Pengisahan Dibalik Tragedi Aktivis Tahun 1998
Cari Berita

Advertisement

Pengisahan Dibalik Tragedi Aktivis Tahun 1998

23 Jun 2018

Penulis: Annisa, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UMM

Indikatormalang.com - Di era rezim kekuasaan Soerharto, masyarakat merasakan kemanan yang didambakan setelah mengalami masa pejajahan. Perekonomian berkembang baik, tindak kejahatan selalu cepat teratasi sehingga tidak ada kejadian yang dapat merugikan orang lain. Jika ada maling, maling itu akan terbunuh esok harinya. Akan tetapi, pada masa itu hak beraspirasi dibekukan. Masyarakat tidak diizinkan untuk  berpendapat. Berbeda dengan keadaan sekarang, semua orang berhak ‘bebas’ beraspirasi dimanapun dan kapanpun. Sabtu (23/06/2018)

Terkait dengan novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, novel ini berangkat dari peristiwa terjadinya penculikan para aktivis di tahun 1998. Penulis mengambil latar pada tahun 1991-2007 yang diceritakan dalam dua sudut pandang yang berbeda; pertama diceritakan oleh tokoh Laut Biru dan yang kedua diceritakan oleh tokoh Asamara Jati. Para tokoh dalam novel ini menginginkan hak untuk berpendapat dalam ranah publik. Dalam artian para aktivis menginginkan berakhirnya (lengsernya)  masa jabatan presidan Soerhato, sebab pada masa itu presiden mendeklarasiakan diri sebagai presiden seumur hidup. Tentu saja hal itu membuat para aktivis bertindak.

Selain penulis ingin pembaca mengetahui atau mengenng peristiwa hilangnya aktivis 98’ tersebut. Penulis juga bermaksut untuk memberikan rekaman atau pengilustrasian nyata  melalui novel Laut Bercerita, dan pembaca dapat mengambil atau memetik nilai-nilai perjuangan, kemanusiaan, sosial, serta (mengatasi) pergulatan batin yang diperkuat oleh tokoh Asamra Jati dan beberapa aktivis yang ditemukan atau dipulangkan. Keaadaan psikologi  dan (trauma) melibatkan permasalahan yang terjadi pada masa itu, gambaran orang-orang yang kehilangan anak, kekasih, sahabat, teman tanpa tahu dimana keberadaannya ataupun tubuh-tubuhnya.

Sikap pengarang menengaskan bahwa keadaan sekarang jauh lebih baik daripada keadaan masa itu. Akan tetapi, mahasiswa dahulu lebih kristis dan tidak takut mati, mereka mengganggap kematian untuk impiah 10 tahun kedepan adalah sebuah perjuangan agar sewaktu-waktu orang lain tidak merasakan hal yang sama seperti yang mereka alami dan hal tersebut  terbukti dalam kehidupan sekarang ini.

Sementara mahasiswa di masa ini, untuk berkritis, untuk mengkritik membutuhkan keberani yang ekstra namun tenggelam bersama desas-desus ketakutan dalam diri.
Leila S. Chudori mengaitkan kejadian 1998 dengan kondisi sekarang adalah suatu pemikiran yang dapat mendongkrak semangat yang sudah mulai pudar. Penulis melakukan riset untuk membuat novel Laut Bercerita dan secara langsung ia mewawancarai  aktivis yang ditemukan. Butuh tiga tahun penulis ini dapat menyelesaikanya. Penulis sering dijuluki sebagai penulis fiksi sejarah yang memang apik dalam strategi kepenulisannya.

Melalui sisiopsikologi penulis menggambaran novel ini seperti nyata dalam simbol-simbol sosial-kebudayaannya, dan simbol-simbol alam yang semakin memperkuat isi novel Laut Bercerita.