Ada Air Mata Di Kaki Mahameru
Cari Berita

Advertisement

Ada Air Mata Di Kaki Mahameru

BUNG MERAH
8 Mar 2019

Source: https:malangtoday.net

Tulisan ini merupakan sebuah perenungan setelah menjadi surveyor di Kabupaten Malang, Kecamatan Ampelgading, Desa Sidorenggo. (Perbatasan Malang - Lumajang)

Indikatormalang.com - Sebagai Negara yang di anggap kaya sudah tentu Indonesia menjadi salah satu kawasan yang cukup memikat. Terbentang ditengah garis katulistiwa dengan hamparan gugusan pulau - pulau Indah dipandang mata.

Inilah Indonesia mereka. Negeri kaya yang katanya berisikan rakyat - rakyat yang sejahtera beserta generasi - generasi yang juga katanya memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin Dunia "meskipun gambaran kata ini hanyalah Ilusi, fiksi dan bertolak belakang dengan realitas".

Terletak di pojok Kabupaten Malang di bawa kaki Gunung Semeru, warisan penderitaan bersarang mengundang jutaan mata terus meneteskan duka. Duka - duka ini terus menjulang hingga Puncak Mahamerupun tunduk di bawah terjangan nada tangis yang tak kunjung redah.

Adalah petani salak yang keringatnya seakan sia - sia dengan hasil jerih payahnya. Tak sepadan, tak sebanding berhari - hari menghibahkan waktu dibawah terik matahari harus berujung dengan penghasilan yang sungguh memiriskan.

Tepatnya di Sidorenggo Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Harga salak dijual dengan 2.500 (Dua Ribu Lima Ratus Rupiah) per Kilogram. Padahal dalam merawat sejak tunas hingga tumbuh, beebuah dan bisa dipasarkan, para petani harus rela makan seadanya demi dapat menyisihkan sedikit rezeki untuk membeli pupuk.

Solusi baik dari Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kecamatan atupun bahkan Pemerintah Desa-pun tak kunjung datang. Sementara itu depresi dan putus harapan menjadi kawan hingga tidak sedikit kepala keluarga yang ambil keputusan untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) karna bergantung hidup sebagai petani salak adalah sia - sia.

Benarkah kesejahteraan itu masih ada? Benarkah harapan itu masih ada? Dalam benak sang petani salak terbungkus tanya yang disimpan rapat - rapat pada pojok hatinya. Lantas, Pemuda harapan bangsa yang juga menjadi harapan terakhir ketika sang pemimpin tak lagi perduli kini kemana?

Apakah Mobile legend dan PubG telah menjadi tuhan mereka dan negara baru mereka?

WS Rendra dalam sajaknya yang berjudul sebatang Lisong berkata
"Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata"
Di sini kenyataannya dan di sini pula militansimu diuji. Diam ataupun bergerak adalah pilihanmu. Namun, Diammu adalah Bom waktu bagi mereka yang haknya dirampas.

Abadi Perjuangan !!!

Penulis   : Damanhury Jab
Editor     : Redaksi
Gambar  : Malang Today