Pergerakan Mahasiswa
Cari Berita

Advertisement

Pergerakan Mahasiswa

15 Mei 2019

Foto Penulis/Docprib

Regulasi kampus sebagai bunga untuk budidaya kupu-kupu (kuliah pulang”)

Indikatoralor.com - Indonesia merupakan sebuah negara yang terkenal akan kekayaannya, baik kekayaan alamnya bahkan kekayaan historinya. Kekayaan histori bangsa ini diperindah dengan perlawanan rakyat Indonesia terhadap imperialisme, dan makin dipercantik lagi dengan perlawanan rakyat Indonesia terhadap bangsanya sendiri. Perubahan subjek perlawanan rakyat Indonesia, sebenarnya telah diprediksi oleh Founding Father republic ini, yang diyakininya akan menjadi masalah yang sulit untuk dihadapi oleh bangsa Indonesia.

17 agustus 1945 sejatinya bukan merupakan hari kemerdekaan, melainkan hari pergantian perlawanan rakyat Indonesia. Peristiwa-peristiwa pergerakan rakyat yang selalu ditemani dan dikawal oleh mahasiswa dalam melawan kedzoliman-kedzoliman para petinggi negara yang membunuh hak-hak rakyat telah terjadi sejak tahun 1974, 1977, 1978, 1990, hingga 1998. Pergerakan-pergerakan ini secara garis besar dilatar belakangi oleh kalangan-kalangan mahasiswa yang peduli akan kondisi rakyat Indonesia, dan semata-mata untuk kepentingan rakyat Indonesia pula.

Menarik benang merah dari beberapa pergolakan yang terjadi untuk mengawal kepentingan rakyat dalam menumbangkan borjuis-borjuis yang menginjak hak-hak rakyat, mahasiswa selalu menjadi ujung tombak dari pergerakan. Sehingga, hal ini menjadi sebuah ancaman bagi para penjilat hak-hak rakyat, maka dari itu tajamnya tombak dari pergerakan makin hari makin dipertumpul oleh mereka yang merasa terancam. Lebih parahnya lagi, penumpulan ujug tombak ini dilakukan dengan sangat halus bahkan bisa dikatakan di bawah kesadaran dari mahasiswa.

Terbitnya regulasi-regulasi yang dikatanya ditujukan untuk peningkatan kualitas pendidikan hanyalah menjadi sebuah alibi untuk membangun hegemoni dalam mempertahankan dinasti. Dalam undang-undang pendidikan nomor 12 tahun 2012 yang mematok batas maksimal paling lama 7 tahun untuk program sarjana, bahkan di beberapa perguruan tinggi yang membatasi program sarjana hanya 5 tahun. Kemudian keputusan dirjen pendidikan tinggi nomor 26 tahun 2002 tentang pelarangan organisasi mahasiswa ekstra kampus untuk masuk kedalam lingkungan kampus. Dan tidak hanya itu sebagian besar universitas di Indonesia juga telah membuat regulasi batasan aktivitas di kampus maksimal hingga pukul 22.00.

Para mahasiswa dibuat menjadi budakers dari IPK 4 yang disibukan dengan tugas-tugas dan ancaman dari batas kelulusan. Pembangunan benih-benih pemikiran pembawa kepentingan rakyat sedikit demi sedikit dicederai dengan regulasi pembatasan organisasi mahasiswa ekstra kampus. Pergerakan-pergerakan pengawalan terhadap dinasti penjilat hak-hak rakyat perlahan-lahan juga dikuliti dengan regulasi pembatasan aktivitas di kampus. Inilah bentuk-bentuk hegemoni-hegemoni yang diciptakan untuk meninabobokan tiga peran mahasiswa.

Tanpa sadar mahasiswa dijadikan budak dari nilai A dan para majikan-majikan makin berulah untuk memperbesar dinastinya. Kasibukan-kesibukan kampus yang semakin tinggi membuat mahasiswa lupa akan perannya sebagai agen of control. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan banyaknya tuntutan kampus membuat mahasiswa hanya terfokus pada perkuliahan saja sehingga menjadi mahasiswa kupu-kupu.

Akibatnya mahasiswa-mahasiswi mulai kehilangan kendali akibat dari hegemoni ini, hal ini dibuktikan dengan terjadinya penurunan tingkat mahasiswa yang sadar akan keadaan  dan mau terlibat di dalam pengembangan diri untuk membangun pemikiran-pemikiran kritis di organisasi mahasiswa ekstra kampus.

Menyakitkan memang, dengan banyaknya mahasiswa yang terjebak dalam zona nyaman regulasi ini. Namun yang perlu diperhatikan adalah lahirnya masalah di atas masalah, bahwasanya ketika ada mahasiswa yang menyadari hal ini akan tetapi, tetap menikmati kenyamanan yang ada, dan itulah sebenarnya titik dari permasalahan. Sulit memang untuk mengawal regulasi yang sejatinya adalah pembudidayaan kupu-kupu, tapi akan lebih sulit lagi bagi mereka untuk keluar dari jebakan zona nyaman ini.

Penulis : Ilham Bin Yasin
Status   : Ketua Bidang KKI HPMIG Cabang Malang
Editor   : INN