Lampu Kota
Cari Berita

Advertisement

Lampu Kota

6 Nov 2017



www.google.com


Akhir tahun datang lebih cepat dari biasa nya dalam kesimpulan yang bermacam-macam orang bisa merangkum kisahnya sendiri ataupun sekedar gosip ditahun berikutnya. Terkadang kisah menjadi proses yang begitu mengharukan ataupun memilukan, manusia hanya bisa mengambil jarak tembak konsepsi dan pengetahuan untuk mendatangkan persepsi yang dianggap benar dalam benaknya. Akhir bab tahun merupakan cita baru dari sepanjang harap, karena meyakini kita ada dikarenakan seberapa harapan itu dibaca disetiap harinya. Di penutup tahun kemajuan menyingkap selimutnya, denyut nadi ditangtang oleh moderenitas siapa yang tak siap tergilaslah olehnya. Di sepanjang jalan Jokotole sudah jarang ditemukan penjual kopi atau orang sekedar berteduh membungkus dada, hanyalah iklan-iklan komersil dengan dandanan desain jauh dari estetika dan kemengertian apa hubunganya dengan perubahan daya beli yang sebenarnya penghasilan masyarakatnya jauh dari kata ada, lampu kota berwarna berpacu disepanjang jalan memajangkan ilusi kota moderen impian ditengah keterhimpitan ekonomi.

Rais hanya bisa memandang lepas keindahan tatanan kotanya. Dalam benaknya kota mungil yang jauh dari target prodak industri maju tanpa dirasa telah mengganti canda penjual sate keliling dengan desah malu anak muda memadukan asmara dipojok taman kota. Dirinya meradang karena hanya jajanan dengan kemasan maju yang bisa berjualan disepanjang jalan Jokotole, baginya kota yang dijadikan simbol ramah tamah sejak jaman kolonial belanda berlangsung kini jauh lebih beringas lupa memanusiakan masyarakatnya.

“Ini hanya persoalan modal material bukan, kenapa mereka rela menukarkan hormat pada sejarah dan keajegan budaya?” seloroh kesal Rais.

Rais selalu mengamati denyut kota nya sehabis Kuliah di jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Raden Segara, Rais sering bertingkah tak beraturan saat petugas pamong praja mengusir pada pedagang kelontong bahkan warung pak Hamim tempat dia melepaskan lelah silah sudah diangkut keatas truk dan entah tahu kemana orang dan dagangannya saat ini.

“kau selalu mengaitkan semua ini dengan modal, bukankah kota kita benar-benar bersih belakangan ini, ini yang dicita-citakan wali kota kita dalam Adhipura nya yang diarak itu bukan” tegur Amir kawannya yang sedang duduk baca buku tak menghiraukan apa yang terjadi di taman kota. 

Amir sahabat karib Rais dari semester satu sudah tahu betul pembawaan temanya yang tak biasa tahan pemandangan kota dipermak hingga melupakan sisi humanis. Walau berbeda fakultas Amir yang notabennya Jurusan Komunikasi tahu bahwa sikap Rais merupakan penekanan karakteristik atas dasar simbolik kota nya yang berubah.

“sudah kau baca saja itu novel Leo Tolstoy itu, mana kau tahu soal kota ini” sergah Rais tak siap teguran Amir dari belakang.

“lemparkan saja dulu dadunya, baru kau lihat angka berapa yang jatuh ditanah” ledek Amir memancing reaksi Rais.

“kau berpihak sama siapa, pendapatku atau ketimpangan besar didepan matamu” Rais menimpali ledekan Amir dengan keras dengan raut muka sedikit menggusar.

“Mataku tak mendapatkan keterangan siapa benar dan salah di sini, hanya ilusi saja yang ada. Kau berilusi bahwa dengan mengamati lama kota ini berubah seketika ataupun dengan lampu neon besar di atasmu itu bisa menutupi semua harapan manusia itu hidup” amir mencoba meyakinkan Rais bahwa hanyalah harapan motif manusia eksis di dalam raung dan waktunya.

Karl Max dalam Pidatonya Januari 1859 menyatakan dalam produksi sosial yang orang-orang lakukan, mereka mengadakan hubungan-hubungan tertentu yang merupakan keharusan dan yang tidak tergantung dari kehendak mereka; hubungan-hubungan produksi ini sesuai dengan tahap perkembangan tertentu dari kekuatan-kekuatan produksi materiel mereka. Keseluruhan hubungan-hubungan produksi ini merupakan struktur ekonomi masyarakat-dasar yang nyata, di atas mana timbul struktur-struktur atas (superstructures) hukum dan politik dan dengan mana cocok pula bentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu. Cara produksi kehidupan materiel menentukan sifat umum dari proses-proses sosial, politik, dan spiritual dari kehidupan. Bukan kesadaran manusialah yang menentukan eksistensinya, melainkan sebaliknya; eksistensi sosialnyalah yang menentukan kesadarannya

Rais tertegun dengan perkataan santai yang dilontarkan oleh Amir padanya. Rais tahu bahwa Amir selain pendiam dia juga seorang “Khairil Anwar” kecil yang menumpuk buku beratus-ratus di rak belajarnya pengganti obrolan kegalauan.

