Menyoal Statemen Jokowi Tentang Rupiah
Cari Berita

Advertisement

Menyoal Statemen Jokowi Tentang Rupiah

6 Sep 2018

Foto : Penulis
Indikatormalang.com - Dalam wawancara nya di Kompas. Bapak Presiden Jokowi menyampaikan tentang beberapa hal penting tentang anjloknya nilai tukar rupiah.

Beliau mengatakan bahwa tidak hanya Rupiah yang mengalami pelemahan kurs dan beberapa faktor eksternal pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan sentimen dari eksternal, seperti kenaikan suku bunga The Fed, perang dagang antara China dan Amerika Serikat, dan krisis yang melanda Turki serta Argentina.

Menurut data Reuters 2018, indonesia memiliki presentase ekspor 43,5 persen, dan terhitung aman dari pertikaian perdagangan Amerika dan China dibanding negara ASEAN lain dibawah hongkong, israel dan Australia.

Pengaruh The FED (Federal Reserve System, baca undang undang Federal Reserve) tentang Kebijakan Kenaikan kisaran target bunga acuan federal sebesar 1,75 persen hingga 2 persen oleh Federal Open Market Comittee (FOMC) Bank Sentral Amerika serikat memang sudah di waspadai semenjak RDG (Rapat Dewan Gubernur) juni kemarin yang ditanggapi oleh BI dengan strategi pre-emptive Loading dan Ahead the curve dalam menghadapi perkembangan baru arah kebijakan The FED dan ECB.

Kebijakan The FED yang cukup berpengaruh dalam RDG semestinya tidak dijadikan alasan kemudian semerta merta BI menaikkan suku bunga acuan (BI 7 DRR) demi mempertahankan rupiah dan membuat para investor berfikir dua kali melihat pergerakan IHSG yang kemudian subyek ekspor melemah.

Anjloknya nilai rupiah sampai level ter rendah yang sudah diperkirakan semenjak kebijakan The FED juni lalu menutup pertimbangan tentang fiskal neraca dagang yang sedang berantakan di indonesia. Ditahannya permintaan ekspor oleh china yang menyebabkan turunnya kontribusi ekspor sebesar 22, 81 persen dilalaikan dengan melakukan peningkatan impor 11, 80 persen april kemarin.

Dampak tersebut menggelembung hari ini dengan hancurnya nilai rupiah saat ini. Jokowi mengatakan untuk kembali memperbaiki transaksi berjalan yang defisit 3 persen serta menggenjot ekspor dan investasi dalam negeri yang menurut penulis sangatlah normatif.

Perlu gerakan ekonomi yang berani untuk mengembalikan marwah rupiah. Ekspor mungkin solusi yang sangat tepat namun perlu diketahui bahwa komoditi ekspor terbaik Indonesia hari ini adalah di wilayah nonmigas dan dikuasai oleh pertambangan mineral dan batu bara yang menyumbang sekitar 80 persen PNBP.

Sehingga bicara tentang fokus ekspor maka pertambangan mineral dan batubara perlu didukung sepenuhnya. Langkah yang tepat adalah dengan minimalisir kendala teknis yang menyerap nilai produksi serta mengkoreksi pengawalan DMO (Domestic Market Obligation) agar efisien di sub sektor pertambangan dan Batubara.

Jokowi melanjutkan tentang mendorong Tingkat Komponen Dalam Negeri (TDKN) kepada perusahaan BUMN dan swasta dengan asumsi penghematan mencapai 2 sampai 3 milliar dollar AS, yang tentu saja belum cukup signifikan untuk perbaikan.

Dibutuhkan evaluasi besar besaran tentang ke ketidakseimbangan ekspor impor terutama pelonjakan nilai impor konsumsi yang menyebabkan neraca perdagangan mengalami kenaikan nilai defisit.

Statemen normatif presiden tersebut sangat tidak bijak untuk mengatasi gaung negatif tentang turunnya rupiah, perlu kebijakan dan tindakan yang nyata untuk mengembalikan marwah rupiah.

Belum lagi di sambungkan dengan momen politik hari ini membuat masyarakat semakin kenyang akan retorika kampanye yang tidak masuk akal, dan tentu presiden jokowi harus lebih berhati hati dalam sisa tugasnya di akhir periode ini, Perlu melakukan evaluasi dan perhitungan gerakan ekonomi yang solutif kepada seluruh jajaran menteri hingga tingkatan dirjen yang bertanggung jawab agar memiliki semangat beriring yang sama tanpa dicampuri kepentingan politis menuju pilpres 2019.

Penulis : Davi (Kabiro Kajian dan Strategi Ekonomi ISMEI Jawa Timur).