Puluhan Anak Berkebutuhan Khusus Ikuti Perjusa
Cari Berita

Advertisement

Puluhan Anak Berkebutuhan Khusus Ikuti Perjusa

14 Agu 2017

Indikatormalang.com - Pagi itu di depan Sekolah Luar Biasa (SLB) Darma Wanita 01 jalan Kendalpayak Kecamatan Pakisaji, tampak sekumpulan anak sedang menampilkan tari-tarian yang diiringi gemuruhnya suara gamelan. Tubuhnya meliuk liuk dengan rancaknya mengikuti irama gamelan yang eksotis dan menghentak.  Semuanya nampak normal, namun sesungguhnya tarian itu terasa sangat istimewa. Pasalnya tarian tersebut ditampilkan oleh anak-anak istimewa, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Penarinya merupakan anak difabel tuna rungu Anggita dari SLB PGRI Sumberpucung dengan membawakan tari Topeng Malangan ‘Beskalan Patih Senggreng’.  Atraksi tersebut merupakan acara pembukaan kegiatan Perkemahan Jum'at - Sabtu yang digelar oleh Sekolah Luar Biasa Pakisaji Jum'at (11/8/17).  "Peserta perkemahan Jumat – Sabtu diikuti anak anak yang berkebutuhan khusus (ABK) dari sembilan gugus depan mulai Pakisaji, Tumpang, Kepanjen, Turen Lawang, Dampit dan Kalipare" ujar Sanimen Hari Subagyo, Pengurus Kwarcab Andalan Binamuda Urusan Siaga Pakisaji.  "Tujuannya agar anak yang berkebutuhan khusus mempunyai karakter mandiri. Siswa yang berkebutuhan khusus bisa menolong dirinya sendiri dan mengurus kehidupan sehari-harinya" tambahnya.  Tujuan tersebut juga diamini oleh Ketua Pelaksana Jambore Anak Berkebutuhan Khusus Bagus Susilo.  "Kegiatan jambore ini di ikuti 10 lembaga Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Malang. Tujuannya adalah untuk melatih kemandirian dan kreativitas siswa, melalui model pembelajaran di luar sekolah yang menyenangkan bagi peserta didik" terang terang Bagus.  Selain itu, lanjut Bagus, jambore ini diharapkan dapat mengasah kepekaan peserta didik menghadapi bebagai situasi, meningkatkan kepercayaan dan kompetensi diri, menjadi individu yang berakhlak mulia, memiliki wawasan kebangsaan, apresiasif terhadap seni dan budaya, terampil, dan tangkas, serta penuh percaya diri.  “Jambore ini sebagai kegiatan untuk melatih siswa berkebutuhan khusus guna belajar pancasila, NKRI, mengenal lingkungan dan macam- macam,” tandasnya.  "Jambore diikuti oleh 13 regu, masing-masing regu terdiri dari lima sampai tujuh peserta, yang berasal dari 10 Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Malang dengan berbagai jenis disabilitas, di antaranya difabel tuli, netra, autis, daksa dan mental retardasi" tambah Bagus.  Total keseluruhan peserta Perjusa sebanyak 72 anak berkebutuhan khusus yang terdiri dari 42 anak laki-laki dan 30 perempuan didampingi oleh 19 pembina pendamping dengan 34 panitia.  Rencananya Perjusa Jumat Sabtu akan selesai pukul 12.00 siang. Tujuan pemilihan hari Jumat Sabtu sebagai waktu pelaksanaan bertujuan agar setelah acara siswa masih bisa istirahat, sehingga hari Senin masuk sekolah sudah dalam kondisi bugar.  “Kegiatan ini memang baru di lakukan, namun nantinya akan menjadi kegiatan rutin tahunan" pungkas Bagus.  Sementara Sanimen berharap pihak kwarcab bisa turun lebih sungguh-sunguh lagi ubtuk menjadikan Perjusa SLB sebagai agenda dua tahun atau setahun sekali karena peserta Perjusa sendiri membutuhkan pelayanan khusus.  Selama berlangsungnya acara Perjusa para peserta ditangani langsung oleh para guru  pendidikan khusus dan layanan khusus (PKLK).
Para Peserta Perjusa SLB Sedang Berbaris Saat Acara Pembukaan / Foto: Istimewa
Indikatormalang.com - Pagi itu di depan Sekolah Luar Biasa (SLB) Darma Wanita 01 jalan Kendalpayak Kecamatan Pakisaji, tampak sekumpulan anak sedang menampilkan tari-tarian yang diiringi gemuruhnya suara gamelan. Tubuhnya meliuk liuk dengan rancaknya mengikuti irama gamelan yang eksotis dan menghentak.