“Bung kita ini bangsa Inlanders tempo silam belanda menyebut nya demikian, aku tak bermakusud menghina sejarah tapi sejarah selalu ditulis oleh tangan kuat dan ditangan kuatlah diciptakan perang. Jarang sekali kita menyelesaikan perkara dengan hati dingin perang padri yang di gagasan imam bonjol merupaka radikalisme pertama di negeri ini dan kemudian terus kebelakang kita jarang mendapati para kepala dingin, orang pintar fouding father hanya beridialog setelah itu rakyat tetap berperang. Kita serigala yang tak terpuaskan, yang kuat menang dan kita yang lemah akan kalah,” amir mencoba memberikan pembandingan.

“Atas dasar kau berkata demikian, kau merasa tidak sanggup lagi berjuang atau berada di pihak mereka, dan menyepakati agar kota ini menjadi pengap layaknya ibu kota?” Rais menanyakan balik komentar Rais
.
“bukankah ini soal Modal seperti yang kau maksud, kau berdiri di sisi jalan karena kau tak punya modal bukan. Sedang getir dadamu karena kau tak sanggup memberikan modal yang baik bagi pak Hamim hingga dia tak tau rimbanya sekarang, lagi pula apa susahnya kau menikmati pemandangan yang jarang seperti ini, anak desa bisa masuk kota dan warga kota bisa betah di rumahnya tanpa menghambur-hamburnya uang untuk sekedar datang ke bali” berkata amir sambil menutup bukunya.

Rais mulai luluh dengan gambaran-gambaran logis dari Amir. Dia kembali ke bangku dan duduk sambil lalu dia menyalakan sebatang rokok terlihat raut mukanya lelah dan bingung hendak mencari keyakinan.

“kau terlalu taat pada ideologi nakal mu, bahwa kemapanan hanya alat menindas kelas inferior dan superior bisa menertawan kita yang sedang berteduh tak bersalah yang menanggung dosa kemajuan ini. jujur bahkan buku yang kubaca untuk menganjurkan angkat tangan kiri sebagai simbol perlawan selalu takluk di bawah nalar material-material” Amir melumat bukunya seraya kesal geram dengan usaha-usaha untuk menyadarkan masyarakat jikalau ada yang salah dengan konsep pembangunan kotanya.

“mana aku pinjam buku Pendidikan Masyarakat Tertindas (Paulo Freire) milikmu, nampaknya bagus buat bahan pemanasan ospek mahasiswa baru lusa. Setidaknya tak menang di medan mampu menaruh ranjau-ranjau hidup baru di lapangan kota,” Canda Amir sambil menyeruput kopi dingin ditangannya.

Rais sudah dikenal sebagai seorang pandai dalam berorasi dengan nada tinggi. Hingga kawan-kawan sekelilingnya menyebutnya malcom-x dari timur. Berbeda dengan  Amir yang hanya menepi dipojok kampus yang sepi dengan membaca sesekali duduk termenung di bawah pohon tanpa kata apapun seakan ada sesuatu yang dipikirkan tetapi dalam omongannya mampu menggugah siapapun karena dirinya seorang kutu buku.

Rais belum terpuaskan atas apa yang terjadi, dia mencoba memikirkan dengan keras apa penawar yang hendak dijadikan solusi agar kotanya kembali hidup dengan senyum keakraban tanmpa harus berbisik layaknya pacaran. Dalam kehidupannya Rais dipandang sebagai sosok yang dikagumi kaum hawa, di kampusnya tak ada satupun mahasiswa yang tidak pernah dengan namanya disebutkan diorolan pojokan kampus, sepak terjangnya dari sikap kritisnya sudah dicap sebagai “TOA berjalan”, sudah banyak pula wanita yang mendekati mulai dari sekedar kenalan untuk numpang keren didekat Rais ataupun menjadikannya pasangan. Entah mengapa hati Rais tak tergugah sama sekali dengan hal demikian.

