Hubungan Sosial Perspektif Islam Menghadapi Fenomena Intoleransi
Cari Berita

Advertisement

Hubungan Sosial Perspektif Islam Menghadapi Fenomena Intoleransi

22 Mar 2019

Foto Penulis (Nurfitri Rahmawati Date)

Indikatormalang.com - Merupakan sebuah karunia terbesar dengan lahirnya cucu Abdul Muthalib sang penguasa kota Makkah dari suku Quraisy. Ketika awan hitam pekat terbentang diatas langit kota Makkah dan seluruh muka bumi, Allah SWT menurunkan kepada mereka seorang anak yatim yang dalam dirinya diberikan berbagai sifat – sifat kepemimpinan.

Dialah Rasulullah Muhammad SAW pemimpin yang tangguh di medan pertempuran Intelektual serta pertempuran bersenjata, Nabi dan Rasul terakhir yang Allah turunkan untuk membawa ummat manusia yang tengah berada dalam kegelapan dan berjalan menuju pada cahaya yang terang benderang. Dengan berpedoman pada Kitabullah yakni Al –Qur’an kitab yang diturunkan sebagai pelengkap dari kitab – kitab Samawi yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelumnya.

Seiring bergulirnya waktu, Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW kini semakin berkembang dan menjadi salahsatu agama terbesar di muka bumi. Mulai dari kutub utara hingga kutub selatan, ummat manusia berbondong – bondong masuk dalam agama yang dikenal sebagai agama yang penuh dengan kedamaian serta ajaran yang paling sempurnah di antara ajaran agama lain di muka bumi.

Sejarah mencatat, tidak sedikit pemikiran – pemikiran cendikiawan Islam memberikan peranan penting dalam peradaban Ilmu pengetahuan di dunia dan hingga saat ini pemikiran – pemikan tersebut tetap saja digunakan. Diantara cendikiawan – cendikiawan Islam ini adalah Ibnu Sina, Al Farabi, Al Jabar dan beberapa cendikiawan Islam lainnya. Demikian eksistensi Islam di mata dunia.

Islam dan Hubungan Sosial

Hubungan sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelak unya lebih dari satu. Individu dengan individu. Individu dengan kelompok. Kelompok dengan kelompok dll.

Dalam Islam, Hubungan Sosial disebut dengan istilah hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia), pengertiannya juga tidak berbeda dengan pengertian hubungan sosial diatas, yaitu hubungan dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Contohya, Saling sapa, berjabat tangan, silaturrahim, solidaritas sosial, ukwah islamiah  dan lai-lain. Interaksi sosial tidak hanya terjadi dikalangan komunitas atau suatu kelompok saja tetapi juga diluar komunitasnya.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hubungan sosial atau ukhuwah dan menentang perpecahan dan pertumpahan darah. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah perdamaian kaum Muhajirin dan Ansor serta yang tertera dalam piagam madinah yang menyebutkan bahwa Ka’bah adalah rumah bagi seluruh ummat manusia.

Mengacu pada kisah perdamaian Muhajirin dan Ansor Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri tauladan serta inspirator ummat Islam harus mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah karna dalam sabda Rasulullah berbunyi “Barang siapa yang tidak mengikuti ajaranku, maka dia bukan ummatku”.

Fenomena Intoleransi

Memasuki abad ke 21 pergeseran dan pengkultusan nilai – nilai keislaman di muka bumi (Dunia) berada pada fase yang mengundang dilema. Manufer – manufer isu yang mengatasnamakan agama kerapkali menghiasi media informasi baik itu televisi maupun media cetak. Tentu hal ini memberikan dampak yang kurang baik bagi hubungan antar agama termasuk di Indonesia.

Islamophobia atau Pobia Islam menjaladi hal yang marak dijumpai di beberapa negara di berbagai belahan Bumi. Misalkan Amerika Serikat, Diskriminasi terhadap kaum muslim disana menjadi hal yang mengundang pilu bagi kaum muslim di seluruh belahan bumi ataupun pembantaian ethnis uyghur di Cina serta Genosida Rohingya.

Hal diatas bukan hanya sekedar gerakan tanpa sebab namun ini ada kaitannya dengan Islamophibia dilatar belakangi oleh gerakan – gerakan sekelompok orang yang mengakui dirinya Islam dan melakukan pembantaian tanpa ampun serta merenggut nyawa – nyawa tidak berdosa.

