Cara Hidup Hemat Ala Nabi Muhammad SAW
Cari Berita

Advertisement

Cara Hidup Hemat Ala Nabi Muhammad SAW

8 Feb 2018

Harga-harga bahan pokok merangkak naik secara pelan-pelan dan pasti, seperti harga beras IR64 sebelumnya kisaran angka Rp. 10ribu-an, saat ini sudah dikisaran Rp.12ribuan; harga telur ayam ras/petelur Rp. 21.000,-an, yang sebelumnya Rp. 18.000,-an (http://siskaperbapo.com/harga/tabel, 26 Januari 2018). Belum lagi kenaikan harga BBM non subsidi, jenis pertalite yang naik menjadi Rp. 7.600, sebelumnya Rp. 7.200,-; jenis pertamax menjadi Rp. 8.600 untuk wilayah provinsi Jawa Timur (//www.hargatop.id/hargapremium-hari-ini/). Ini mengakibatkan bertambahnya pengeluaran uang pada masingmasing konsumen barang tersebut. Bagi yang penghasilannya tetap, tentu akan berusaha berbelanja dengan memilih dan memilah barang-barang kebutuhan yang pokok saja sesuai kemampuan. Bahkan ada yang ‘puasa’ maksudnya sehari belanja, sehari tidak. Salah satu menyiasati. Ada pula yang berbuat negative, yakni melakukan kejahatan dalam upaya memenuhi kebutuhan pokoknya. Cara manusia dalam mempertahankan hidupnya ada dengan cara positif dan negative. Perilaku positif maksudnya berupaya dengan sungguh-sungguh berbelanja untuk hal-hal yang penting sesuai dengan uang yang tersedia, seperti menerapkan hidup hemat, tidak berlebih-lebihan dan mengukur berdasar kemampuan financial yang dimilikinya. Perilaku hidup negative adalah melakukan kegiatan belanja tanpa memperhatikan kemampuan keuangan yang dimiliki, ada uang sekarang dibelanjakan saat itu pula, yang penting keinginan tercapai, inilah yang dinamakan dengan gaya hidup boros. Gaya hidup boros sungguh merugikan bagi diri manusia, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dalam ajaran Islam, langkah nyata yang diambil adalah melawan budaya dan perilaku boros dengan mencontoh tauladan hidup hemat seperti yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Beliau tidak hanya mengajarkan secara lisan atau perkataan saja, namun dengan  memberikan contoh nyata yang aplikatif untuk hidup hemat dan sederhana. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Jika suapan salah seorang diantara Kamu sekalian itu terjatuh, maka ambillah dan bersihkan kotoran yang melekat padanya serta makanlah dan janganlah mengusap tangannya dengan sapu tangan (mencucui tangan) sebelum ia menuntaskan sisa makanan yang menempel pada jari-jarinya karena sesungguhnya ia tidak mengetahui bagian manakah itu yang mengandung berkah” (Riwayat Muslim). Hadits nabi Muhammad SAW memberikan isyarat bahwa sesuatu yang masih bermanfaat untuk kehidupan ini tidak boleh disia-siakan seperti menghabiskan makanan yang menempel pada jari-jarinya. Sebelum dicuci hendaklah dijilat atau dimakan sisa-sisanya. Manusia yang paling sempurna dalam meneladani ajaran rasulullah SAW adalah para shahabat, karena mereka yang hidup bersama beliau dengan melihat secara nyata. Dalam berpakaian dan makanan seperti perkataan Ibn Abbas , “makanlah apa yang kamu inginkan dan pakailah pakaian yang kamu inginkan, selagi tidak menimpa dua perkara, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sombong”. Ini selaras dengan perkembangan ilmu kedokteran modern, yakni sebagian besar penyakit pada diri manusia akibat pola makan yang salah. Apabila berlebihan dalam makan, akan menyebabkan penyakit, seperti diabetes mellitus, kolesterol, penyakit jantung, asam urat dan lain-lain. Sedangkan dalam islam, perilaku makan diatur sedemikian rupa, seperti, makanlah secukupnya dan berhentilah sebelum kenyang. Boros merupakan perilaku menghambur-hamburkan harta dilarang dalam Islam. Imam An-Nawawi, mengatakan bahwa “Sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang yang meminta-minta atas harta pada orang lain. Pemeliharaan pada harta terkandung kemaslahatan bagi dunia. Adapun kestabilan maslahat duniawinya akan berpengaruh pada kemaslahatan agamanya. Sebab dengannya, seseorang dapat fokus dalam urusan-urusan akheratnya”. Setiap aktivitas atau perbuatan manusia mempunyai konsekwensi dihadapan Allah SWT, sebab setiap aktivitas manusia akan dmintai pertanggungjawaban kelak. Berikut langkah-langkah praktis untuk menanggulangi gaya hidup boros. Antara lain: pertama, membenci perilaku boros, karena Allah SWT murka atas orang-orang yang boros. Seperti yang firman Allah dalam Surah Al-Israa’ (17) ayat 26 dan 27. Dia menyebut sebagai saudara setan; kedua, tidak melakukan perbuatan sombong, yakni tidak memakai pakaian dengan bermegah-megahan, makan secukupnya; ketiga, takut siksa api neraka seperti sabda nabi SAW “Sesungguhnya kaum laki-laki terlalu menceburkan diri pada harta Allah, bukan pada kebenaran, maka bagi mereka neraka dihari kiamat” (HR. Bukhari); keempat, menghindari berlebihan dalam pemakaian air sekalipun untuk berwudu; kelima, mengamalkan hidup sederhana, maksudnya membelanjakan hartanya dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir dan keenam, membelanjakan harta hanya di jalan Allah SWT, seperti sedekah, infaq, zakat, wakaf dan sebagainya. Jadi sikap berhemat itu berbeda dengan sikap hidup kikir, yakni orang-orang yang menafkahkan harta atau kekayaannya hanya dijalan Allah SWT semata, tidak menghambur- hamburkan atau berbelanja untuk keperluan dan kepentingan yang tidak penting, sedangkan sikap kikir adalah sebuah sikap atau perilaku orang yang susah mengeluarkan uang apabila tidak terpaksa. Semoga kita menjadi orang-orang yang menjauhi sikap hidup boros dan kikir. Wallahu ‘alam bi showwab.
Ilustrasi / Gambar : Cara Mudah ID


