Skenario Dibalik Generasi Pengekor
Cari Berita

Advertisement

Skenario Dibalik Generasi Pengekor

6 Jun 2018


Damanhury Jab (Baju Hitam Kanan) Merupakan Aktivis Mahasiswa CIPAYUNG PLUS Malang


Indikatormalang.com- Judul yang kontradiktif dan menyinggung. Tapi ini adalah kisah awal mula dan akar permasalahan dari penyebab kehancuran dan kebobrokan Negeri ini.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki bermacam ragama kekayaan sumber daya alam dan itu sangatlah melimpah. Mulai dari pasir hingga emas, atau dari air hingga minyak bumi bahkan dengan kayaan ini ada lagu  yang mengatakan ”Indonesia adalah tanah syurga”. Memang pantas istilah ini disandang oleh Negeri kita yang kaya nan menawan ini.

Namun siapa sangka, berawal dari kekayaan inilah ancaman demi ancaman berdatangan dan menggempur. Negara – negara asing banyak yang merasa begitu tergiur untuk masuk dan turut serta menikmati kekayan “tanah syurga” ini. Dulu, mereka masuk dan dengan keserakahannya ingin menghegemoni kekayaan alam Negeri ini dengan paksa. Kini, mereka masuk dengan bentuk jelmaan laksana malaikat tapi berhati iblis dengan tujuan yang sama pula. Ingin merebut serta menguras habis – habisan kekayaan Negeri ini secara perlahan – lahan. 

Dijalan – jalan kita lihat, tuntutan demi tuntutan terus dilancarkan oleh mahasiswa dan masyarakat yang bersatu dalam Aliansi yang selalu berganti nama. Namun, suara – suara ini secara perlahan lahan mulai coba dibungkam dengan berbagai macam siasat yang amat licik. Masyarakat coba disibukkan untuk memikirkan perutnya dengan dinaikkannya harga kebutuha pokok setinggi mungkin. Sementara itu, Mahasiswa-pun disibukkan dengan dimunculkannya hasil produk – produk asing hasil perkembangan teknologi terbaru yang serba memanjakan dan diperdaya agar asyik berbicara tentang dunia sosialitanya. Maka, semakin menggila pulalah praktik – praktik eksploitasi sumber daya bangsa kita. Bunkan hanya sumber daya alam, tapi juga dengan sumber daya manusia. Hal ini terus digencarkan oleh relasi bisnis negeri kita dan terus berlanjut hingga menjalar dan menggerogoti tanah syurga yang perawan ini.

Di televisi sering kita dengar praktik – praktik kekerasan dilakukan oleh tuan dan nyona majikan kepada para tenaga  kerja asal Indonesia baik itu yang di Malaysia, Taiwan ataupun ataupun bahkan di Saudi Arabia. Ada yang di setrika badannya, ada yang seluruh tubuhnya disiram dengan air panas, hingga ada pula yang harus menjalani hukuman mati karena dituduh membunuh. Mereka adalah korban eksploitasi yang bernyawa namun terabaikan. Mereka rela dikirimkan kemanapun agar bisa bekerja dan menghasilkan uang demi menyekolahkan anaknya dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Sementara ditengah hiruk pikuk dan tumpang tindih pergolakan praktik eksploitasi, beberapa hari terakhir ini terdengan kabar yang cukup mencengangkan. Di Banyuwangi, ada aksi penolakan besar – besaran yang mulai dilangsungkan oleh warga sekitar. Aksi penolakan Tambang Emas yang hari ini sudah mulai menimbulkan berbagai macam pencemaran yang merisaukan masyarakat.  

