Amankah Sistem Kemanan Perbankan Kita?
Cari Berita

Advertisement

Amankah Sistem Kemanan Perbankan Kita?

7 Apr 2018

Foto : Penulis
Indikatormalang.com - Satu sampai dua mingguan ini dunia perbankan digemparkan oleh kasus berkurangnya saldo ATM nasabah bank yang kebetulan terjadi pada nasabah Bank pelat merah (bank milik pemerintah) yakni Bank BRI dan Bank Mandiri. Berita ini mengemuka saat, belasan nasabah bank BRI Unit Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kehilangan uang tabungannya secara misterius.

Uang tabungan milik nasabah itu tiba-tiba berkurang dengan variasi antara Rp.500.000, Rp 4 juta, bahkan ada juga yang mencapai Rp 10 juta. Meskipun pada akhirnya uang nasabah diganti semua sesuai dengan saldo yang berkurang dari masing-masing tabungan nasabah.

Kejadian berkurangnya saldo secara misterius terjadi pula pada saldo ATM bank Mandiri, Sepeti yang dilansir, di Surabaya puluhan nasabah Bank Mandiri beramai-ramai mendatangi kantor bank Mandiri KCP Graha Pena, mereka mengaku mengurus pemblokiran rekening lantaran saldo mereka berkurang secara misterius. Fenomena ini membuat orang-orang yang menjadi nasabah bank was-was atau kuatir uang simpanan akan berkurang secara misterius.

Tidak jarang yang mulai mempertanyakan keamanan sistem Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Indonesia. Asmawi Syam, direktur utama PT. Bank Rakyat Indonesia, mengatakan saat ini system keamanan ATM di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan sistem keamanan di luar negari. Bahkan, sistem keamanan ATM di luar negeri telah menggunakan sistem finger print hingga sensor wajah.

ATM rentan akan tindak kejahatan, karena memuat sejumlah uang kontan yang cukup besar, sehingga menarik untuk menjadi target kejahatan. Tak mau ketinggalan pencuri digital menjadikan pengguna layanan ATM menjadi sasarannya. Ini berdampak pada bangunan yang ada ATMnya mayoritas ada kamera secara bult-in untuk merekam apabila ada jebakan atau kerusakan pada mesin ATM.

CCTV pada ATM berguna memantau kemungkinan orang-orang yang merusak mesin ATM untuk diambil uangnya. Yang terbaru adalah tindak kejahatan skimmer, yakni pelaku kejahatan memasang slot kartu palsu atau bahkan lampiran tambahan di atas slot kartu yang ada, sehingga bisa membaca informasi mengenai strip magnetic kartu. Ini bisa membantu mereka membuat kartu duplikat palsu untuk dipakai di ATM lain. Menjadi pertanyaan, Apakah ada keterlibatan pihak-pihak internal dalam serangkain kejahatan perbankan tersebut?

Agar kejahatan perbankan semakin sedikit bahkan tidak ada. Diperlukan beberapa langkah, baik dari sisi keamanan ATM itu sendiri seperti, mengganti PIN secara berkala, atau bahkan meningkatkan teknologi mesin ATM dengan menggunakan finger print atau sensor wajah.

Dari sisi hukum, pelaku kejahatan perbankan perlu ditinjau ulang artinya hukuman diperberat, supaya berpikir ulang apabila akan melakukan kejahatan di perbankan.

Penulis : Rokhmat Subagiyo (Dosen Ekonomi Syariah IAIN Tulungagung dan Konsultan/Peneliti Sosial Ekonomi pada Smart Consultans).