“woyy bengong aja....lagi mikirin siapa lagi, anak semester empat itu?” tegur Amir memecahkan kekhusukan Rais. Maklum beberapa hari belakangan Rais sedang diobrolkan kawan-kawannya sesama aktifis kampus atas kelakuannya menyebutkan nama salah satu mahasiswi saat orasi penolakan kenaikan tarif peminjaman buku. Walaupun hampir kawan-kawan nya tidak tau siapa nama yang terlanjur menggema di halaman rektorat kampusnya namun Amir sudah bisa menebaknya siapa yang dimaksudnya.

“ahh gosip saja kau, terlalu banyak berfikir kau ngelantur tidak jelas. Kau tak ada bukti kan atas tuduhanmu,” tanggap Rais.

“kadang mulut bisa bercerita lebih banyak, tapi mata jauh memantapkan apa yang kau bicarakan di hatimu bukankah begitu kata Sayyidina Ali ra. Bukan?” balas Amir.

“sudahlah tumben kau bicara soal remeh-temeh begituan, biasanya kau sangat anti dengan penjelasan ribet apalagi berhubungan dengan kata-kata cinta dan asmara?,” Rais menimpali balik.
Amir mengernyitkan dahinya, seraya jari telunjuknya menekuk ujung kertas bukunya untuk ditandai. Amir merasa obrolan Rais meninggi, dia faham akan tempramental yang ditunjukkan Rais dalam keseharianya, dia mencoba meredam dengan tidak memancing dengan pembahasan yang menurutnya privasi.

“cinta dan pengetahuan kadang tidak mengenakkan bung, keduanya punya jalan yang berbeda, nalar yang dipancarkan cinta selalu berbenturan dengan pengetahuan, itu kenapa cinta bangsa timur seperti kau langsung ditanggapi emosional tidak seperti barat cinta itu harus begitu rasional dengan berbagai ukuran-ukuran tertentu sehingga ujung-ujungnya hasrat disama ratakan dengan tujuan apa iti cinta” Amir kembali meberikan pembandingan agar Rais tidak emosional.

“itu kenapa kau selalu mengutuk cinta dan tak mau mencoba meninggal kata-kata bukumu yang tak tahu mana titiknya. Lihatlah pemuda di taman ini mereka berbahagia, kenapa kau malah mengutuk malam tak berkesudahan itu” Rais kembali bertanya.

“bukan aku tak takut terang, tetapi semakin pekat gelap malam yang kita jalani bukankah semakin dekat dengan sinar kecerahan” amir mengutif perkataan penyair besar pakistan Muhammad Iqbal.

“kau selalu berubah-ubah, siapa kau kadang kau lancar menanarkan mata kala mengkritik tak lupa kau bumbui dengan orasi-orasi tokoh kini kau malah berlemah-lemahan dengan kata-kata romantis yang dalam pikiranku kau tak kumengerti” rais menatap tajam kearah amir.

Amir menanggapi pertanyaan keheranan Rais dengan senyuman pendek. Tangannya mulai meraba tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah buku untuk dikasih kepada Rais. Buku pergolakan pemikiran islam karangan Ahmad Wahib seorang pembaharu islam lewat kajian kritis atas kondisi sosial dan kondisi pribadi atas agamanya.

“kini aku segalanya, aku tidak pernah nyaman saat dimanusiakan justeru kepalaku jauh berkeja keras saat ketidak adilalan, keculasan, dan kerinduaan akan damai mendera, buku ditanganmu adalah dunia yang aku coba pahami saat ini, bukan apapun. diriku bukan amir tetapi proses panjang meng-amir-kan sebelum jadi amir sesungguhnya” tegas kata amir membuat Rais menunduk.

“jika benar kau menginginkan ini, nikmati saja jalanmu. Hidup ini memang dipenuhi motif dan karena itulah kita bisa berprosesn panjang. Tak ada masa depan, detik ini adalah masa depan esok ada jika kita mampu memaknakan hari ini untuk dipantaskan dijalankan hari esok” Rais tertawa riang.

Lampu kota mulai menyala layaknya kunang-kunang mengumpulkan cahaya. Speker masjid agung melantunkan adzan itu tandanya kota akan berselmut dengan keindahan atau kemalangan baru. Malam jauh lebih panjang masanya dari pada siang oleh karenanya tuhan menyediakan berbagaia petunjuk seolah Dia ingin mengatakan bahwa malam adalah arena annas dan arrab. Di sepanjang jalan Jokotole mulai sepi dan hanya beberapa petugas mengawasi lalu lintas kota.  Rais dan Amir melangkahkan kaki meninggalkan pembicaraan soal diri dan masa depannya.


Melqy Mochamad
[Ketua Indonesian Civil Society]