Duta Perdamaian Agama Dunia; Menjamu Teror Bom Dengan Solusi
Cari Berita

Advertisement

Duta Perdamaian Agama Dunia; Menjamu Teror Bom Dengan Solusi

15 Mei 2018

Foto :  Dr. Pradana Boy ZTF, PhD kepala studi islam dan filsafat (PSIF) UMM
Indikatormalang.com - Bom dan Terorisme hari ini menjadi pembahasan yang semakin marak di masyarakat khususnya di media Massa. Menebar kegelisahan, memunculkan ketakutan hingga tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang merasa begitu phobia dengan adanya isu ini. Indonesia memang hari ini sedang dalam kondisi tidak stabil dalam berbagai lini termasuk pertahanan dan keamanan.

Menanggapi hal ini, Dr. Pradana Boy ZTF, PhD salah satu perwakilan Duta Internasional agama dunia yang pernah diselenggarakan oleh King Abdullah Bin Abdulaziz International Center Fot Interreligius and Intercultural Dialogue (KAICIID) di Austria oleh pemerintah Arab Saudi mengatakan, bahwa tindakan terorisme memang nyata dan ada. Namun, masyarakat masih dalam keadaan bingung tentang tindakan terorisme itu, apakah tindakan itu memang dilakukan oleh kelompok agama atau memang tindakan kelompok tertentu.

"Terorisme memang merupakan tindakan yang nyata hari ini dan telah terjadi di Indonesia termasuk di wilayah Jawa timur yakni Kota Surabaya dan sekitarnya. Namun yang menjadi perdebatan di masyarakat hingga kerap kali memunculkan pandangan yang saling bertentangan yaitu apakah tindakan ini dilakukan oleh kelompok agama ataukah ini sebuah skenario yang dilakukan oleh negara," jelasnya kepada Indikator Malang, Senin (15/05/18).

Dalam wawancara yang dilakukan oleh reporter Indikator Malang, Dr. Pradana Boy atau yang akrab disapa Mas Boy berpendapat bahwa, dalam masalah terorisme ada dua kelompok besar yang berseteru, Yaitu Kelompok pertama berpendapat bahwa kasus ini dilakukan oleh kelompok Islam radikal. Kenapa demikian? Karena Indonesia adalah negara yang mayoritas Islam dan juga berdasarkan ciri-ciri pakaian yang digunakan oleh pelaku teror adalah busana yang notabenenya digunakan oleh kelompok Islam. Hal inilah yang memperkuat keyakinan kelompok pertama bahwa kejadian ini dilakukan oleh kelompok Islam radikal. Bahkan, Aparat keamanan dan sebagian besar masyarakat-pun meyakini bahwa memang Kelompok Islam radikallah otak dari aksi teror ini. Maka, Konsekuensi sebagai golongan mayoritas adalah sebagai golongan yang lebih dominan dalam bertindak dalam wilayahnya. Sementara itu, kelompok ke dua berpendapat bahwa pergolakan ini terindikasi merupakan salah satu upaya yang sengaja dimunculkan oleh negara/pemangku kekuasaan untuk menyokong berbagai kepentingan Politik, tidak menutup kemungkinan hal ini berkaitan erat dengan politik nasional dalam hal untuk melanggengkan kekuasaan atau sengaja mengadu domba masyarakat Indonesia.

Selain itu, Dr. Pradana Boy yang juga merupakan kepala studi islam dan filsafat (PSIF) UMM ini mengatakan bahwa, Perlu kita ketahui bersama bahwa kelompok radikal ini tidak hanya ada dalam Islam tapi disetiap agama memiliki kelompok radikal. Memang demikianlah perilaku kelompok radikal ini dimana mereka cenderung menutup perbedaan dengan orang lain. Contohnya salahsatunya kelompok Islam radikal di Nigeria yang diberi nama "Boko Haram" Kelompok ini mengklaim bahwa tafsir kitab paling benar adalah mereka sementara yang lain salah semua. Padahal kita sama-sama ketahui bahwa Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan tindakan terorisme sebagaimana yang dilakukan saat ini. Mengacu pada pernyataan Pak Haedar Natsir, "Siapapun yang melakukan aksi teror itu maka dia bukanlah seorang muslim" Memang benar agama Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan ataupun paham radikalisme pada umatnya.

Dr. Pradana Boy juga berpendapat, bahwa kelompok islam radikal memiliki dua kategori musuh, yaitu musuh jauh dan musuh dekat. Musuh dekat mereka adalah pemerintahan yang konstitusi Negaranya tidak sesuai dalam Islam contohnya Demokrasi dan Pemilu yang dianggap oleh kelompok ini sebagai sistem pemerintahan toghut. Sementara musuh yang kedua adalah Amerika dengan berbagai masalah yang tidak bisa diurai satu persatu. Tentunya ini adalah situasi yang teramat sangat memprihatikan dan kita tidak boleh mendidik generasi muda untuk tidak terjebak dalam hal seperti ini. Mari tidak gampang dalam melakukan Judgement tentang siapa pelakunya artinya pelakunya memang betul satu keluarga seperti yang diberitakan oleh berbagai media berita baik cetak maupun online. Tapi, apakah mereka benar-benar representasi daripada gerakan Islam radikal ataukah ada aktor lain yang bermain dibelakang mereka.

Dr. Pradana Boy mengatakan, Untuk membentengi ini semua agar nantinya tidak menimbulkan perpecahan, maka proses penyadaran harus dilakukan melalui anak muda. Kenapa anak muda? Karena anak muda adalah benih-benih bangsa yang harus di didik untuk sensitif terhadap budaya. Maksudnya kita tidak boleh egois memaksa Indentitas orang lain untuk sama dengan kita tapi harus saling mendukung dalam menjaga identitas masing-masing ditengah negeri yang "Bhineka Tunggal Ika" ini karena perbedaan itu tidak mungkin tidak ada dalam hidup. Selain itu, pemuda juga harus berperan aktif dalam gerakan literasi agar kemudian mampu membentengi masyarakat Indonesia dari manufer isu sara yang akhir-akhir ini marak bertebaran disekitar kita.

Reporter : Jab