Siapa dalang dari ini….???
Pemangku kebijakan adalah salahsatu pemain utama dan yang patut bertanggung jawab dalam kemorat – maritan negeri ini. Dengan alasan Ekonomi Global pada Rezim Orde Baru mengawali praktek eksploitasinya hingga menyerahkan salahsatu kekayaan Negeri yang hari ini masih menjadi pembahasan terseksi yaitu Freeport di tanah Papua. Kemudian hari ini, di era reformasi edan  yang serba alay ini, Pemangku kebijakan dengan serakahnya Membawa Negeri kita kedalam sebuah lembaran hitam yang menakutkan. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) lembaran hitam yang dibuka dengan penuh kepura – puraan ditulis dengan tinta emas tapi berbau amis. “Jika negara kita melibatkan diri dengan Ekonomi Global dan MEA, Maka kemiskinan dan kemelaratan yang menjadi permasalahan terbesar di negara kita akan segera teratasi”. Dengan embel – embel ini pula mereka menjelma. Buktinya, Penggusuran rumah warga dan pengangguran karna minimnya ketersediaan lapangan kerja masih merajalela. Bahkan telah muncul pengangguran kelas baru yakni “Pengangguran Intelektual”.

Siapa sebenarnya pemangku kebijakan diatas sana??? 

Mereka dulunya adalah mantan – mantan kaum Idealis yang saat ini kita kenal dengan nama Aktivist. Merekalah yang selalu berdiri di garda depan sebagai pahlawan bagi kaum tertindas. Mereka adalah orang – orang yang dulunya selalu mengumandangkan suara – suara minor dengan idealismenya yang terlihat seakan – akan kokoh laksana tembok Cina. Membangun kesan kepada yang melihatnya bahwa meski diterjang oleh Ombak dari Tujuh syamudrapun tidak akan pernah goyah Idealismenya.

Namun apa yang terjadi hari ini…???

Idealisme – idealisme itu laksana kertas lusuh yang diremas-remas kemudian dibuang kedalam keranjang sampah yang berisikan kotoran – kotoran yang berbau busuk. “Jika kau mau Uang, mari perlancar tujuan dan kepentingan kami”. Begitualah para pemilik modal merayu, laksana Iblis yang selalu berusaha memenjarakan manusia dalam kegelimangan dosa . Mereka menjadi pengekor, menjadi babu pemilik modal yang selalu bersedia serta manut sekalipun disuruh membunuh kaum mereka sendir. Disana, mereka berkonspirasi dengan kaum Imperialis agar bisa punya mobil mewah, Rumah Megah, dan Istri Cantik. Kemudian berdiri dengan tegak di depan publik, di depan adik – adik aktivist mahasiswanya yang sedang mendemo sembari berkata “Saya adalah orang sukses dan saya pernah menjadi seperti kalian” kata yang terucap tanpa beban dan dosa. Jika kau ingin sukses sepertiku, maka mari ikuti jalanku. Maka tidaklah sedikit dari para aktor mimbar bebas dan aktivist – aktivist-pun turut bergabung dalam lingkaran iblis yang menuhankan uang ini selepas mengenakan Toga. 

Lalu apa yang perlu kita perbuat…???
Jika hal ini dibiarkan berkalanjutan, maka mari menunggu kehancuran dan kebobrokan “Tanah Syurga” kita ini. Tentunya kita bukanlah orang – orang bodoh. sudah saatnya kita membuka mata dan hati yang hingga saat ini semakin masif digerogoti oleh virus moderenisme yang diciptakan untuk membunuh rasa kemanusiaan dan rasa kepekaan sosial kita. Dengan melihat realitas yang terjadi di tengah – tengah himpitan kehidupan masyarakat yang serba terpuruk ini,

Intelektual Organik kata Antonio Gramschi ber-esensikan bahwa mahasiswa sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab sebagai Agen of Social Controller harus kembali bangkit dengan segala kekuatan dan kemampuan intelektualnya. Jadikan fenomena yang memalukan ini sebagai bahan evaluasi kita terutama dalam kalangan mahasiswa dan terkhususnya pada kalangan aktivis.

Pasca Orde baru kebebasan berpendapat telah dibuka seluas – luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mari mengawal bersama negeri kita yang sangat kita cintai ini. Dengan kesadaran – kesadaran dan aksi – aksi nyata yang membangun dibawah naungan Bhineka Tunggal Ika.

( Sekali layar terkembang, Pantang Biduk surut ke tepi )