Perceraian dan Anak
Cari Berita

Advertisement

Perceraian dan Anak

7 Des 2018

Foto Penulis (edited by jab Indikator news network)

Indikatormalang. com - Perceraian  bukan lagi hal yang langka terjadi di masa milenial ini. Kasus perceraian yang terjadi pun tidak hanya karena adanya masalah dalam rumah tangga tersebut. Mengapa saya mengatakan seperti itu ? Karena menurut saya, saat ini banyak sekali para Publik Figure yang melakukan apa saja agar nama mereka bisa terangkat, termasuk kasus perceraian ini. Bukanlah bakat yang seharusnya ditunjukkan oleh mereka akan tetapi permasalahan rumah tangga pun menjadi alat untuk menaikkan ratting mereka alias membuat sensasi agar naik daun. Mengenaskan bukan ?

Akan tetapi, apakah mereka tidak memikirkan tentang dampak dari perceraian mereka terhadap anaknya ? Mungkin tidak masalah bagi mereka yang tidak memiliki anak. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang memiliki anak? Apakah mereka memikirkan tentang mental anak  mereka jika mengambil keputusan untuk bercerai ? Saya rasa mereka memikirkan hal tersebut, akan tetapi berbeda lagi dengan mereka yang bercerai karena hanya ingin mencari sensasi. Mereka bisa menyepelekan masalah tersebut dengan berpikir “ah, saya yang mencari nafkah jadi anak saya ikut dengan saya.” Atau “ ah, kan saya yang melahirkan jadi dia harus ikut dengan saya.”

Coba kita lihat dari sudut pandang si anak. Jika anak tersebut masih balita, mereka tidak tahu apa-apa karena belum mengerti permasalahan tersebut. Akan tetapi, jika anak yang sudah mengerti, yang sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah pasti mereka tidak ada yang menginginkan percerain tersebut.

Saya mempunyai 2 contoh kasus perceraian yang berbeda. Kasus pertama yaitu perceraian suatu keluarga di mana mereka memiliki 1 anak yang masih balita. Dari kasus ini kita bisa menganalisa bahwa mental si anak kemungkinan tidak terganggu. Mengapa ? Karena si anak belum mengerti, anak tersebut hanya mengerti bahwa semuanya baik-baik saja. Semisal hak asuh anak di ambil ibunya dan suatu waktu jika di tanya “kemana ayah ?” bisa saja si ibu bisa menjawab “ ayah sedang bekerja".Itu contoh kasus pertama.

Kasus kedua, yaitu perceraian keluarga yang memiliki anak berumur 18+. Sudah pasti mereka sudah bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Jika anak tersebut sudah bisa mencari uang sendiri, beberapa pemikiran di antara anak tersebut pasti “ah, saya sudah tidak bergantung sama mereka jadi ya biarlah kalo mereka mau bercerai". Itu merupakan contoh pemikiran dari anak yang biasa saja terhadap keluarganya.

Bagaimana dengan mereka yang sangat mengutamakan keluarga, yang menurut mereka keluarga adalah segalanya ? Saya termasuk dalam tipe anak yang mengedepankan keluarga dan orang tua saya hampir bercerai. Sebagai anak yang termasuk dalam tipe ini, saya berpikir “mengapa harus bercerai ? Apakah tidak bisa diselesaikan secara baik-baik tanpa melakukan perceraian ? Bagaimana saya nanti ? Saya akan ikut syapa ? Berarti keluarga saya tidak utuh ? Bagaimana dengan adik-adik saya ?” dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran negatif yang ada di benak saya.

Ada 2 kemungkinan yang terjadi pada anak tipe ini. Pertama anak tersebut bisa menerima kenyataan tersebut dengan berat hati, tetap sabar dan mendoakan yang terbaik untuk keluarganya. Kedua, anak tersebut tidak bisa menerima kenyataan terbut dan melaampiaskan kemarahannya dengan pergi dari rumah karena dia berpikir bahwa “aku sudah tidak memiliki syapa-syapa lagi".

Dari kasus-kasus di atas kita bisa menyimpulkan bahwa pengaruh perceraian orang tua pada anak bermacam-macam. Untuk menghindari hal tersebut, sebagai orang tua sebaiknya lebih mempertimbangkan keputusan yang di ambil, apakah berdampak negatif untuk anaknya atau tidak.