Estetika Institute: Perempuan Harus Memiliki Kapabilitas Politik Jika Tidak Mau Terjebak Wacana Politik Dinasti
Cari Berita

Advertisement

Estetika Institute: Perempuan Harus Memiliki Kapabilitas Politik Jika Tidak Mau Terjebak Wacana Politik Dinasti

18 Feb 2019


doc.pribadi

Indikatormalang.com -Politik dinasti masih dianggap sebagai penghambat prosesn demokrasi yang luas dan terbuka. Artinya sangat terbuka ruang partisipasi bagi seluruh masyarakat untuk ikut berkontestasi memperebutkan jabatan-jabatan politik mulai dari level regional hingga nasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kenyataannya, masyarakat masih terhalang oleh status atau hak-hak sosialnya sebagai akibat dari adanya fenomena dinasti politik.

Mengingat pemilu serentak 2019 nanti, kehadiran perempuan anggota keluarga dari kalangan tokoh politik lama seringkali dianggap sebagai fenomena yang menarik. Terlebih lagi soal kemampuan dan pengalaman yang dimiliki sosok perempuan tersebut. Estetika Institute mengadakan kajian “Perempuan dan Politik Dinasti” dalam membedah lebih dalam fenomena tersebut. Menhadirkan Aneta Komarudin calon DPR RI dari fraksi Golkar serta Aditya Perdana Direktur  PUSKAPOL UI. Senin, (18/2).

Estetika Handayani Direktur Estetika Institute mengatakan memang selama ini perempuan masih sulit dalam memperoleh posisi politik yang meyakinkan. Terlebih lagi, pada saat wacana dinasti politik juga bisa dianggap penghambat demokrasi, padahal mungkin hal itu merupakan salah satu kesempatan bagi kalangan perempuan untuk memiliki peran aktif dalam panggung politik sebenarnya.

“Politik dinasti memang terasa menyulitkan demokrasi yang adil, tetapi jika kita kenal dan tahu calon yang kita pilih berdasarkan rekam jejaknya, mungkin itu bisa jadi alternatif lain," katanya.

Menurut penelitian PUSKAPOL UI, ada 4,774 caleg laki-laki dan 3,194 caleg perempuan perbandingan ini tidak seimbang. Sekalipun ada keuntungan dengan membuka kesempatan kepada caleg perempuan dengan berbagai peluang yang ada; mendorong keterpilihan jumlah perempuan yang lebih besar. Walaupun ada Kerugian lain yakni tidak sesuai dengan harapan publik; kiprah caleg terpilih dipertanyakan.

Estetika menjelaskan, memang dengan kebutuha peran perempuan dalam panggung politik sangat dibutuhkan, maka dari itu, wacana dinasti politik yang melibatkan anggota keluarga bisa mudah jika perempuan yang mencalonkan diri memiliki kapabilitas dan pelajaran dari mentor politiknya.

“Yang paling penting kita mesti mendorong agar peremupuan dalam klan keluarga tertentu dalam penccalonannya cerdas, punya kepekaan sosial, serta memberikan banyak solusi dalam pemecahan masalah bangsa,” tegasnya.

Berdasarkan dasata sebelumnya, fenomena politik dinasti dalam Pilkada Serentak yang akan digelar pada 15 Februari 2017 mendatang. Sebanyak 12 calon kepala daerah yang berkontestasi di 11 daerah diketahui berasal dari dinasti politik yang telah terbangun di daerahnya masing-masing, dari aktor-aktor politik tersebut perempuan masuk sebagai aktor penting yang ikut menjalankan aras politik lokal dan dinastinya. [Dr]