Media dan Politik
Cari Berita

Advertisement

Media dan Politik

12 Mar 2018

Foto : Penulis
Indikatormalang.com - Era baru dunia politik telah dimulai. Hal ini tercermin ketika semakin maraknya media yang semakin erat kaitannya dengan politik.

Media dan politik di era ini bagai sebuah pasangan yang tak terpisahkan. Otoritas pembina politik, cenderung akan terlihat semangat dengan semakin banyaknya kader dari kalangan pengusaha media yang notabene dapat dimanfaatkan untuk meraup pundi-pundi dari pengusaha tersebut. Uang tersebut digunakan untuk membiayai operasional partai politik selama beberapa tahun ke depan atau digunakan pada saat kampanye.

Mari kita ambil contoh, pengusaha Hary Tanosoedibjo adalah salah satu pengusaha sukses yang bergerak di segala bidang dari segala lini mulai media massa, properti, perbankan dan lain-lain.

Ketika HT sapaan akrab dari Hary Tanosoedibjo terjun dalam dunia politik yang dimulai ketika ia dipasangkan dengan Wiranto menjadi salah satu calon wakil presiden oleh partai Hanura seketika membuat partai Hanura menjadi salah satu partai yang bisa dibilang meningkat derajatnya baik secara popularitas ketika diadakan survey oleh berbagai lembaga survey.

Geliat semakin kencang ketika HT mendirikan partai Perindo setelah ia keluar dari partai Hanura. Seketika partai Perindo dikenal oleh banyak orang melalui layar kaca televisi. Hampir setiap hari profil partai Perindo bisa disaksikan dengan mudahnya di berbagai televisi milik HT yang tergabung dalam MNC grup. Lagu mars Perindo yang sering diputar menjadi salah satu cara HT untuk memperkenalkan partai Perindo yang notabene adalah partai baru yang berumur seumur jagung.

Sebelum HT dengan partai Perindo nya, masyarakat Indonesia telah lebih akrab dengan tampilan serupa yang dipertontonkan oleh stasiun televisi Metro TV dan TV One. Metro Tv yang notabene pemiliknya adalah Surya Paloh dan TV One pemiliknya adalah Aburizal Bakrie telah lebih dulu memanfaatkan media digital sebagai sarana untuk berkampanye. Partai Nasdem dan partai Golkar dicitrakan dengan sebaik mungkin. Bahkan ketika ada pemilukada partai Golkar dengan slogan Suara Golkar Suara Rakyat sering ditampilkan secara massif oleh TV One.

Setelah melihat fenomena tersebut maka bisa dipastikan bahwa pengusaha yang masuk ke dalam dunia politik akan menjadi salah satu lumbung penghasil dana yang signifikan untuk meraup suara ketika diadakannya pemilu. Semakin berkembangnya jaman menuju ke arah digitalisasi membuat semakin besar peluang politikus untuk mendapatkan keuntungan yang besar pula.

Jauh sebelum politikus Indonesia memanfaatkan media sebagai salah satu taktik untuk berkampanye, Amerika telah menggunakan ketika diadakannya pemilihan presiden tahun 1996. Di tahun tersebut calon presiden diibaratkan sebagai barang' yang dapat diperdagangkan dengan mudahnya. Melalui srategi marketing calon presiden ditampilkan sebagai sosok yang tepat untuk memimpin negara adikuasa ini.
Strategi iklan di dalam politik cukuplah ampuh untuk menaikkan popularitas masing-masing calon presiden. Namun, popularitas yang didapatkan oleh calon presiden ini membawa dampak yang buruk bagi calon pemilih di Amerika. Hal ini dikarenakan iklan yang ditampilkan masing-masing calon presiden menyindir calon presiden yang lain. Strategi ini dipercaya sebagai cara yang ampuh untuk menurunkan tingkat kepercayaan terhadap lawan-lawan politiknya.

Berkaca dari pengalaman Amerika Serikat yang sudah menggunakan media sebagai strategi untuk mendapatkan popularitas pada saat pemilu presiden tersebut, maka sudah menjadi keharusan bagi Indonesia ketika menggunakan media sebagai salah satu cara untuk mendongkrak popularitasya menjadi lebih cerdas dan kritis. Cerdas dalam hal menyampaikan konten-konten yang memuat hal-hal edukasi bagi masyarakat maupun kritis saat menanggapi berbagai permasalahan yang ada.

Kondisi demokrasi yang sedang diterapkan di Indonesia haruslah mendukung terciptanya suasana politik yang aman dan menyejukkan bagi siapapun yang merasakannya. Jika media ini mampu digunakan dengan cermat maka media dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan politik yang muaranya akan mensejahterakan masyarakat.

Konten di dalam media harus dikemas sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas. Harapannya adalah media dan politik saling beriringan digunakan sebagai sarana untuk menyebar luaskan Tuntunan yang positif dan tidak sekedar menampilkan Tontonan yang tidak ada artinya.

Penulis : Andung Eko Wijayanto (Mentri Sosial Masyarakat BEM -UMM 2017/2018).