Sadarlah, Mahasiswa Agen Perubah
Cari Berita

Advertisement

Sadarlah, Mahasiswa Agen Perubah

11 Nov 2018

Foto: Liandoko Adjie Prayogo
Indikatormalang.com - Sebagai Mahasiswa ada usaha untuk memberi inspirasi, menebar contoh dan mencetuskan keyakinan. Inspirasi muncul melalui serangkaian kisah atau kutipan banyak pejuang. Karena melalui mereka ada contoh yang bisa mengungkit keberanian dan dapat jadi tauladan.

Che Guevara memberi tauladan bagaimana sarjana kedokteran dapat mendirikan negeri tangguh bernama Kuba. Capaian negeri ini dalam bidang pendidikan dan kedokteran amat mengagumkan. Ali syariati telah melukiskan citra intelektual sekaligus menjadi dosen yang progresif. Melalui ide-idenya revolusi Iran ditancapkan akarnya. Demikian Pula dengan Soekarno yang dimasa mudanya sudah mampu mengangkat ide kemerdekaan hingga jadi kebutuhan massa. Tentu butuh pengetahuan dasar untuk mengatakan bahwa merubah sebuah negara tidak melalui investasi tapi pikiran memukau orang mudanya. Sayang, semua itu ditumpas dalam pendidikan tinggi dan tak pernah ada kurikulum yang mencoba mengenalkannya.

Perubahan itu selalu bertolak dari keyakinan sejumput orang yang dibagikan melalui gerakan. Tentu, keyakinan itu akan bertempur dengan kemapanan dan kesangsian. Dimana penjelasan dan klarifikasi gerakan dibahas secara mendalam dan rasional.

Krisis moneter begitulah nama peristiwanya. Meledak tingkat pengangguran dan muncul penjarahan. Mula-mula, sasaranya adalah etnis Tiongkok. Etnis yang selalu jadi sasaran kecemburuan sosial. Tak hanya menjarah tapi tindakan pelecehan seksual juga terjadi sementara itu, aparat membiarkan dan mahasiswa memacu protes massal.

Didasarkan atas kekacauan komando, aparat menembakan dan membunuhi mahasiswa. Emosi massa berhimpun menjadi cetusan protes ketika stasiun televisi menayangkan tragedi itu. Mulailah kekuasaan goyah dan massa mahasiswa mengambil alih situasi.

Gerakan seperti ini akan melahirkan sebuah suara dari mahasiswa yang sedang emosi. Apakah mahasiswa bersikap seperti itu? Tentunya tidak. Jika apa yang kita lihat adalah sebuah kebaikan, maka akan melahirkan sebuah keyakinan bahwa adanya gerakan yang baik dan tidak memancing emosi.

Agen perubahan  begitulah julukannya. Jangan kau bilang mahasiswa itu agen perubahan jika melihat sikapmu hari ini. Punyakah kamu kepedulian atas teman-temanmu yang kesulitan bayar uang kuliah? Adakah kamu merasa marah atas pengumuman di halaman kuliah yang bunyinya masam: mahasiswa dilarang pakai kaos dan sandal di pintu masuk halamanya? Bukankah sebaiknya mereka menganjurkan mahasiswa baca buku dan sibuk diskusi ketimbang ngurus pakaian apa yang pantas dipakai?

Jangan sebut dirimu dewasa kalau menyaksikan kemiskinan kamu hanya prihatin dan iba. Sebenarnya, siapa dirimu mahasiswa? Tatap wajahmu di cermin: apa yang sebenarnya kau inginkan? Lihat ruangan kamarmu; adakah yang berubah disana setelah kamu jadi mahasiswa? 

Pegang kembal bukumu dan bacalah.
Jangan hanya berdiam diri menatap dirimu yang saat ini belum berubah sama sekali. Junjunglah pemikiran pemikiran kritis yang akan membuat dirimu bisa disebut agen perubahan. Perbanyaklah diskusi dan bercerita tentang kemajuan di hari esok.

Jika hanya berpikir dan bersikap apatis maka hilangkan dan ganti dengan sikap antusias. Bercita-cita dan berpikir imajinatif secepat kilat agar terwujud dan menjadi kenyataan. Negara tak butuh gelarmu, tapi negara butuh kualitas pemikiranmu yang siap menjadi agen perubahan.

Kuliah kini punya tugas sederhana. Mengantarkan mahasiswa mendapat kerja. Di semua kampus terdapat karnaval lapangan kerja. Semua bentuk usaha dipamerkan dalam ruangan kuliah. Jika bisa mahasiswa sejak dini sudah mampu memegang kerja dan dapat mengelola harta. Dan ditunjuklah mahasiswa teladan yang mahir memutar uang.

Pesan untuk mahasiswa, “kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. 

Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adala sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?

Penulis: Liandoko Adjie Prayogo
(Kader IMM Raushan Fikr FKIP UMM)
Editor   : Damanhury Jab