Estetika Institute: Gerakan Politik Milenial Abai Wacana Keperempuanan
Cari Berita

Advertisement

Estetika Institute: Gerakan Politik Milenial Abai Wacana Keperempuanan

2 Feb 2019

doc.pribadi

Indikatormalang.com - Sejumlah kelompok relawan milenial mulai banyak membentuk diri dan menyatakan dukungannya terhadap pasangan calon presiden dalam pemilu 2019 nanti. Tak ayal, keberadaan peran kalangan milenial dalam pusaran politik praktis perlu ditelisik agenda perjuangannya.

Estetika Handayani Direktur Estetika Institute menjelaskan, gerakan politik milenial juga perlu terbuka apa agendanya dan gagasannya, secara khusus memang belum ada ide-ide terkait sensitif gender yang maupun agenda politik keperempuanan yang justeru semakin marak belakangan.

“Gerakan milenial jangan hanya jadi mesin partai atau paslon, mereka juga harus punya titik tekan kepada wacana sensitif seperti politik perempuan,” tegasnya dalam sebuah kesempatan dalam diskusi bulanan yang diadakan Estetika Institute, bertempat di Yello Hotel Manggarai, Jumat (01/01).

Berdasarkan data dari KPU RI jumlah milenial yang berkontestasi sekitar 40 persen atau sekital 80 juta dari total 196,5 juta pemilih pada pilpres 2019 nanti. Jumlah meraka menjadi rebutan paslon karena dianggap menjadi salah satu suara penentu.

Estetika menambahkan sejumlah kelompok milenial yang berpatronase langsung dengan paslon capres cenderung abai dan hanya fokus kepada cara menaikkan citra untuk elektabilitas. Padahal, harapan pada kelompok milenial besar sekali untuk memberikan perimbangan gagasan dengan lebih menyeru kepada hal-hal yang substantif.

“Milenial jangan sampai mempertegas diri sebagai floating vote (suara mengambang), jika tak ada agenda perjuangan atas keberpihakan perjuangan keperempuanan,” tegasnya .

Turut hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut M. Pradana Indraputra (Koordinator KitaSatu), Tengku Rizki Aljupri (Jubir Gerakan Milenial Indonesia),  dan Okky Tirto (Direktur Tirto Institute.(Dr)