Pemuda Radikal Itu Aidit
Cari Berita

Advertisement

Pemuda Radikal Itu Aidit

30 Jul 2019

Foto


“Demikianlah keadaan Indonesia sekarang, Indonesia setengah jajahan dan setengah feodal. Selama keadaan di Indonesia masih tetap tidak berubah, artinya selama kekuasaan imperialisme belum digulingkan dan sisa-sisa feodalisme belum dihapuskan, Rakyat Indonesia takkan mungkin bebas dari keadaan melarat, terbelakang dan pincang. Kekuasaan imperialisme dan sisa-sisa feodalisme tidak akan hapus selama kekuasaan negara di Indonesia ada di tangan tuan-tuan feodal dan komprador yang kepentingannya berhubungan erat dengan kapital asing, karena kekuasaan negara yang demikian mempertahankan penindasan imperialis dan sisa-sisa feodal di Indonesia.” ( Sumber : Menudju Indonesia Baru , D.N. Aidit. Pidato untuk memperingati ulang tahun PKI yang ke-33. Diucapkan pada malam tanggal 22 Mei 1953 di Gedung Kesenian, Jakarta).

Ahmad Aidit lahir pada tanggal 30 Juli 1923, di Tanjung Pandan, Belitung. Ahmad Aidit adalah anak pertama yang lahir dari pasangan Abdullah dan Nyi Ayu Mailan. Ahmad Aidit, begitulah Abdullah memberikan nama untuk putranya.

Menurut J.F. Tualaka dalam Buku Pintar Politik: Sejarah, Pemerintahan, dan Ketatanegaraan (2009), keluarga Abdullah amat terpandang di Belitung kendati termasuk pendatang. Leluhurnya berasal dari Agam, Sumatra Barat. Abdullah dikenal sebagai tokoh agama dan panutan masyarakat, juga mantri kehutanan. Ia pendiri organisasi Nurul Islam yang berorientasi kepada Muhammadiyah (hlm. 50).

Di lingkungan keluarga dan para sahabatnya, Ahmad dikenal sholeh, rajin ke masjid serta bocah yang pandai mengaji. “Bang Amat (Achmad) tamat mengaji, khatam Alquran. Kami semua khatam Alquran. Dan kalau perayaan khatam ini, kami bagaikan raja, dihormati dan dikendurikan.” Kisah Sobron Aidit, adik tiri Achmad, dalam buku Aidit: Abang, Sahabat, dan Guru di Masa Pergolakan (2003: 47).

Memasuki usia dewasa, Ahmad mulai merantau ke Jakarta dan masuk dalam kancah pergerakan. Pemikiran politiknya yang kritis digembleng dari asrama Mahasiswa menteng 31, markas para aktivis pemuda radikal kala itu. Pergaulan Ahmad semakin meluas, seiring dengan masuknya era pendudukan Jepang tahun 1942. Sosok Ahmad mulai berpengaruh dalam kancah pergerakan politik, ia mulai bertemu secara intentif dengan Bung Karno, Hatta, Ahmad Yamin, Adam Malik, Wikana, Chaerul Saleh, Sukarni dan sebagianya.

Kolonialisme membawa pengerauh besar terhadap alam pikiran Ahmad tentang nasionalisme, akhirnya ia berfikir untuk mengganti nama menjadi “ Dipa Nusantara Aidit” atau DN Aidit, menurutnya lebih Indonesia.

Perubahan nama DN Aidit, lalu mempertegas perubahan paradigmanya tentang dunia, terutama tentang kondisi bangsa Indonesia. Pemuda bernama D.N Aidit itu kian menggelora, semangatnya berkobar – kobar untuk berjuang melalui jalan politik revolusioner demi keberpihakannya membela kaum tertindas, buruh tani dan para pekerja.

Aidit seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), kendati ia mendukung manifesto  Marhaenisme Soekarno dan membiarkan partainya berkembang. Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKI, belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Sebagaimana dilansir dalam catatan sejarah, kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer. Berakhirnya sistem parlementer pada tahun 1957 semakin meningkatkan peranan PKI, karena kekuatan ekstra-parlementer mereka. Ditambah lagi karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.

Aidit adalah seorang pejuang revolusioner, keinginannya tak pernah terbendung untuk menuju revolusi Indonesia. Bagi kaum tani dan serikat buruh, Aidit dan PKI merupakan harapan besar bagi tercapainya cita - cita keadilan dan kesejahteraan masyarakat kecil di Indonesia.

Mengutip Istilah Gramsci, filsuf marxis Itali, tentang intelektual organik. Aidit adalah sosok intelektul organic,  pembaca, organistoris dan penganut paham Marxis – Komunis. Aidit menjadikan  Partai Komunis Indonesia sebagai alat revolusi rakyat, propaganda dan perlawanan politiknya semakin radikal demi menentang penindasan Nekolim.

Kesadaran tentang keadilan sosial membuatnya mengilhami sebuah semboyan pemberontakan terhadap kedzaliman dan kemungkaran, simbol pribadi muslim ia tampakkan melalui ekspresi politiknya, kendati usahanya tidak diinsafi benar oleh lawan politiknya sebagai iktiar panjang menegakkan “Amar makruf nahi munkar”.

Gerakan 30 September 1965 adalah akhir dari perjuangan politik Aidit dan PKI, terlepas dengan tafsiran sejarah dua blok kekuatan besar. Aidit dikabarkan tertangkap oleh batalyon Kostrad Boyolali, ia meninggal di Boyolali, Jawa Tengah , 22 November 1965 di usia 42 tahun, Aidit di eksekusi mati dan jasadnya belum ditemukan sampai sekarang.

Penulis  : Irvan Efendi
Editor    : Jab
Pemred :