Tergerusnya Demokrasi di HIMAKOM UMM
Cari Berita

Advertisement

Tergerusnya Demokrasi di HIMAKOM UMM

16 Jul 2019

Ilustrasi Gambar

Indikatormalang.com - PEMIRA atau Pemilu Raya kampus diselenggarakan setiap 1 tahun sekali, dari tingakat jurusan, fakultas hingga universitas berbondong menyiapkan sosok yang akan dicalonkan. Seperti di Universitas Mahammadiyah Malang, terkhusus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pemira telah selesai dilaksanakan sejak tanggal 22 juni 2019 kemarin, dan telah ditentukan pemenang dari hasil suara terbesar. Ada yang terpilih karena mendapat suara terbanyak, ada yang terpilih karena berhasil mengumpulkan masa demi menghilangkan dominasi, ada pula yang terpilih secara aklamasi dikarenakan pada kubu tersebut dikenal sebagai mahasiswa anti omek-omek club.

Sungguh miris memang, kampus yang seharusnya dijadikan mahasiswa sebagai laboraturium belajar berpolitik malah mengartikan politik sebagai tindakan haram yang harus dihindari. Apa yang salah dengan berpolitik? Mereka mengaku tidak suka dengan politik dan lebih memilih untuk menjauhinya, (sungguh munafik). Aristoteles mengartikan politik sebagai usaha seseorang untuk mewujudkan kebaikan bersama, bukan semata mata demi meraih kekuasaan. Bagi beberapa mahasiswa yang menganggap politik dan organisasi ekstra hanya untuk meraih kekuasaan serta kumpulan orang yang gila jabatan, pemikiran itu terlalu sempit. Kalau kata si Minke, "Semua berpautan dengan politik, semua berjalan dengan organisasi. Apakah Tuan-Tuan kira petani buta huruf yang hanya mencangkul itu tidak mencampuri politik? Begitu ia menyerahkan sebagaian penghasilannya yang kecil itu kepada pemerintahan desa sebagai pajak, dia sudah berpolitik, karena dia membenarkan dan mengakui kekuasaan Gubermen. Atau, apakah yang Tuan-Tuan maksudkan dengan politik itu semua saja yang tidak menyengkan Gubermen, sedang yang menyenangkan bukan politik? Dan siapa kiranya yang dapat membebaskan diri dari organisasi? Begitu kelompok orang lebih dari dua pribadi, disitu organisasi timbul. Makin banyak jumlah orang itu makin pelik dan tinggi organisasinya."Jika Minke masih hidup kalian sudah di tempeleng dengan selopnya sembari memasang muka garang, mata merah lengkap dengan kumis tebal melengkung keatas.

Kembali pada permasalahan pemira. Pemira yang telah berhasil memunculkan sosok pemimpin HMJ dan BEM FISIP pada tanggal 22 Juni 2019 kemarin telah terbukti tidak ada kecurangan satupun. Bahkan calon yang tidak terpilih telah menerima hasil pemira dengan lapang dada. Namun ada yang janggal dengan salah satu HMJ yakni, HIMAKOM. Sudah lebih dari 2 minggu pemira diselenggarakan, bahkan beberapa HMJ telah tuntas membentuk struktur dan menyiapkan hari pelantikan, HIMAKOM masih mandek dan mengurusi masalah yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Bagaimana tidak, hanya karena HIMAKOM telah terbiasa dengan ketua himpunan yang ditunjuk langsung dan tidak pernah mencalonkan diri lewan jalur demokrasi, sekali ada yang mencalonkan lewat jalur demokrasi yakni melalui partai mahasiswa mereka langsung mengecam dan men-judge habis-habisan. Sosial media, yang dijadikan sebagai alat ajang nyinyiran mereka. Mereka berpikiran bahwa siapa saja yang menjadi ketua HIMAKOM harus dari golongan mereka, harus orang yang mereka kenal, dan tentunya pernah menjabat di HIMAKOM atau setidaknya pernah menjadi anggota muda. Padahal itu hanya masalah budaya yang dibuat-buat sendiri dan bukan berdasar pada peraturan pemira mengenai kriteria calon. Tidak hanya masyarakat Ilmu Komunikasi saja yang nyinyir akan tetapi Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi ikut pula memberi komentar ala netijen.

Jika ditinjau kembali, tidak adanya ketua HIMAKOM yang berasal dari partai mahasiswa dikarenakan banyak dari mahasiswa Ilmu Komunikasi yanh tidak suka dengan partai politik (lahh). Bahkan HIMAKOM telah menutup akses bagi mahasiswa yang berlatar belakang organisasi ekstra, memang benar adanya organisasi ekstra mengirim kader terbaiknya agar bisa berproses dalam lembaga intra yang mungkin nantinya bisa menjadi pemimpin di tataran tersebut. Namun, seperti yang disebutkan sebelumnya HIMAKOM tidak segan-segan untuk menolak mentah-mentah mahasiswa yang berlatar belakang organisasi ekstra untuk bergabung dan masuk dalam kepengurusan. Jadi kalau masih protes kenapa ada ketua himpunan yang berhasil terpilih tanpa menjadi anggota muda, jawabannya ada pada undang-undang tentang pemira yang telah susah payah SEMU buat dengan pertimbangan serta persertujuan dari Warek 3.

Penulis : Rafi
Editor    : Fitrah/INN
Redaksi: Fajar