Milenial Politik vs Politik Milenial
Cari Berita

Advertisement

Milenial Politik vs Politik Milenial

24 Jan 2019


www.merdeka.com


Indikatormalang.com - Gelora politik millenial mendapatkan panggung  luar biasa pada pentas politik 2019. Dari semua lapisan politik pada pemilu 2019 nanti adu strategi menggaet suara anak millenial menjadi target utama yang tak bisa dipungkiri. Adu menempelkan stigma calon presiden dan wakil presiden dalam membangun citra anak muda dalam dirinya terus meningkat dari hari ke hari. Di mulai dari Presdiden Jokowi menaiki motor ala Stuntmen pada Asiang Games 2018 kemaren. Politisi dari oposisi mengkritik aksi tersebut sebagai motivasi politik. tindakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan citra Jokowi, khususnya di kalangan pemilih muda (milenium), dalam upaya pemilihan ulangnya.
Menariknya, segera setelah pencalonan presiden dan wakil presiden resmi pada 10 Agustus 2018 wacana tentang pemilih milenial muncul ke permukaan. Dalam konteks itu, penunjukan mengejutkan ulama Muslim 75 tahun Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden Jokowi tampaknya tidak memenuhi harapan milenium, sementara 49 tahun pengusaha Sandiaga Salahuddin Uno sebagai wakil Prabowo Subianto tampaknya lebih menarik bagi pemilih milenial untuk menjadi terkenal sebagai pelari maraton yang rajin dan pebisnis sukses yang berpendidikan AS.

Karena milenial terdiri sekitar 40 persen atau 80 juta dari total 196,5 juta pemilih yang berhak pada tahun 2019, mereka jelas merupakan kelompok strategis yang perlu dipertimbangkan untuk kedua kandidat presiden3. Namun, mereka tidak boleh dianggap sebagai kelompok yang homogen. Selain itu, pemilihan presiden mendatang adalah pertandingan ulang antara Jokowi dan Prabowo, dan keduanya sudah memiliki basis pemilih yang loyal. Dengan demikian, para milenial yang biasanya menjadi bagian dari pemilih yang memilih atau tidak memutuskan telah menjadi target utama dalam kampanye Jokowi dan Prabowo.

Tidak hannya para elit yang silih berganti menawarkan citra anak muda, tetapi dalam konteks pilpres 2019 ini perlu dilihat geliat anak muda yang masuk dalam pusaran tim pemenangan di antara kedua kubu calon. Mereka bukan hanya melengkapi ornamen dan sengat menonjolkan kealraban kalangan muda dan tua saja. Tetapi justeru mereka juga ikut melemparkan banyak wacana dan bersuara lantang tentang suasana politik, bahkan tak jarang melemparkan kritik.

Gagasan memang 'milenial' agak baru dalam wacana politik di Indonesia. Itu merujuk pada orang-orang muda yang lahir pada 1980-an dan 1990-an. Sebelumnya ada tiga gagasan yang berkaitan dengan kaum muda, yaitu 'pemuda', 'remaja' dan 'kaum muda' . Gagasan 'pemuda' digunakan dengan politik yang sangat politis. Konotasi peran ideal kaum muda sebagai agen perubahan; Secara historis, anak muda Indonesia memang menjadi pendorong penting dan fitur utama di persimpangan politik kritis di Indonesia modern. Sementara itu, gagasan 'remaja' adalah asosiasi psikologis dengan periode dalam kehidupan, sedangkan 'kaum muda' mengacu pada subkultur atau komunitas kaum muda.

Secara umum, millenial kurang tertarik pada politik, menganggap kegiatan politik sebagai 'kotor,' manipulatif, dan tidak dapat diakses. Sebaliknya, sebagian besar lebih memilih untuk terlibat dalam kegiatan rekreasi (seperti berolahraga, mendengarkan musik dan menonton film) daripada membahas politik masalah seperti yang ditunjukkan oleh survei nasional CSIS 2017 tentang milenial.

Memang, menangkap keprihatinan dan aspirasi milenial bukanlah tugas yang mudah karena milenium adalah kelompok heterogen yang dibagi berdasarkan usia, kelas sosial dan lokasi, dan dalam aspirasi. Bagi generasi muda, masalah pendidikan lebih penting daripada pekerjaan dan biaya hidup. Mereka bercita-cita untuk pendidikan gratis, dan fasilitas sekolah dan olahraga yang lebih baik. Sementara itu, untuk millenial dewasa yang telah lulus, masalah pekerjaan (pekerjaan), ruang kerja bersama dan biaya hidup lebih penting daripada masalah lainnya. Bagi kedua pasangan calon ada cara pandang khusus kenapa millenial dianggap penting sekalipun masih problematis.
Pertama, millenial cenderung dipahami sebagai kelompok yang homogen oleh tim kampanye tanpa pemahaman yang memadai mengenai perbedaan internal mereka dalam hal usia, jenis kelamin, kelas dan lokasi geografis (perkotaan-pedesaan).

Kedua, strategi untuk menarik kaum milenial cenderung terbatas pada perubahan dangkal pada penampilan para kandidat. Meskipun upaya semacam itu dapat menarik media, mereka mungkin tidak akan memiliki dampak jangka panjang pada pemilih karena tidak tulus atau tiruan.
Ketiga, program yang diusulkan tidak jelas dan layak diusulkan selama kampanye untuk memenangkan milenial. Kedua kandidat cenderung menawarkan program yang sangat umum yang tidak secara langsung menangani aspirasi dan kebutuhan khusus milenium. Ini karena ada sedikit pemahaman milenium dan perilaku unik mereka sebagai pemilih strategis dalam pemilihan presiden mendatang. Apakah di hari-hari yang tersisa calon presiden mampu menarik milenium ke bilik suara masih harus dilihat.

Para kalangan milenial yang masuk dalam dua kubu memang masih diketahu ikut membesarkan wacana, bahka terkadang memperkuat komunikasi politik. Partai PSI yang dianggap cerminan politik anak muda tak segan juga melakukan ekpresi politik dengan kampanye menyerang dari kubu oposisi. Tak ketinggalan tim kampanye kubu oposisi dipimpin oleh pensiunan jenderal militer Joko Santosa, juru bicara Prabowo adalah darah muda seperti Dahnil Anzar Simanjuntak (36), Faldo Maldini (28), dan Gamal Albinsaid (29), yang memiliki latar belakang sosial dan profesional yang berbeda untuk berkomunikasi dengan pemilih milenial. Meskipun penunjukan orang muda mungkin menyegarkan untuk kampanye, orang-orang ini, yang merupakan politisi yang tidak berpengalaman, menghadapi risiko terjerat dalam praktik politik lama.


Penulis: Marhaen
Editor  : De Rantau