Menyoal Kedunguan Elit
Cari Berita

Advertisement

Menyoal Kedunguan Elit

4 Jul 2018

Adi Munazir, S.H

Indikatormalang.com- Dalam perjalanan sejarah bangsa kita mengenal Soekarno yang cukup gagah dalam kancah dunia internasional. Retorikanya yang garang, penguasaan bahasa asing yang mumpuni serta memiliki wawasan yang cukup luas sehingga perdebatan dengan tokoh-tokoh lain adalah tentang visi kebangsaan yang direkam sejarah sebagai sebuah kemewahan.

Tak hanya itu, Soekarno dikenang sebagai salah satu tokoh proklamator juga sebagai salah satu penggagas dari gerakan Non-Aligned Movements (Nonblok) pasca diadakannya Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 1955. Masa dimana Rusia dan Amerika mencengkram dunia dengan dua kutub ideology yang berbeda.

Ada juga tokoh lain yang tidak kalah penting, pemikirannya hingga sekarang masih menjadi darah segar perlawanan jalur non structural, dialah Tan Malaka yang hidupnya berpindah-pindah mampu mempengaruhi gerak massa secara luas, mengaburkan diri dengan nama yang berbeda-beda agar tak mudah diidentifikasi oleh siapapun yang tak menyukainya. Tan Malaka mewarisi bahwa Orang tak akan berunding dengan maling dirumahnya.
Dua tokoh tersebut adalah bagian dari The Founding Fathers (Bapak-bapak bangsa) yang gigih mengantarkan Indonesia memiliki semangat nasionalisme kolektif. Mereka adalah orang-orang yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam situasi sulit dan penuh tekanan penjajah. Namun, mereka gagah secara  pemikirian luar biasa dalam pergerakan sehingga tepukan tangan dihadiahi oleh prestasi bukan karena sensasi yang dicipta oleh kedunguan.
 Baik Soekarno maupun Tan Malaka adala dua putera bangsa yang layak dijadikan panutan. Sejarah telah mengajari kita dengan sangat baik bahwa kepakaran adalah hal yang utama dalam membangun sebuah bangsa.

Hal yang berbeda sungguh tidak tampak dalam kapasitas elit saat ini. Wawasan yang miskin, kemampuan seadanya, visi yang tak jelas ditambah para pembisik jahat yang ucapannya tidak tentang kepentingan komunal akan tetapi personal yang mengibuli masyarakat dengan ucapan bibir manisnya.

Dalam perkembangan dunia yang semakin milenial kecepatan teknologi informasi telah menyebabkan elit kita menjadi dengan mudah menaiki tangga popularitas. Celakanya, standar menuju itu tidak didasarkan pada kepakaran ataupun skill, asal berbeda maka dengan tiba-tiba akan menjadi artis dunia maya.

Miskin Menghargai 
Kecenderungan elit saat ini adalah mencoba menjadi manusia kritis dengan modal tak cukup. Salah satu yang membuat kita jengah adalah ketika mereka tampil kehadapan public lalu menampilkan cara-cara salah dalam merespon perbedaan.
Budaya tak saling harga-menghargai ditunjukkan dengan berbalas retorika kebenciaan. Lihat saja elit kita bermain mengarahkan sudut pemikiran kedalam satu paradigm sempit. Sangat jarang kita menemukan sosok negarawan yang menjadi pemain tengah yang ucapannya dijadikan panutan dalam setiap tutur kalimat yang digunakan.

Provokasi demi provokasi diucap dengan sangat ilmiah sehingga para pendengar menjadi manusia bodoh  dalam memahami setiap kalimat yang terucap. Muara besar dari semua itu sesungguhnya adalah ucapan sampah yang dianggap kebenaran. Nasehat-nasehat dari Buya Syafii Maarif yang menekankan kehadiran banyak negarawan tak lagi dihargai atau bahkan kritik tajam sekelas Amien Rais Bapak Reformasi dianggap ucapan manusia tua Bangka yang tak layak didengar.

Sederet elit begitu mudah dikenali dengan gaya bahasa menyerang tanpa substansi, media menjadikannya besar bukan karena kualitas lebih kepada  makian sensasional dalam menutup kekurangan diri. Maka dari itu penting sekali untuk mengembalikan semangat saling harga-menghargai dalam mengartikulasikan ragam pandangan.

Kekurangan Visi
Dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa soal kuasa adalah hal yang paling menyedot perhatian. Terlebih tahun 2019 adalah tahun pertarungan legislative dan pemilihan presiden secara serentak yang pertama dalam sejarah demokrasi Indonesia. Produk demokrasi kita masih belum mampu menghasilkan calon pemimpin yang berkualitas akibatnya elit dungu mendominasi lalu mereka berbicara soal bangsa tanpa visi kebangsaan yang lebih lengkap.

Tidak ada lagi objektivitas yang dijadikan standar untuk mengukur sebuah kebenaran, relativisme mendominasi, sehingga sulit mencerna dengan baik sengkarut masalah bangsa yang kompleks. Visi elit yang lengkap sangatlah di utamakan mengingat situasi politik digaduhkan oleh narasi-narasi dungu yang tak memiliki pijakan yang meyakinkan.
Bangsa membutuhkan  Politik yang kondusif yang dibangun oleh pertemuan visi kebangsaan yang memayungi keberagaman. Sehingga budaya gesek yang dicipta oleh elit kurang visi tak lagi menjadi narasi publik yang menyesatkan sekaligus menjatuhkan. Elit harus mengamalkan kandungan falsafah jawa ngluruk tanpa bala menang tanpa ngasorake (menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan) .

Miskin Wawasan 
Cakrawala keilmuan elit kita sempit sehingga tidak leluasa menerima sebuah perbedaan. Alhasil kita menjadi bangsa yang kalap, miskin wawasan, gagal mengelola masalah dengan baik sehingga dengan menyimpan kebencian lalu dimuntahkan ke  wajah publik yang  tak berdosa.

Wawasan yang luas akan mengarahkan manusia pada situasi inklusivitas dalam memandang dan menempatkan sesuatu. Namun, sebaliknya ketidakcukupan mereka memiliki wawasan menyebabkan pemikiran mereka sempit nan  kerdil dalam menghadapi perbedaan.
Suka atau tidak suka elit kita saat ini adalah mereka yang mengumbar kedunguan ke hadapan public. Tidak adalagi narasi alernatif yang ditawarkan, hanya mengulang soal lama yang sudah barang tentu tidak adaftif dalam perkembangan zaman. Berbenahlah wahai elit!!! jangan sampai kedunguan menjadi imam bagi kehancuran bangsa yang tengah sulit ini.

Penulis; IMMawan Adi Munazir, S.H
*Ketum PC IMM Malang Raya 2017-2018