17 Agustus, Persoalan, Cara?
Cari Berita

Advertisement

17 Agustus, Persoalan, Cara?

17 Agu 2018


Oleh: Eriton

Indikatormalang.com - Hari ini, 73 tahun sudah Indonesia merdeka. Terbebas dari rongrongan mental bejat penjajah. Kecongkakan, hasrat menguasai dan memperbudah serta prilaku-prilaku tuna moral lainnya tepat kita capkan kepada penjajah. Sederhanannya diringkas dalam tiga kata gold, glory dan gospel.

Angka 73 ini tentu menjadi catatan sejarah bagi perjalanan bangsa yang beragam agama, budaya, suku dan bahasa serta belasan ribu pulau ini. Sehingga setiap anak bangsa pun merayakannya dengan berbagai ekpresi.

Bagi seorang petani pada hari kemerdekaan menjadi cerita istimewa. Sesekali bercerita tentang nenek moyangnya yang pernah terlibat dalam perjuangan melawan kemerdekaan kepada anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya semangat dalam menghadiri seremonial peringatan kemerdekaan. Terkadang sedikit saja ada kekeliruan mereka serentak memprotes dengan cara mereka sendiri. Karena  bagi mereka itu sakral.

Beda lagi dengan para Aparatur Sipil Negara (ASN), mereka menghadiri ucapara di tempat-tempat kerja, kantor-kantor atau lapangan yang telah ditentukan. Mereka hadir dan berpakaian sesuai intruksi pimpinan, karena biasanya akan ada saksi bagi yang melanggar atau alpa. Mereka mau tidak mau harus hadir. Ketimbang dipermalukan dikantornya dengan menghormati bendera sendirian.

Bagi para orang-orang terhormat atau tamu-tamu kehormatan, mereka memakai pekaian kehormatan dan duduk di tribun kehormatan pula. Mereka duduk menyaksikan pelaksanaan ucapara pengibaran Sang Merah Putih. Tribun yang sejuk nan dingin. Mereka menghargai dan mengenang jasa pahlawan.

Para tokoh agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kongfuchu, mereka mengajak umatnya untuk mendoakan para pejuang agar diberikan kemuliaan di sisi Tuhan. Mendoakan para pemimpin gar diberikan kekuatan dalam menjaga keutuhan dan kemerdekan itu. Mereka juga mengajarkan kepada masyarakat bahwa semangat bela negara sebagai  yang diajarkan oleh agama.

Bagi anak muda, tentu tak ada alasan untuk tidak ikut upacara. Karena secara fisik masih kuat berdiri ditrik panas. Dalam pelaksaan ucapara itu tentu berbagai peran diharakan keterlibatan pemuda. Sehingga selain melatih jiwa kepemimpinan juga memberikan motivasi bagi adik-adik siswa-siwa yang hadir bergerombol dari sekolahnya masing-masing.

Sedang bagi pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mengajak para siswanya menghadiri ucapara dengan mengirim beberpa siswa saja sebagai utusan sekolah. Dan biasanya sebelumnya sang guru mewanti-wanti agar siswa yang diutus menjaga nama baik sekolah dengan menunjukkan kepatuhan dan keseriusan dalam mengikuti seremonial 17 Agustus.

Bagi TNI dan Polri terlibat aktif dalam momentum Kemerdekaan ini. Sebelum perhelatan seremonial 17 Agustus itu, mereka telah terlibat dalam penertiban pemasangan bendera di desa-desa, kampung dan seluruh pelosok tanah air. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap WNI mengibarkan bendera Merah Putih. Selain itu, mereka terlibat dalam membina Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA) pada hari H. Dan biasanya dengan prinsip tanpa kesalahan pada pelaksanaan.

Anak-anak menanti 17 Agustus dengan semangat yang menggebu, biasanya bukan pada pelaksanaan seremonialnya  tapi pada panjat pinang dengan berbagai hadiah menariknya serta lomba-lomba lain yang seru. Mereka secara sepontan mendaftarkan diri berkelompok atau indvidu untuk mengikuti perlombaan.

Memang, kemerdekaan bukan sekedar seremonial saja. Sehingga kemerdekaan perlu ditafsir ulang dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Tapi paling tidak peringatan 17 Agustus menyedarkan kita dalam beberapa menit saja akan mahalnya kemerdekaan. Dan itu serentak diekpresikan oleh segenap elemen bangsa tanpa melihat kelas sosialnya, jabatan atau bawahan, tua atau muda, pejabat dan petani. Karena merdeka menjadi satu tetesan darah kita segenap bangsa.

Selain itu, kita juga tidak mungkin dapat merasakan hal yang sama seperti dirasakan para pendahulu kita. Bagaimana sakit dan deritanya tidak merdeka. Sehingga begitu mahal harga kemerdekan. Sampai para pemuda menculik Sukarno ke Rengasdengklok dan memaksa memproklamirkan kemerdekaan. Yang kita kenal 17 Agustus hari ini. Begitu mahal.

Kita juga tidak dapat memaknai merdeka dengan berprilaku sebebas yang kita mau. Seperti disindir oleh Tan Malaka, bagai seekor burung yang dengan semaunya sendiri memakan tanaman para petani. Tanpa ada rasa bersalah. Tentu ini tidak dapat dibenarkan.

Atau seperti di Aceh, sejarah mencatat Aceh merupakan wilayah yang paling akhir ditaklukkan oleh Belanda. Mereka tetap teguh melawan dan tetap teguh tak pernah mengakui kekalahan atas Belanda. Meski secara fisik mereka terluka dan mati namun jiwa dan martabat mereka teguh pada pendirian mempertahankan Indonesia.

Sekali lagi, makna kemerdekaan tidak berhenti pada ucapara perayaan saja. Setiap anak bangsa dapat mengisi kemerdekaan dengan caranya masing-masing. Utamanya anak muda hari ini, agar tak hanya terjebak pada instrumen kekinian. Yang hanya ramai didokumentasinya saja sebagai pelengkap proses formalitas tanpa ada keterlibatan langsung secara tulus dalam merayakan dan mengisi kemerdekaan itu sendiri.
Mari merinding bersama-sama ketika mengenang detik-detik proklamasi.

Merdeka!!!
Merdeka!!!
Merdeka!!!


Penulis Merupakan
(Anggota Pemuda Desa Nancala)