Harga-harga bahan pokok merangkak naik secara pelan-pelan dan pasti, seperti harga beras IR64 sebelumnya kisaran angka Rp. 10ribu-an, saat ini sudah dikisaran Rp.12ribuan; harga telur ayam ras/petelur Rp. 21.000,-an, yang sebelumnya Rp. 18.000,-an (http://siskaperbapo.com/harga/tabel, 26 Januari 2018). Belum lagi kenaikan harga BBM non subsidi, jenis pertalite yang naik menjadi Rp. 7.600, sebelumnya Rp. 7.200,-; jenis pertamax menjadi Rp. 8.600 untuk wilayah provinsi Jawa Timur (www.hargatop.id/hargapremium-hari-ini/).

Ini mengakibatkan bertambahnya pengeluaran uang pada masingmasing konsumen barang tersebut. Bagi yang penghasilannya tetap, tentu akan berusaha berbelanja dengan memilih dan memilah barang-barang kebutuhan yang pokok saja sesuai kemampuan. Bahkan ada yang ‘puasa’ maksudnya sehari belanja, sehari tidak. Salah satu menyiasati. Ada pula yang berbuat negative, yakni melakukan kejahatan dalam upaya memenuhi kebutuhan pokoknya.

Cara manusia dalam mempertahankan hidupnya ada dengan cara positif dan negative. Perilaku positif maksudnya berupaya dengan sungguh-sungguh berbelanja untuk hal-hal yang penting sesuai dengan uang yang tersedia, seperti menerapkan hidup hemat, tidak berlebih-lebihan dan mengukur berdasar kemampuan financial yang dimilikinya. Perilaku hidup negative adalah melakukan kegiatan belanja tanpa memperhatikan kemampuan keuangan yang dimiliki, ada uang sekarang dibelanjakan saat itu pula, yang penting keinginan tercapai, inilah yang dinamakan dengan gaya hidup boros. Gaya hidup boros sungguh merugikan bagi diri manusia, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dalam ajaran Islam, langkah nyata yang diambil adalah melawan budaya dan perilaku boros dengan mencontoh tauladan hidup hemat seperti yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW.