Semuanya nampak normal, namun sesungguhnya tarian itu terasa sangat istimewa. Pasalnya tarian tersebut ditampilkan oleh anak-anak istimewa, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Penarinya merupakan anak difabel tuna rungu Anggita dari SLB PGRI Sumberpucung dengan membawakan tari Topeng Malangan ‘Beskalan Patih Senggreng’.

Atraksi tersebut merupakan bagian dari acara pembukaan kegiatan Perkemahan Jum'at - Sabtu yang digelar oleh Sekolah Luar Biasa Pakisaji Jum'at (11/8/17).

"Peserta perkemahan Jumat – Sabtu diikuti anak anak yang berkebutuhan khusus (ABK) dari sembilan gugus depan mulai Pakisaji, Tumpang, Kepanjen, Turen Lawang, Dampit dan Kalipare" ujar Sanimen Hari Subagyo, Pengurus Kwarcab Andalan Binamuda Urusan Siaga Pakisaji.

"Tujuannya agar anak yang berkebutuhan khusus mempunyai karakter mandiri. Siswa yang berkebutuhan khusus bisa menolong dirinya sendiri dan mengurus kehidupan sehari-harinya" tambahnya.

Tujuan tersebut juga diamini oleh Ketua Pelaksana Jambore Anak Berkebutuhan Khusus Bagus Susilo.

"Kegiatan jambore ini di ikuti 10 lembaga Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Malang. Tujuannya adalah untuk melatih kemandirian dan kreativitas siswa, melalui model pembelajaran di luar sekolah yang menyenangkan bagi peserta didik" terang Bagus.

Selain itu, lanjut Bagus, jambore ini diharapkan dapat mengasah kepekaan peserta didik menghadapi bebagai situasi, meningkatkan kepercayaan dan kompetensi diri, menjadi individu yang berakhlak mulia, memiliki wawasan kebangsaan, apresiasif terhadap seni dan budaya, terampil, dan tangkas, serta penuh percaya diri.

“Jambore ini sebagai kegiatan untuk melatih siswa berkebutuhan khusus guna belajar pancasila, NKRI, mengenal lingkungan dan macam- macam,” tandasnya.

"Jambore diikuti oleh 13 regu, masing-masing regu terdiri dari lima sampai tujuh peserta, yang berasal dari 10 Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Malang dengan berbagai jenis disabilitas, di antaranya difabel tuli, netra, autis, daksa dan mental retardasi" tambah Bagus.

Total keseluruhan peserta Perjusa sebanyak 72 anak berkebutuhan khusus yang terdiri dari 42 anak laki-laki dan 30 perempuan didampingi oleh 19 pembina pendamping dengan 34 panitia.

Rencananya Perjusa Jumat Sabtu akan selesai pukul 12.00 siang. Tujuan pemilihan hari Jumat Sabtu sebagai waktu pelaksanaan bertujuan agar setelah acara siswa masih bisa istirahat, sehingga hari Senin masuk sekolah sudah dalam kondisi bugar.

"Kegiatan ini memang baru di lakukan, namun nantinya akan menjadi kegiatan rutin tahunan" pungkas Bagus.

Sementara Sanimen berharap pihak kwarcab bisa turun lebih sungguh-sunguh lagi ubtuk menjadikan Perjusa SLB sebagai agenda dua tahun atau setahun sekali karena peserta Perjusa sendiri membutuhkan pelayanan khusus.

Selama berlangsungnya acara Perjusa para peserta ditangani langsung oleh para guru pendidikan khusus dan layanan khusus (PKLK).