Ahmad Nabil Bintang-Adi Raharjo: Sebuah Manifesto Kerja Untuk UIN Jakarta
Cari Berita

Advertisement

Ahmad Nabil Bintang-Adi Raharjo: Sebuah Manifesto Kerja Untuk UIN Jakarta

19 Des 2017




Kita harus beranjak dari sikap stagnan kearah yang lebih progresif. Nubuat historis Tridharma Mahasiswa memaksa kita dengan mata terbelanga untuk tetap responsif kepada problematika sosial dan mahasiswa. UIN Jakarta kita ikrarkan sebagai rahim yang melahirkan banyak solusi solutif yang tergerak dari daya imjiner mahasiswanya lewat nuansa kreatifitas efektif. Kita tidak berjalan di aras yang sepi, masalah menanti dan kompleks. Lalu bagaimana daya tawar kita kedepan?

Kita menghadapi situasi yang rumit diterpa oleh tubrukan sosial ekonomi politik ekternal yang nyatanya juga menerpa mahasiswa secara khusus nan bertubi. Banyak perkara khalayak tidak lagi menjadi medan juang kita. Generasi mahasiswa masa kini dianggap melanggengkan era transisi yang serba mengembangkan sikap permisif. Mahasiswa harus belajar bertaruh di masa ini dan nanti, sebuah now or never project.

Mahasiswa Indonesia wa bil khusus Mahasiswa UIN Jakarta, sadar bahwa kita sulit sekali membangun konsensus bersama. Perbedaan sikap tajam antara mahasiswa menjadi  kontraproduktif dalam penyelesaian masalah. Kita harus sadar, peradaban kita diancam dari luar dan dalam. Tersebarnya perusahaan industri low cost pruduction menjadi pemasaran produk konsumerisme hasil dari akumulasi kapital dan dan globalisasi tidak henti-hentinya mengusik psikologis kaum muda. Di mulai dari locus kecil kampus UIN Jakarta, reinterpretasi nilai dan perjuangan kemahasiswa yang kompatibel dengan zaman, bagaimana ikut membantu menciptakan politik yang berdaulat, ekonomi yang berdikari berkepribadian dalam kebudayaan.

             Taken For Granted Kedepan
UIN Jakarta memiliki banyak potensi dan budaya mahasiswa yang khas di dalamnya. Prodak pemikir intelektual yang kritis berkiprah di lingkup nasional juga tak sedikit. Ini jelas membentuk prototype bagi kampus yan berdiri 1957 ini. Solidaritas dan manajerial kepemimpinan mahasiswa di skop jurusan, fakultas, dan universitas ialah sumbu-sumbunya. Kita harus terkait kesemuanya, satu kata, rasa, dan tindakan, terlepas dari kepentingan ide dan konsep yang berbeda. Jelas itu wilayah yang kita harus hargai dan suburkan.

Kehidupan aktivisme tidak boleh lagi dipojokkan kedalam definisi yang diskredit dan sempit. Perjuangan kita harus sama-sama meniti ke arah yang sama. Lingkungan aktivisme Ciputat teruma mahasiswa UIN Jakarta terpetak-petak dalam kerangka idelogis yang bermacam. Sehingga, sulit rasanya kita menuju pemecahan masalah yang kongkret. Kita tak akan bisa menolak aktivisme mahasiswa dalam diri kita. Walaupun secara lahiriah bukan, namun secara batin atas tanggung jawab sosial kita harus dan berikrar jiwa aktivisme itu tertanam dalam pribadi mahasiswa UIN Jakarta.

Kita memasuki wilayah praksis filosofis buka retoris. UIN Jakarta harus memiliki tiga konsep pokok dengan perubahan mindset maju yang berpijak kepada kendala yang ada. Pertama, pengilmuan Islam Inklusif, UIN Jakarta jarang bahkan sudah mengurangi jatah pikiran penyuburan Islam Inklusif di Indonesia. Berbanding terbalik dengan banyak pendahulu di Kampus ini. Hampir pemikir Islam merujuk kepada alumninya. Sikap intoleransi dan gerakan kontra Islam dan Keindonesian (asas Pancasila) kita tajam terjadi. Bahkan, gerakan populisme yang kian marak terjadi juga dibumbui rasa kebencian pada sesama. Kita harus jujur bahwa gerakan Islam lebih banyak diambil alih oleh kampus non-Islam dengan gerakan dalam kampusnya. Sedikit geliat kajian mendalam di ranah mahasiswa membicangkan Islam yang ramah. Ideologi Radikalisme dan ektremisme lebih gambang diterima sekalipun memiliki resiko kekerdilan berpikir dan meniadakan asas berpijak sama yaitu sebagai manusia. UIN Jakarta harus me-repainthing  nilai-nilai Islam. Tujuannya jelas, mengembalikan UIN Jakarta sebagai garda terdepan dalam menyuplai ide dan gerakan Islam Inklusif.

