Dosen FPIK UB Latih UKM Kembangkan Agribisnis Ikan Tembang Putih
Cari Berita

Advertisement

Dosen FPIK UB Latih UKM Kembangkan Agribisnis Ikan Tembang Putih

16 Okt 2018

Tim FPIK UB Saat mengunjungi UKM Binaan
Indikatormalang.com - Sebanyak dua Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Pasuruan, yakni UD. SA dan UD. HCR mendapatkan pendampingan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya.

Kedua UKM tersebut mendapatkan penyuluhan cara pengoperasian teknologi tepat guna alat pengering ikan mekanis model green house dalam mengembangkan Agribisnis Ikan Tembang Putih (Clupeiodes Lile).

Para UKM tersebut, selain mendapatkan materi dasar, mereka diajak praktek langsung melalui Demo Plot Pengoperasian TTG Alat Pengering Ikan Mekanis Model Green House.

Program pendampingan yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Mimit Primyastanto, MP dan melibatkan sebagian dosen serta mahasiswa dari Prodi Agrobisnis Perikanan FPIK Universitas Brawijaya ini merupakan Program kemitraan masyarakat (PKM) yang didanai oleh direktorat riset dan pengabdian masyarakat (DRPM) kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi.

Menurut Prof. Dr. Ir. Mimit Primyastanto, MP,  dampak penggunaan mesin ini dalam proses pengeringan ikan akan lebih cepat dibandingkan dengan proses pengeringan biasa menggunakan sinar matahari, dimana rata-rata proses pengeringan membutuhkan waktu 1-2 hari setiap kali proses. Namun jika menggunakan teknologi ini maka proses pengeringan hanya membutuhkan 4,5 jam saja.

"Dengan menggunakan alat ini, hasil produksipun meningkat. Sekali produksi bisa mencapai 14 kilogram per hari," terangnya Kepada Indikator Malang.

Perhitungan tersebut berdasarkan kapasitas alat, yakni 7 kilogram dengan operasi 4,5 jam persatu kali proses pengeringan. Dalam 1 hari alat tersebut dapat beroperasi sebanyak 2 kali.

"Jika dikalkulasi selama satu bulan, maka alat ini akan mampu berproduksi sebesar 420 kilogram. Itu artinya produksi UKM akan bertambah sebanyak 5.040 kilogram per tahun," tambahnya

 "Dampaknya, waktu produksinya menjadi lebih efisien, produksi meningkat, dan ikannya lebih higienis dan saniter karena tidak terkontaminasi debu dan bahan berbahaya lainnya," pungkasnya

Harapannya, dengan adanya alat ini hasil produksi akan lolos dari monitoring pabrik pengekspor ikan tembang putih kering ke Jepang dan Singapura, dimana seringkali terdeteksi oleh alat skrin pabrik ada debu menempel pada produk ikan yang dikeringkan melalui sinar matahari (solar).

Kedepan diupayakan mesin pengering ikan ini dapat diadopsi oleh UKM lainnya dalam rangka peningkatan mutu produk ikan tembang putih kering, dimana akan berdampak pada pendapatan sekaligus kesejahteraan pemilik UKM dan pegawainya.

(dk)