Beliau tidak hanya mengajarkan secara lisan atau perkataan saja, namun dengan memberikan contoh nyata yang aplikatif untuk hidup hemat dan sederhana. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Jika suapan salah seorang diantara Kamu sekalian itu terjatuh, maka ambillah dan bersihkan kotoran yang melekat padanya serta makanlah dan janganlah mengusap tangannya dengan sapu tangan (mencucui tangan) sebelum ia menuntaskan sisa makanan yang menempel pada jari-jarinya karena sesungguhnya ia tidak mengetahui bagian manakah itu yang mengandung berkah” (Riwayat Muslim). Hadits nabi Muhammad SAW memberikan isyarat bahwa sesuatu yang masih bermanfaat untuk kehidupan ini tidak boleh disia-siakan seperti menghabiskan makanan yang menempel pada jari-jarinya. Sebelum dicuci hendaklah dijilat atau dimakan sisa-sisanya.

Manusia yang paling sempurna dalam meneladani ajaran rasulullah SAW adalah para shahabat, karena mereka yang hidup bersama beliau dengan melihat secara nyata. Dalam berpakaian dan makanan seperti perkataan Ibn Abbas , “makanlah apa yang kamu inginkan dan pakailah pakaian yang kamu inginkan, selagi tidak menimpa dua perkara, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sombong”. Ini selaras dengan perkembangan ilmu kedokteran modern, yakni sebagian besar penyakit pada diri manusia akibat pola makan yang salah. Apabila berlebihan dalam makan, akan menyebabkan penyakit, seperti diabetes mellitus, kolesterol, penyakit jantung, asam urat dan lain-lain. Sedangkan dalam islam, perilaku makan diatur sedemikian rupa, seperti, makanlah secukupnya dan berhentilah sebelum kenyang.

Boros merupakan perilaku menghambur-hamburkan harta dilarang dalam Islam. Imam An-Nawawi, mengatakan bahwa “Sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang yang meminta-minta atas harta pada orang lain. Pemeliharaan pada harta terkandung kemaslahatan bagi dunia. Adapun kestabilan maslahat duniawinya akan berpengaruh pada kemaslahatan agamanya. Sebab dengannya, seseorang dapat fokus dalam urusan-urusan akheratnya”. Setiap aktivitas atau perbuatan manusia mempunyai konsekwensi dihadapan Allah SWT, sebab setiap aktivitas manusia akan dmintai pertanggungjawaban kelak.

Berikut langkah-langkah praktis untuk menanggulangi gaya hidup boros. Antara lain: pertama, membenci perilaku boros, karena Allah SWT murka atas orang-orang yang boros. Seperti yang firman Allah dalam Surah Al-Israa’ (17) ayat 26 dan 27. Dia menyebut sebagai saudara setan; kedua, tidak melakukan perbuatan sombong, yakni tidak memakai pakaian dengan bermegah-megahan, makan secukupnya; ketiga, takut siksa api neraka seperti sabda nabi SAW “Sesungguhnya kaum laki-laki terlalu menceburkan diri pada harta Allah, bukan pada kebenaran, maka bagi mereka neraka dihari kiamat” (HR. Bukhari); keempat, menghindari berlebihan dalam pemakaian air sekalipun untuk berwudu; kelima, mengamalkan hidup sederhana, maksudnya membelanjakan hartanya dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir dan keenam, membelanjakan harta hanya di jalan Allah SWT, seperti sedekah, infaq, zakat, wakaf dan sebagainya.

Jadi sikap berhemat itu berbeda dengan sikap hidup kikir, yakni orang-orang yang menafkahkan harta atau kekayaannya hanya dijalan Allah SWT semata, tidak menghambur- hamburkan atau berbelanja untuk keperluan dan kepentingan yang tidak penting, sedangkan sikap kikir adalah sebuah sikap atau perilaku orang yang susah mengeluarkan uang apabila tidak terpaksa. Semoga kita menjadi orang-orang yang menjauhi sikap hidup boros dan kikir.

Wallahu ‘alam bi showwab.


Penulis: Rokhmat Subagiyo, SE, MEI
(Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Tulungagung Dan Konsultan/Trainer Kewirausahaan, UKM dan Perbankan Syariah)