Kedua, keadilan sosial dan keadilan ekonomi,  wilayah ini cukup fundamental karena memaksa kita tidak boleh bosan sebagai agent of change tapi maker of change bahkan mungkin legacy values. Keadilan sosial bukan soal pemeratan tetapi soal juga penghargaan. Negara ini cukup akut mengartikan pemerataan sebagai kunci, hingga lupa bahwa masyarakat perlu dikembangkan. Keadilan sosial basis juang yang menjadi kunci seberapa pengamalan nilai Pancasila bagi mahasiswa khususnya. Mahasiswa harus banyak mengambil masalah sosial sebagai beban dan bukan malah menggap sebagai fenomena politik yang absurd. Mahasiswa UIN Jakarta harus berkeyakinan tidak ada “Ratu Adil” yang bisa meluruskan carut-marut keadilan sosial kecuali kita sendiri.

Wilayah ekonomi sebagai motor gerak membangun bangsa perlu digiatkan dengan massifikasi enterpreneur di kalangan Mahasiswa.   Setidaknya jika ingin negeri maju, minimal memilki 2% pengusaha muda dari total keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Bandingkan dengan Singapura memilki 7.2%, Amerika 2.14%. jika mengaca ke negeri kita, dari sekitar 220 juta-an kita hanya memiliki 400.000 enterpreneur mandiri atau sekitar 0.18% wirausahawan. Jelas tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Yang pasti, UIN Jakarta kedepan harus dikonsepkan bukan hanya menjadi penyumbang buruh kerja tetapi mereka juga berani mandiri dan berwirausaha.

Ketiga, konsep nasionalisme progresif,  upaya ini tidak sekedar re-filosofi etis sebagai bangsa negara. tidak cukup sampai di sana. Era Proxi War yang makin marak menyebabkan kita mengalami kerugian. Ketergantungan kita kepada skema hutang negara dan ketidakberdayaan kita kepada identitas kita yang cendereng hibrida (campur) semakin sulit kita mengikat satu simpul.  Perang gaya baru a la Proxy War bukanlah konfrontasi langsung melainkan konfrontasi semua yang berupaya melemahkan sendi negara oleh kekuatan lain salah satunya agendanya menciptakan eforia di kampus agar mahasiswanya meninggalkan kampus, tidak kritis, ketagihan pesta dan mudah dihasut oleh hoax media sosial . Klaim negara lain atas budaya kita kian hari marak. Globalisasi lewat world is flat nya kita harus jawab bersama. Padahal kita tahu, UIN Jakarta bukan kaleng dengan isi satu warna. Beragam budaya di dalamnya tetapi lingkupnya sulit diketahui dan hanya beberapa saja yang menekuni. Primordialisme harus dianggap sebagai modal besar bagi UIN Jakarta, mereka sebenarnya ikut menyusun lingkungan kampus setelah meja kuliah tak cukup sepenuhnya memberikan kepuasan atas pertanyan dan persoalan yang dihadapi. kedepan, primordialisme harus juga diajak berkontirbusi tukar silang kebudayaan di UIN Jakarta.

Pada akhirnya, UIN Jakarta milik bersama ini harus dipijaki dengan arif dan bijaksana. Tak ada toleransi bahwa kita harus berbuat sebaik mungkin, uraian di atas hanyalah sepucuk harapan yang akan kita lakukan jika aral tak melintang. seyogyanya, yang abadi hanya perubahan itu sendiri, TANPA harus merubah peninggalan baik sebelumnya. Satu kata LANJUTKAN..!!!




salam NADI for UIN Jakarta