Implementasi Literasi Sastra di Kota Malang
Cari Berita

Advertisement

Implementasi Literasi Sastra di Kota Malang

1 Des 2017

Foto : Penulis
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah gerakan yang bertujuan untuk membudayakan kegiatan membaca bagi siswa. Dibentuknya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) berawal dari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa di Indonesia rendah. Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa terutama membaca melalui sebuah kebijakan. Kebijakan tersebut tertuang dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Melalui kebijakan tersebut dibentuklah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang digunakan sebagai wadah untuk menampung segala kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa terutama membaca.

Dalam pelaksanaannya, pada periode tertentu yang terjadwal, dilakukan asesmen agar dampak keberadaan Gerakan Literasi Sekolah dapat diketahui dan terus-menerus dikembangkan. Gerakan Literasi Sekolah diharapkan mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari hal lainnya. Kemampuan ini sangat penting untuk pertubuhan intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi wawasannya.

“Buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya”. Itulah kata-kata yang sering diucapkan namun susah untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika disadari, hubungan antara buku dan membaca (pembaca) bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena banyak membaca, pengetahuan seseorang akan semakin bertambah sehingga memberi kemudahan dalam menggapai cita-cita. Dengan membaca pula sikap dan karakter seseorang dapat terbentuk ke arah yang lebih positif. Sikap yang lahir dari pengetahuan yang positif, bagaikan lentera yang selalu menerangi di jalan kebenaran.

Membaca memberikan pengaruh budaya yang sangat kuat untuk perkembangan literasi peserta didik. Sayangnya, sampai saat ini prestasi membaca peserta didik di Indonesia masih sangat rendah, Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Kemampuan literasi sangat penting untuk keberhasilan individu dan negara. Patut diakui bahwa secara bertahap sampai saat ini pemerintah selalu berupaya menyediakan berbagai infrastruktur pendukung seperti perpustakaan sekolah walaupun belum terpenuhi secara maksimal. Namun di sisi lain, daya guna dari perpustakaan itu sendiri belum tampak menjembatani penumbuhan minat baca siswa di sekolah.

Kegiatan literasi sastra di sekolah perlu dilakukan dengan melihat tahap-tahap literasi, yaitu : (1) tahap pembiasaan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap pembelajaran. Sebagian besar sekolah yang ada di Malang telah menerapkan Gerakan Literasi Sekolah untuk menumbuhkan minat baca peserta didik. Dalam kegiatan tersebut, kepala sekolah berperan sebagai penanggung jawab dan pengambil kebijakan. Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator siswa untuk mendorong minat membaca siswa. Disini siswa berperan sebagai pelaksana dari kegiatan literasi sastra.

Di beberapa sekolah di Malang yang telah menerapkan literasi sastra sudah masuk dalam tahap pengembangan. Dimana dalam suatu sekolah diterapkan kegiatan membaca 15 menit pada jam ke-0 atau sebelum masuk pada jam pelajaran. Dalam kegiatan ini guru juga berperan sebagai fasilitator untuk menyediakan buku bacaan sastra, bahan bacaan sastra yang diberikan kepada peserta didik disesuaikan dengan tingkatan dan kemampuan peserta didik dalam membaca dan mengolah informasi yang masuk. Bahan bacaan sastra yang digunakan seperti novel-novel populer.

Kegiatan tersebut sudah berjalan dan sangat efektif untuk meningkatkan minat baca peserta didik. Siswa mulai terbiasa membaca dengan adanya bahan bacaan. Namun kegiatan tidak hanya berhenti sampai disitu saja, setelah menyelesaikan satu novel, siswa diminta membuat fortofolio terkait dengan novel yang telah dibaca. Hal tersebut semakin meningkatkan kemampuan intelektual siswa tidak hanya dalam bidang membaca tetapi juga dalam hal menulis.

Kegiatan literasi sastra di Malang juga diterapkan dengan adanya kegitan wajib kunjung perpustakaan. Disini petugas perpustakaan memberikan jadwal berkunjung kepada setiap guru, lalu setiap guru mata pelajaran akan membawa siswa nya untuk berkunjung ke perpustakaan. Di dalam perpustakaan peserta didik bebas memilih buku bacaan apa yang akan dibaca.

Sekolah harus selalu melakukan kajian dan inovasi berkelanjutan agar dapat menjadi wadah/tempat yang baik bagi upaya menghidupkan sastra dan GLS. Keberhasilan sekolah dalam hal ini akan membawa perubahan bagi perkembangan pengetahuan siswa (termasuk guru) dalam dunia literasi. Membimbing siswa dalam dunia literasi tidak ubahnya seperti membawa mereka memasuki taman bunga, terasa nyaman dan menyenangkan. Pembelajaran sastra dalam GLS dapat menyenangkan apabila guru dan sekolah mampu menyajikannya secara menyenangkan pula.

Membimbing dan membiasakan anak untuk membaca sebuah buku tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses tersebut mengharuskan guru-guru mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, kesabaran, dan tentunya wawasan yang luas. Jika kegiatan literasi tersebut telah menjadi suatu kebiasaan yang telah mengakar di masyarakat. Saya yakin tahun ke depan akan ada generasi muda negeri ini yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Sesuatu yang belum terbiasa di masyarakat pasti akan sulit dilakukan, tetapi hal yang biasa itu tumbuh terkadang dari suatu hal yang harus dipaksa terlebih dahulu.


Penulis : Aditiya Riska Nandasari