecehan. Mereka tidak menggunakan analisa gender sehingga reaksi terhadap masalah tersebut sering menimbulkan konflik antar aktivis perempuan dan lainnya. Bentuk perlawanan yang muncul terhadap gerakan feminisme adalah dengan mengemukakan alasan demi kelancaran proyek dari agenda utama program organisasi yang bersangkutan.

Selanjutnya adalah tahapan Kedua yang muncul pada pada periode 1985-1995, dimulailah tahapan pengenalan dan pemahaman dasar tentang apa yang dimaksud dengan analisis gender dan mengapa gender menjadi masalah pembangunan. Pada tahap kedua ini, kegiatan pelatihan yang bertujuan membangkitkan kepekaan terhadap isu gender meningkat. Pelatihan ini membantu menjelaskan pengertian dan isu gender sebenarnya. Berbagai LSM mulai menggunakan analisis gender dalam mengembangkan program-programnya.

Pada tahapan Ketiga adalah tahun 1995 hingga saat ini. Untuk mempertahankan apa yang telah dibangun pada dua tahapan sebelumnya, maka pada tahapan ini diterapkan dua strategi, yakni mengintegrasikan gender ke dalam seluruh kebijakan dan program berbagai organisasi dan lembaga pendidikan dan strategi advokasi. Untuk strategi pertama, diperlukan suatu tindakan yang diarahkan menuju terciptanya kebijakan manajemen dan keorganisasian yang memiliki perspektif gender bagi setiap organisasi. Sementara untuk strategi yang kedua, diperlukan suatu pengkajian terhadap letak akar persoalan ketidakadilan gender di negara dan masyarakat. Gerakan feminisme di Indonesia adalah gerakan transformasi perempuan untuk menciptakan hubungan antar sesama manusia yang secara fundamental baru, lebih baik, dan lebih adil. Hingga saat ini, dimana isu ini telah menjadi bagian dari fenomena dan dinamika sosial masyarakat Indonesia. Namun menariknya adalah posisi perempuan semakin membaik.

Kesempatan bagi mereka untuk aktualisasi diri juga semakin terbuka. Namun hal ini tidak berarti telah terkikis dan sinarnya persoalan kegenderan yang dihadapi oleh mereka. Persoalan tersebut pada umumnya berasal dari dua arah; dari luar(eksternal) dan dari dalam (internal). Problem eksternal, misalnya berupa masih kuatnya untuk tidak mengatakan masih ada reaksi kontra yang berbasis pada budaya patriarkis dari sebagian unsur masyarakat. Sementara problem internalnya adalah munculnya kegalauan dan kegamangan psikologis pada diri kaum perempuan itu sendiri ketika mereka mengaktualisasikan peran publiknya.

Hak dan mimpi para penggiat atau aktor feminis di Indonesia akhirnya menemui jawaban hangat ketika lengsernya Orde Baru yang juga melibatkan masyarakat kampus dimana diantara mereka ada beberapa yang lahir dan getol memperjuangkan nasib kaum perempuan di Indonesia. Pada 1998 udara segar terhirup karena harapan baru kesejahteraan kaum perempuan Indonesia telah terpampang di depan.

Antropolgi Sosial Budaya Indonesia dan Feminisme Indonesia

Angin segar mengabarkan kepada kaum perempuan Indonesia bahwa kemerdekaan dan emansipasi akan di raih dalam abad reformasi pasca lengsernya Presiden ke dua pada 1998. Hingga pemerintahan BJ. Habibi, Gus Dur hingga Indonesia teralih diatas pangkuan Ibunda Megawati Soekarno Putri. Disini semakin terlihat bahwa kaum perempuan adalah golongan yang layak di perhitungkan.

Namun impian – impian besar ini lagi – lagi tunduk dibawah pemahaman dan budaya masyarakat Indonesia yang masih kental dengan pemahaman budaya dan stigma tentang perempuan. Secara bentuk fisik seorang perempuan dalam tinjauan atropologi sosial dan budaya di Indonesia, perempuan dibatasi oleh dinding kokoh yang mengharuskan mereka untuk tetap tinggal dalam lingkaran belenggu paham masyarakat. Mereka dianggap kurang wajar ketika tampil sebagai sosok publik figur ataupun pemimpin dalam sebuah daerah.

Hingga saat ini jika berbicara tentang golongan perempuan maka lebih melekat pada hal – hal yang bersifat budaya dan penilaian turun temurun yang memperbolehkan perempuan bertindak dalam zona yang terbatas. Mayoritas masyarakat Indonesia beranggapan bahwa peran perempuan di Indonesia hanya sebatas dilahirkan, disekolahkan (tetap dalam pengawasan yang ketat), dinikahkan, mengurus suami, melayani suami, memasak di dapur, melahirkan anak, mengurus anak, mengurus segala kegiatan dalam rumah tangga hingga renta dan meninggal.

Dengan anggapan dan perlakuan seperti ini di lingkungan sosial dan masyarakat secara turun temurun. Maka akhirnya perempuan dianggap sebagai mahluk lemah yang perlu dilindungi oleh suami dan secara posisi ada beberapa golongan masyarakat di Indonesia menganggap posisi perempuan di rumah tangga ataupun di lingkungan sosial berada pada second possition alias posisi ke dua. Sungguh dalam keadaan seperti ini tentunya akan menjadi sebuah alasan yang jika dilihat kemungkinannya kedepan akan mengakibatkan gejolak perlawan yang luar biasa.

Hari ini kendatipun di ruang – ruang strategis dalam pemerintahan telah dilibatkan perempuan, namun posisi dan anggapan masyarakat masih tetap seperti sedia kala. Saahsatu contohnya yaitu ketika berbagai pandangan miring tentang seorang politisi perempuan Grace Natalie ketika menegemukakan bendapat di depan publik dengan gaya berbicara yang tidak kalah dahsyat dengan politisi laki - laki.

Anggapan miring tentang adanya emansipasi dan di jastifikasi dengan berbagai pendekatan adat dan budaya menjadi penghambat tumbuhnya gerakan feminisme di Indonesia. Kendatipun demikian, para aktivis perempuan dan pejuang hak – hak perempuan tetap berdiri dan menyuarakan keadilan atas perlakuan dan anggapan yang dalam tatanan sosial.

Penulis   : Damanhury Jab
Status     : Anggota PDPM Kota Kupang

Editor     : Redaksi