Estetika Institute: Perempuan Bukan Pelengkap dalam Pesta Demokrasi 2019
Cari Berita

Advertisement

Estetika Institute: Perempuan Bukan Pelengkap dalam Pesta Demokrasi 2019

24 Nov 2018




doc. pribadi


Indikatormalang.com -  Pemilu 2019 merupakan Pemilu serentak pertama yang dilakukan di Indonesia. Selain akan memilih Presiden Dan Wakil Presiden, kita juga akan memilih Anggota DPR RI, Anggota DPD, Anggota DPRD Provinsi dan Anggota DPRD Kabupaten/Kota. Terlepas dari pro kontra terkait Pemilu serentak ini, gong sudah dibunyikan, persiapan pesta tengah berjalan, para kandidat telah berseliweran baik di media sosial ataupun media kampanye lain. Untuk itu  Estetika Institute mengadakan Seminar Politik Perempuan dengan menghadirkan pemateri di antarnya Adi Prayitno (Pengamat Politik), Heroik M Pratama (Perludem), Chusnul Mar’iyah (Akademisi) bertempat di Sofjan Hotel Cikini, Jumat (23/11).

Sejauh ini wacana keterwakilan perempuan dalam politik, telah lama menjadi salah satu gagasan yang terus diperjuangkan oleh teman-teman aktifis perempuan selama ini. Affirmative Action berupa quota 30 % bagi perempuan, yang tertuang dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 7 Tahun 2013 tentang Aturan Pencalonan DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Bahkan juga tertuang dalam UU No.8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Estetika Handayani  Direktur Estetika Institute diskusi ini tak lain ingin menghadirkan kebijakan yang berbasiskan pengarus utamaan gender, baik melalui gagasan yang timbul atau kehadiran perempuan dalam ranah politik, merupakan alasan mengapa keterwakilan perempuan menjadi penting. Meskipun pada prakteknya, cita-cita dan capaian itu masih jauh dari maksimal.

“Kita patut tegaskan, bahwa kalangan perempuan bukan pelengkap dalam pesta demokrasi 2019,” tegas Estetika.

Estetika menambahkan selama ini pemikiran bahwa pemilih perempuan yang jumlahnya hampir sama dengan pemilih laki-laki, tentu saja menjadi menarik untuk dilihat, bagaimana kemudian para kontestan yang berlaga dalam Pemilu nanti akan menarik suara pemilih perempuan tersebut. Kita perlu untuk terus giat mendukung perempuan turut berkontestasi dalam politik. Selain itu menurutnya, kita juga perlu mendorong pemilih perempuan menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2019 nanti. DPT perempuan yang jumlahnya sebagian dari DPT laki-laki, sebetulnya salah satu modal yang dimiliki perempuan untuk memilih para calon yang memiliki ide-ide terkait pemberdayaan perempuan dan berkontribusi untuk hal tersebut.

“Persoalan sebenarnya bukan hanya ada pada para kontestan yang akan berlaga pada pemilu 2019 nanti, tapi yang juga kerap luput dari perhatian kita adalah dalam beberapa kasus, pemilih perempuan kerap dipengaruhi atau bahkan turut dipaksa untuk memilih calon yang tidak ia kehendaki,” papar Estetika. [DR]