Kejahatan Koorporasi terhadap Kemanusiaan
Cari Berita

Advertisement

Kejahatan Koorporasi terhadap Kemanusiaan

13 Nov 2018

Foto: Penulis
"Eksploitasi Hutan memicu Konflik Agraria"

Indikatormalang.com - Setiap tahunnya, Indonesia ikut merayakan  Peringatan Hari Hutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 Maret. Indonesia sebagai salah satu negara dengan luasan hutan terluas di dunia dengan jumlah luas hutan 133.300.543 hektar sudah seharusnya mampu memaknai peringatan Hari Hutan Sedunia ini dengan lebih arif, yakni mengupayakan cara-cara terbaik untuk merawat hutan agar tetap lestari.

Namun kemewahan hutan dengan luas yang sangat dahsyat tersebut tentunya tidak serta merta dianggap sebagai anugerah yang harus dirawat oleh segenap warga bangsa ini, hal ini dibuktikan dengan aktivitas penggundulan hutan yang maha dahsyat pula. Indonesia mendapati peringkat kedua dalam kategori penggundulan hutan tercepat di dunia, yang setiap tahun harus kehilangan 1 juta Hektar akibat aktivitas tersebut.

Sangat menyedihkan bila kita tahu bahwa 80 % yang mendalangi penggundulan hutan tersebut adalah koorporasi. Jika di lakukan investigasi, dan verifikasi data dengan wawancara, maka  dengan lembut dan anggun mereka menjawab, hal tersebut dilakukan untuk mengupayakan kesejahteraan, kemajuan dan lain sebagainya. Sehingga sampai pada kesimpulan apa yang mereka lakukan itu benar dan tepat.

Tercatat hampir disemua daerah di Indonesia dari sabang sampai merauke mengalami persoalan penggundulan hutan dengan berbagai alasan, seperti alih fungsi lahan, pembangunan pembangkit listrik, tambang , dan lain sebagainya. Seperti yang terjadi di Kalimantan, agresifnya penggundulam hutan, dengan alasan berbagai hal seperti pertambangan, pertanian sawit, sehingga diprediksikan Kalimantan akan kehilangan 75 % hutannya pada 2020 ini. Hal tersebut di rilis oleh World Wildlife Fund (WWF).

 Parahnya lagi penguasahaan hutan (HPH) seluas 25 juta hektar untuk 303 perusahaan, dan hutan tanaman industri (HTI) seluas 10,1 juta hektar untuk 262 perusahaan. Selanjutnya untuk perkebunan sawit seluas 12,3 juta hektar yang dikuasai 1.605 perusahaan dan sektor pertambangan mencapai 3,2 juta hektar yang dikuasai 1.755 perusahaan. Bahkan di Kalimantan Timur bila dijumlahkan seluruh perizinan empat sektor itu maka luasannya melebihi luas wilayah Kalimantan Timur itu sendiri.

Ditambah  lagi persoalan lahan  yang masih memanas baru-baru ini masalah  pembangunan  PTLB (Pembangkit Listrik Panas Bumi) di Bukit Kili Solok Sumatera Barat yang menyita lahan lebih kurang 27.000 Hektar. Terbayangkan jika areal seluas itu yang di sabotase dengan dalil-dalil kesejahteraan dan kemajuan?. Ada berapa banyak penduduk yang kehilangan lahan? berapa banyak angka pengangguran akan bertambah?, ada berapa banyak satwa-satwa yang akan musnah akibat kehilangan habitat?. Apa lagi kita tahu bahwa hutan tidakhanya sebagai sumber lahan dan filteriasi air bagi petani , tapi juga sebagai sumber kehidupan manusia akan udara dan lain sebagainya.

Karena  kebiasaan eksploitasi hutan yang di dalangi koorporasi itu lah konflik agraria dari tahun-ke tahun  semakin meningkat drastis.  Tercatat Konsorsium Pembaruan Agraria ( KPA) mencatat terjadi 659 konflik agraria sepanjang 2017, dengan luasan mencapai 520.491,87 hektar (ha). Jumlah konflik agraria meningkat 50 persen dibandingkan 2016. Dari data dia atas tergambar betapa meningkatnya kekejaman kita kepada hati nurani dan kemanusiaan yang di dalangi koorporasi.

Namun kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut terkesan didukung oleh pemerintah terkait dengan memberikan perlindungan dengan berbagai cara. Salah satunya memutuskan keberpihakannya kepada kooporasi dengan menyiapkan izin, melindungi alat-alat berat dan sarana prasarana lain yang siap menggrogoti hutan yang merupakan lahan hidup bagi masyarakat. Sehingga kehidupan masyarakat yang yang sudah terdzholimi makin terdzholimi, tidak sampai disitu saja, tanggung jawab akan melindungi kehidupan satwa dan hutan seakan menjadi tanggung jawab Tuhan saja untuk melinduginya.

Padahal jika ditinjau dari aspek agama jelas, sebagai manusia kita hendaknya menjaga alam raya ini dengan semangat rahmatan lil alamin.  Karena akan ada bahaya yang menimpa jika hal tersebut tidak dijaga betul-betul oleh manusia. Lihat saja sepanjang tahun selalu terjadi bencana, entah itu banjir, longsor,  kebakaran hutan, abrasi, gempa bumi, kekeringan yang memakan ribuan korban jiwa, dan merugikan Negara ratusan triliyun.

Artinya tidak seberapa nikmat kesejahteraan yang dijanjikan  koorporasi dibanding kesengsaraan yang akan menimpa kita. Itu masalah bencana, sekarang kita lihat berapa jumlah pengangguran di desa-desa akibat tenah mereka yang tereksploitasi. Dari data BPS hari ini saja tercatat jumlah pengangguran sabanyak 6,87 juta orang. Kita dapat membayangkan angka sebanyak itu akan bertambah seiring dengan habisnya lahan tereksploitasi.

Walaupun sudah jelas musibah yang akan datang di depan mata, namun keinginan untuk berbenah masih sangat sedikit sekali. Koorporasi tidak hentinya menyiapkan dana triliyunan untuk melancarkan gerakan eksploitasinya, sedangakan pemerintah masih sibuk menyipakan mental untuk hanyut dalam hasrat ketamakan yang menjanjikan tersebut. Padahal dalam surat Ar-Ruum  ayat 41 sudah jelas  untuk mengingatkan kita agar menjaga alam raya ini dari kerusakan yang nantinya akan menghancurkan manusia itu sendiri.

Hendaknya semua pihak menyadari betul tentang kejahatan ini dan berkomitmen betul untuk mencegah dan mengawasi serta memberantasnya. Jika tidak tidak aka nada perubahan yang signifikan terhadap perubahan kearah yang lebih baik bagi bangsa ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Ruum ayat 41 yang artinya “telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).  Allah juga mengingatkan kita dalam surat Ar-Ra’ad ayat 11 yang artinya: Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka yang merubah keadaannya.

Karenanya tidak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan, mengingat keadaan bumi kita yang semakin kritis ini,  sehingga tindakan ekspolitasi hutan dengan mengatasnamakan apapun entah itu kesejahteraan, kemajuan yang disponsosri oleh koorporasi adalah sebuah kejahatan yang harus dilawan oleh seluruh pihak.

Tentunya hal ini mesti di kokohkan oleh komitmen yang tinggi oleh seluruh bangsa Indonesia.

Penulis: Riyan Betra Delza
Status  : Ketua Bidang Maritim dan Agraria DPP IMM
Editor : Damanhury Jab