Pradana Boy; Berantas Terorisme Dengan Sadarkan Pemuda
Cari Berita

Advertisement

Pradana Boy; Berantas Terorisme Dengan Sadarkan Pemuda

16 Mei 2018

Foto : Dr. Pradana Boy ZTF, PhD salah satu perwakilan Duta Internasional Agama Dunia yang diselenggarakan oleh King Abdullah Bin Abdul Aziz International Center Fot Interreligius and Intercultural Dialogue (KAICIID).
Indikatormalang.com - Aktivitas Terorisme yang dilakukan oleh sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menyasar kelompok masyarakat lainnya kembali menghangat.

Dimulai dari tragedi Mako Brimob Jakarta hingga tragedi Surabaya yang sangat memilukan menimbulkan banyak spekulasi. Apa motifnya, bagaimana bisa mereka (teroris) bertindak diluar nalar dengan mengesampingkan nilai-nilai kemanusian yang sangat universal, dan siapakah mereka sebenarnya.

Spekulasi-spekulasi tersebut manjadi warna perbincangan keseharian masyarakat Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya. Apalagi ada dua momentum besar yang akan dihadapi oleh masyarakat Jawa Timur yakni, Aktiflvitas spritual (ibadah puasa) dan Aktivitas Materil (Pemilihan Gubenur, Bupati, dan Walikota) yang akan berlangsung bersamaan di beberapa daerah Jawa Timur.
Tentu saja trgedi tersebut menebar kegelisahan, memunculkan ketakutan hingga tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang merasa begitu phobia dengan adanya tragedi itu. Kebhineka-an Indonesia hari ini sedang di uji, sajauh manakah Indonesia sebagai bangsa dan negara akan terus wujud dalam perbedaan.
Dr. Pradana Boy ZTF, PhD salah satu perwakilan Duta Internasional Agama Dunia yang diselenggarakan oleh King Abdullah Bin Abdul Aziz International Center Fot Interreligius and Intercultural Dialogue (KAICIID) di Austria, yang ditemui oleh Indikator Malang untuk memberikan tanggapan terkait menguaktnya aktivitas teror yang terjadi di Indonesia tidak menafikan tentang hal itu, bahwa tindakan terorisme memang nyata dan ada.

"Terorisme memang merupakan tindakan yang nyata hari ini dan telah terjadi di Indonesia, termasuk di wilayah Jawa timur yakni Kota Surabaya dan sekitarnya. Namun yang menjadi perdebatan di masyarakat hingga kerap kali memunculkan pandangan yang saling bertentangan yaitu apakah tindakan ini dilakukan oleh kelompok agama ataukah ini sebuah skenario yang dilakukan oleh negara," urainya kepada Indikator Malang, Senin (15/05/18).

Menurut Mas Boy panggilan akrab Dr. Pradana Boy, dalam masalah terorisme ada dua kelompok besar yang berseteru. Kelompok pertama berpendapat, bahwa kasus ini dilakukan oleh kelompok Islam radikal. Kenapa demikian? Karena Indonesia adalah negara yang mayoritas Islam dan juga berdasarkan ciri-ciri pakaian yang digunakan oleh pelaku teror adalah busana yang notabenenya digunakan oleh kelompok Islam. Hal itulah yang memperkuat keyakinan kelompok pertama bahwa kejadian ini dilakukan oleh kelompok Islam radikal.

Bahkan, Aparat keamanan dan sebagian besar masyarakat-pun meyakini bahwa memang Kelompok Islam radikallah otak dari aksi teror ini. Maka, Konsekuensi sebagai golongan mayoritas adalah sebagai golongan yang lebih dominan dalam bertindak dalam wilayahnya.

Sementara itu, kelompok kedua berpendapat bahwa pergolakan ini terindikasi merupakan salah satu upaya yang sengaja dimunculkan oleh negara atau pemangku kekuasaan untuk menyokong berbagai kepentingan Politik. Tidak menutup kemungkinan hal ini berkaitan erat dengan politik nasional dalam hal untuk melanggengkan kekuasaan atau sengaja mengadu domba masyarakat Indonesia.

"Perlu kita ketahui bersama, bahwa kelompok radikal ini tidak hanya ada dalam Islam tapi disetiap agama apapun memiliki kelompok radikal" terang Mas Boy.

"Memang demikianlah perilaku kelompok radikal ini dimana mereka cenderung menutup perbedaan dengan orang lain. Contohnya salah satunya adalah kelompok Islam radikal di Nigeria yang diberi nama "Boko Haram". Kelompok ini mengklaim bahwa tafsir kitab paling benar adalah tafsir mereka sementara yang lain salah semua. Padahal kita sama-sama ketahui bahwa Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan tindakan terorisme sebagaimana yang dilakukan saat ini" tambahnya kepada Indikator Malang.

Mas Boy mengutip pernyataan Pak Haedar Natsir, "Siapapun yang melakukan aksi teror itu maka dia bukanlah seorang muslim". Dari konteks itu menurut Mas Boy, Memang benar agama Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan ataupun paham radikalisme pada umatnya.

Untuk mengatasi kegaduhan ini, tentu saja kita butuh strategi dan formusali yang harus betul - betul matang dimana melalui formulasi tersebut akan kita jadikan sebagai perdana ataupun pembungkam manufer kesadisan pelaku teror ini. Caranya adalah menyadarkan kepada pemuda pemudi bangsa yang hari ini memang sebagian besar diantaranya masih memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. Untuk membungkam permainan nakal daripada para oknum teror ini dengan menggunakan dunia literasi sebagai tembok penghalang dan media Informasi sebagai sarana pendukung dalam melakukan pembentangan keharmonisan dan keutuhan bangsa ini.

Reporter: Jab