HAM "Hak Asasi Manusia"?
Cari Berita

Advertisement

HAM "Hak Asasi Manusia"?

15 Des 2018

Foto Penulis

Indikatormalang.com - Pekik tangis tertindih dibawah perkembangan Isyu di Indonesia. Bangsa yang besar nan jaya ini tengah berada pada fase dilematis dan penuh kerancuan secara penyelesaian sengketa.

Kini, Hari Raya Hak Asasi Manusia atau dalam second languange-nya disebut dengan International Human Right Day kembali mengetuk pintu rumah bangsa - bangsa di seluruh belahan dunia tak terkecuali Indonesia tanah Air kita yang teramat kita cintai ini.

Kasus - kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia terus mengalir laksana darah segar diatas mayat - mayat korban kelaparan. Negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 ini tengah berada pada ambang dilema pasal penegakan hukumnya. Tercatat beberapa kasus besar berkaitan dengan kemanusiaan di negeri ini belum sanggup terselesaikan dengan baik.

Genosida 1965 contohnya, Jutaan Masyarakat Indonesia yang dianggap pro terhadap partai Politik tertentu akhirnya harus meregang nyawa diujung bedil dan parang. Padahal sebagian besar dari mereka para korban hanyalah orang - orang yang ingin mempertahankan hidup lantaran musim panceklik politik karna ulah dari segelintir elitis. Ini adalah salahsatu bentuk pelanggaran HAM jika dicermati dengan saksama.

Lalu pada Lima Belas Januari 1974 dikenal dengan MALARI (Malapetaka Limabelas Januari) yang digerakkan oleh Adnan Buyung Nasution dan kawan - kawannya. Harus meregang nyawa diujung bayonet pula beberapa aktivist yang coba menyampaikan aspirasi di muka umum lantaran tidak sepakat dengan pembangunan TMII.

Pada jelang akhir rezim Orde Baru ini pula seorang aktivist podium dan nabinya para seniman muda (Wiji Tukhul) hilang tanpa kabar entah kemana dia dibuang, entah seperti apa nasibnya. Hingga kini ciutannya telah membangun sebuah gelombang perlawanan yang dahsyat.

Semangat perlawanan pemuda meletup ketika tsunami kediktatoran terbentur dengan krisis moneter Indonesia dampak krisis dari sebagian wilayah di benua Asia. Puluhan mahasiswa diculik dan beberapa diantaranya harus meregang nyawa dengan peluruh tajam milir aparat militer.

Kemudian di Sidoarjo Jawa Timur Marsinah salahsatu Srikandi bagi kaum buruh ditemukan mati dengan keadaan mengenaskan karena mencoba membuka mulut melawan kebijakan korporasi asing.

Kasus Marsinah ini meninggalkan kegeraman para aktivist kemanusiaan hingga akhirnya salahsatu aktivist HAM yakni Munir terus gencar melakukan pengawalan terhadap kasus terkutuk ini.

Tapi, Sang sosok pejuang ini, Sang Pejuang kemanusiaan ini akhirnya harus meregang nyawa diatas pesawat ketika hendak melanjutkan studi S2nya di negeri kincir angin Belanda. Gemuruh amarah bercampur amuk dan airmata mengiringi sang pejuang keadilan diantarkan ke tempat peristerahatan. Munir - pun berlalu dengar hiruk pikuk tangis, proses penyelesaian hukum matinya munir tak pernah ada kepastian.

Pada 2017, Kembali dicabut nyawa seorang masyatakat sipil asal Pulau Sumba, Poro Duka ketika harus mempertahankan tanahnya dan melawan koorporasi asing yang menunggangi rezim untuk mendirikan perusahan di negerinya. Kasus ini kembali menjadi penyulut gerakan perlawanan oleh para pemuda dan aktivist mahasiswa.

Diatas merupakan kasus - kasus yang sempat tersentuh oleh telinga, namun tiba di "Meja Hijau", Membias seakan hilang. Sementara perayaan hari besar HAM Internasional terus berlalu setiap tahunnya.

Selemah inikah penegakan afirmasi hukum dinegeri ini?
Maka muncullah pertanyaan dalam diri kita, Siapa lagi yang akan kembali merenggut nyawa dengan tragis pasca ini.!!!


(Tulisan ini merupakan refleksi Hari HAM Internasional yang selalu diselenggarakan Pada 10 Desember)

Penulis: Ridya Ningrum Wulandari
Editor  : Damanhury Jab
Publisher: Jab