E-Voting: Ada Kuda Troya di UIN Jakarta
Cari Berita

Advertisement

E-Voting: Ada Kuda Troya di UIN Jakarta

23 Mar 2019


www.google.com

Indikatormalang.com - Siapa yang bersembunyi dibalik Pemira UIN Jakarta, hingga gaduh dan mahasiswa saling baku hantam di wilayah sumir tersebut. Tulisan ini ditulis tidak lebih dari sekedar kritik saran kepada pemangku jabatan teratas si UIN Jakarta.  Laksana sebuah peperangan musiman, pemira memang menyediakan banyak gulat menguras dahaga dan pikiran. Akhir dari drama 19 Maret 2019 melahirkan catatan cacat luar biasa.

Kemana pulangnya akal sehat dan minimnya berkaca pada peristiwa lainnya oleh para pejabat kampus setingkat “teras atas”, sehingga e-voting menjadi pilihan dalam demokrasi kampus. UIN Jakarta bak iklan minyak telon “Buat UIN, kok coba-coba,”. Sejak mendengar kata e-voting,  penulis langsung teringat bagaimana negara bapak demokrasi Amerika Serikat saja pada tahun 2017 sudah meninggalkan sistem yang banyak menguras anggaran tersebut.  Hampir 70%  warganya kembali memilih dengan cara lama. Negara tersebut sudah kehilangan hampir US$3 juta pada 2014 untuk perawatan sistem dan enskripsi data suara yang hilang dibajak.

Alih-alih sistem politik moderen, UIN Jakarta nampaknya tidak berkaca bahwa niat irit bin efisien bukan satu-satunya substansi dalam pendidikan demokrasi kampus saat ini. Ada sekitar 20 ribuan mahasiswa UIN Jakarta diharuskan memilih dengan sistem yang masih apa adanya. Pihak rektorat memasrahkan saja bagaimana sistem bekerja, mereka lupa bahwa politik bukan mesin matematis yang berakhir dengan angka.

Sudah tentu anak baru (e-voting) itu membawa masalah. Bukan saja karena aplikasi berkerja seperti mesin hantu dan menujuk calon tertentu, tetapi mengalirkan wacana baru ke pihak jajaran rektorat. E-voting menggugurkan kepercayaan kepada rektor Amany Lubis baru saja merapihkan kursi kerjanya. Rektor perempuan satu-satunya ini dianggap “buta” budaya berdemokrasi  di UIN Jakarta. Bu rektor tidak tahu bahwa penemuannya (e-voting) tersebut sejatinya sudah memenuhi ruang curiga kepala mahasiswanya. Kenapa sistem e-voting seolah menjadi mesin sosial yang punya rasa kecenderungan adil dan tidak adil? Lalu kenapa seolah para jajaran baru rektorat yang baru dilantik itu tidak sama sekali memberikan komentar?

Bukan soal hasil dari pemilihan sistem e-voting saja yang membuat tahun politik mahasiswa kemarin seakan jadi misteri. Sebelum pemira dimulai, teras atas masih saling sikut lobi-lobi untuk kursi UIN-1. Sebagaimana mengejutkannya hasil pemira, sosok calon yang diunggulkan tiba-tiba tidak jadi dilantik. Di sini penulis mulai mencari banyak informasi, betapa mulusnya pemilihan rektor UIN Jakarta itu. Yang paling mengesankan Rektor langsung menerbitkan aturan model NKK-BKK mirip Orba. Seolah-olah kampus sudah tidak tertib dan ruang-ruang non-akademis tidak kontributif.

Kembali ke e-voting, sistem ini merupakan kelanjutan dari pendekatan kepemimpinan pejabat rektorat baru yang semakin tidak akomodatif dengan saran dan budaya mahasiswa. Dan lagi-lagi berjalan dengan mulus. Luar biasa! Penulis teringat Perang Kuda Troya, perang Yunani Kuno dengan teknik perang menyusup lewat patung kuda dengan upaya memenangkan dan mengakhiri perang setelah 10 tahun “gagal” mendapatkan “kemenangan”. Ada beberapa kemungkinan yang menjadi pertanyaan mendalam.

Pertama, sistem e-voting di pemira UIN Jakarta dipilih secara mendesak dan seolah-seolah mahasiswa sudah terkonsolidasikan secara merata.

Kedua, sistem e-voting merupakan sistem yang ditekan ke beberapa pihak perwakilan dengan beralasan efisiensi “anggaran”.

Ketiga, matinya cara berpikir KPU UIN Jakarta dalam melakukan peninjauan secara kritis dan seolah mengayun saja terhadap kemauan ide pihak petinggi kampus.

Keempat, respon petinggi kampus terlihat normatif dan seolah saling lempar wewenang antara penyelenggara pemilihan serta perserta pemilih.

Lalu Siapa yang naik dan masuk “Kuda Troya”?

Demonstrasi mahasiswa yang duduk di halaman rektorat terbelah dua namun menunjukkan posisi sebenarnya. Hasil pemira yang seolah biji kacang berbuah tomat itu, penuh intrik dan kecurangan. Tapi siapa? Apakah orang yang dengan sengaja membuat e-voting mulus dengan agenda-agenda tersebunyi. Beberapa fakultas mengalami peralihan kepemimpinan yang cukup menarik, dominasi sektoral berubah hegemoni hampir sempurna. Suara pemilih tidak memiliki pertanggungjawaban oleh sistem dan penanggung jawabnya. Kenapa jumlah suara tidak sama dengan hasil.

Kennedy bilang tempat menyembunyikan rahasia terbaik ialah “Ruang Publik”. Dua pemira UIN Jakarta sebelumnya, kalah atau menang kubu-kubu politik mahasiswa masih saling berargumen dan melakukan tuntutan kepada KPU UIN Jakarta atas temuan mereka masing-masing. Kali ini, suara kritik itu hanya berjalan sebelah saja. Lalu yang lainnya melangkah kemana dan seolah biasa-biasa?

Pemira kali ini bukan soal rancunya e-voting tetapi kita harus menyingkap lebih dalam siapa, apa, dan kenapa motif e-voting dibuat? Pelanggengan kah? Atau pondasi baru untuk membuat merit sistem baru  yang lebih mengakar dan terkonsolidasikan. Ingat, ada Kuda Troya sedang bejalan memasuki kota (UIN Jakarta).


Penulis  : Amaz Alfatih (Mahasiswa UIN Jakarta)
Editor   : De Rantau