“Revitalisasi Pendidikan Karakter Menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045”
Cari Berita

Advertisement

“Revitalisasi Pendidikan Karakter Menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045”

3 Jun 2019

Foto Penulis

Indikatormalang.com - Dewasa ini beberapa pendapat bermunculan terkait bonus demografi yang dikatakan sebagai peluang Indonesia untuk mencapai pada puncak kejayaannya yaitu tepatnya pada tahun 2020 sampai 2030. Menurut United Nations transisi demografi yang terjadi pada beberapa dekade terakhir di Indonesia akan membuka peluang bagi Indonesia. Bonus Demografi dapat diartikan sebagai sebuah rasio kependudukan yang menggambarkan keuntungan. Hal itu karena melihat perbandingan jumlah penduduk usia nonproduktif (kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun) lebih sedikit dibandingkan dengan penduduk usia produktif (15 hingga 64 tahun). Bonus demografi diharapkan menjadi modal bagi negeri ini sehingga generasi sekarang merupakan generasi emas pada tahun 2045 yang merupakan generasi cemerlang, potensial, produktif, literat, kompeten, berkarakter, dan kompetitif. Salah satu upaya yang paling krusial untuk mewujudkan bonus demografi menjadi generasi emas tahun 2045 adalah melalui pendidikan.

Bertolak pada penjelasan di atas praktis penulis mengartikan bahwa pada saat tersebut segala lini sistem Negara Indonesia akan diisi oleh bangsa yang berusia produktif, sehingga penulis beranggapan bahwa perlu adanya persiapan yang matang untuk mempersiapkan generasi muda yang pada saat ini dihadapkan dalam krisis moral dan disis lain disiapkan untuk situasi mendatang terutama dalam menyiapkan calon generasi emas tahun 2045. Apabila kita tarik dalam dunia pendidikan, bonus demografi adalah suatu tantangan besar bagi pendidikan Nasional, karena pendidikan merupakan proses awal dalam pembuatan pijakan pembangunan untuk menghadapi situasi tersebut.

Pendidikan merupakan persoalan yang paling strategis bagi kehidupan manusia baik dalam perspektif individu, masyarakat dan bangsa. Pendidikan juga diartikan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan yang bisa digunakan untuk mengubah dunia. Menurut Bukhori sebagaimana dikutip Trianto dalam bukunya Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktifistik, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk suatu profesi atau jabatan saja, akan tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Adapun dalam pasal 3 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan menjelaskan bahwa pendidikan berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak sserta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk itu diperlukan upaya dan strategi yang sesuai agar masyarakat Indonesia tetap dapat menjaga nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa serta generasi tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia dalam merespon situasi tersebut.

Berdasarkan pemaparan di atas, dari hemat penulis kiranya revitalisasi pendidikan sangat diperlukan khususnya dalam membangun karakter bangsa karena hal tersebut merupakan kebutuhan yang asasi dalam berbangsa. Pendidikan karakter kiranya sangat tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut khususnya dalam menyongsong bonus generasi emas Indonesia tahun 2045, karena pendidikan karakter tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif saja, akan tetapi lebih berorientasi pada proses pembinaan potensi yang ada dalam diri peserta didik, dikembangkan melalui pembiasaan sifat-sifat baik yaitu berupa pengajaran nilai-nilai karakter yang baik. Donie Koesoema mengungkapkan bahwa pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri.

Penguatan pendidikan karakter (character education) atau sering disebut pendidikan moral (moral education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.

Pendidkan karakter juga dikatakan sejalan dengan visi pendidkan nasional yang ingin menyelaraskan olah hati/qolbun (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestik). Keberhasilan keseluruhan olah ini akan dicapai apabila ketiga pusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat) saling bahu membahu untuk mensukseskanya. Pendidikan karakter menjadi kunci terpenting kebangkitan bangsa Indonesia dari keterpurukan untuk menyongsong datangnya peradaban baru. Pentingnya pendidikan karakter untuk segera dikembangkan dan diinternalisasikan khususnya di Indonesia, baik dalam dunia pendidikan formal maupun dalam pendidikan non formal tentu beralasan, karena memiliki tujuan yang cukup mulia bagi bekal kehidupan generasi muda agar senantiasa siap dalam merespon segala dinamika kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Pendidikan karakter sangat penting  untuk pembangun bangsa dan menjadikan bangsa beradab karena dalam pendidikan karakter diajarkan bagaimana untuk menjadi seorang yang berbudaya. Pendidikan karakter juga diperlukan untuk menumbuhkan watak bangsa yang bisa dikenali secara jelas, yang membedakan diri dengan bangsa lainnya, dan ini diperlukan untuk menghadapi situasi zaman yang terus berkembang.

Berdasarkan pemaparan diatas, penulis beranggapan bahwa pendidikan karakter murapakan konsep pendidikan yang solutif bagi indonesia kedepan, yang nantinya dapat pula dijadikan sebagai pijakan untuk mempersiapkan generasi emas tahun 2045 tepatnya satu abad usia Indonesia.

(2. Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktifistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), hlm. 1.
3.  Lihat, Permendikbud, Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
4.  Doni Koesoema, loc.cit, hlm. 194.  )

Penulis    : Haziz Hidayat
Status      : Mahasiswa  Program Studi Ekonomi syariah, Universitas Muhammadyah Malang
Editor       : Jab