Di Nigeria ada sebuah gerakan radikal yang bernama Boko Haram dibawah pimpinan Abubakar Sekhau menjadi pelopor daripada pembantaian ummat manusia dengan mengatas namakan Jihad, sementara itu ISIS (Islamic State Irak and Suriah) Negara Islam Irak dan As-Syam di bawah pimpinan Abu Bakr Al – Baghdadi dianggap oleh komisi penyelidikan Suriah PBB  pada November 2014 menyatakan kepada Dunia bahwa ISIS telah melakukan pelanggaran kemanusiaan.

Terorisme memang merupakan tindakan yang nyata hari ini dan telah terjadi di Indonesia termasuk di wilayah Jawa timur yakni Kota Surabaya dan sekitarnya. Namun yang menjadi perdebatan di masyarakat hingga kerap kali memunculkan pandangan yang saling bertentangan yaitu apakah tindakan ini dilakukan oleh kelompok agama ataukah ini sebuah skenario yang dilakukan oleh negara.

Selain itu, fenomena Intoleransi ini tengah menjalar sejak lama di Indonesia tidak terkecuali di Malang Raya. Jika kita cermati secara saksama, bagi para mahasiswa yang notabenennya merupakan anak Indekost “Terima Kost Putra/Putri Muslim” adalah bukti daripada hilangnya sikap toleransi antar sesama masyarakat Indonesia telah hilang terkikis zaman.

Perlu kita ketahui bersama bahwa, Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta tanah air adalah bagian dari Iman) merupakan sebuah semangat yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Ashari kepada masyrakat Jawa Timur dalam melawan penindasan kaum penjajah pada 10 November 1945 di Surabaya . Hubbul Wathon (Cinta Tanah Air) selain untuk berperang melawan penajajah bangsa juga harusnya menjadi acuan daripada persatuan seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang tertera dalam sila ke 3 Pancasila “Persatuan Indonesia”.

Peranan Islam Dalam Menghancurkan Intoleransi

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung – burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat – umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan dia dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (Qs. Al – An’am 6:38)”
Seorang hamba tidak dapat mencapai hakikat Iman, hingga ia mencintai kebaikan untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya (HR. Ahmad, Ibnu Hiban dan Abu Ya’la)

Islam merupakan Agama yang mengatur berbagai hal dalam kehidupan baik umat manusia hingga pada makhluk hidup yang ada di muka bumi. Sebagai Agama yang membawa manusia dari hitam pekatnya kegelapan dan dengan petunjukNya menusia dan seluruh makhluk hidup dibawa pada cahaya yang terang benderang, Islam menjadi jawaban terbaik dan solusi terkongkrit bagi setiap permasalahan di muka bumi salahsatunya adalah masalah Intoleran.

Manusia adalah makhluk sosial atau mahluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada orang lain. Seorang manusia tidak akan tenang hidupnya jika tidak pernah berinteraksi dengan manusia lain karna berdasarkan kisah Adam ‘Alaihissalam tidak dapat hidup menyendiri maka diciptakanlah Siti Hawa untuk menjadi temannya.

Agama Islam merupakan agama yang didalamnya mengajarkan akan perdamaian dan keharmonisan antar sesama. (Ukhuwah Insaniyah, Ukhuwah Wathoniah dan Ukhuwah Islamiyah) merupakan kunci bagi umat manusia untuk menghancurkan sikap dan praktik intoleran di Muka Bumi. Ukhuwah Insaniyah mengajarkan kita untuk selalu menghargai dan salin menyayangi sesama insan ciptaan Allah. Ukhuwah Wathoniyah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya hidup berdampingan dan menghargai sebagai saudara sebangsa. Kemudian Ukhuwah Islamiyah mengajarkan kita bagaimana caranya hidup dan saling menghormati sebagai saudara seiman dan seagama.

Dengan berpedoman pada Tiga Ukhuwah ini,  Insya Allah berbagai persoalan yang menjadi pemecah belah dan sifat – sifat Intoleran di muka bumi ini mampu teratasi. Semoga dengan tulisan ini dapat menjadi salahsatu rekomendasi terbaik dalam mengatasi persoalan yang terjadi di Negeri ini atau bahkan di muka bumi.

Penulis: Nurfitri Rahmawati Date
Status  : Kader HMI Komisariat FAI UMM / Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Angakatan 2018 UMM.
Editor   : DJ