Dari Sehelai Daun Sampai Menjadi Sebatang Rokok
Cari Berita

Advertisement

Dari Sehelai Daun Sampai Menjadi Sebatang Rokok

Mas'udi
10 Agu 2017

Indikatormalang.com-Indonesia merupakan negara agraris dimana sector pertanian merupakan sektor utama, baik sebagai mata pencaharian maupun penopang pembangunan dalam perekonomian. Pertanian mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian dalam arti sempit dan pertanian dalam arti luas (Mubyarto, 1994). Dalam arti sempit, pertanian menunjuk pada kegiatan pertanian rakyat yang biasanya hanya bercocok tanam atau melakukan budidaya tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai, dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui indonesia memiliki banyak penghasilan dari pabrik rokok, nah dari pabrik rokok tersebut ada beberapa tahapan atau proses yang di lalui untuk mendapat bahan baku rokok yaitu tembakau. Di indonesia sendiri, provinsi penghasil tembakau terbesar yaitu berada pada provinsi jawa timur dan jawa tengah, dilihat dari data statiskia produksi tembakau indonesia dalam angka 2016, jawa timur berada pada posisi pertama dengan jumlah produksi 107,795 ton. Itu terbukti dari luasnya lahan pertanian yang ada di jawa timur. Jika kita lihat lebih dalam lagi di daerah Jawa Timur sendiri memiliki daerah – daerah penghasil tembakau terbesar. Di antaranya berada di Kabupaten Pamekasan dengan produksi 30.818 ton, kedua dari Kabupaten Sumenep dengan produksi 21.348 ton dan di tempat ketiga teratas yaitu Kabupaten Probolinggo dengan jumlah produksi sebesar 13.427 ton. Penghasilan negara dalam bidang rokok tentu saja sangat besar dan menjanjikan, maka dari itu mari kita lihat lebih dalam tentang proses dari awal penanaman benih sampai pada proses pengeringan dan di olah oleh pabrik.  Dalam pertanian tembakau banyak hal atau tahap tahap yang harus di lalui. Bercocok tanam tembakau tidak lah semudah menanan tanaman pertanian lainnya, banyak keahlian khusus dan jam terbang pengalaman yang tinggi. Dimulai dengan cara menanam benih tembakau terlebih dahulu yang menggunakan alat di antaranya penutup plastik dan jerami. Jadi, setalah benih di taburkan di atas tanah yang sudah di siapkan maka selanjutnya tanah di tutupi dengan jerami lalu di lapisi dengan plastik untuk menjaga kelembaban suhu di dalam tanah agar benih dapat tumbuh sempurna dan merata. Setalah proses pembibitan, setidaknya kita harus menunggu kurang lebih 2 bulan agar bibit – bibit bisa di ambil dan di tanam pada lahan yang sesungguhnya yaitu sawah. Proses penanam juga tidak sembarangan, kita harus menanam satu perstau bibit yang sudah di siapkan dengan cara membuat lubang pada tanah lalu memasukkan bibit dan di tutupi kembali. Selama proses pertumbuhan dan perawatan bibit tembakau tersebut harus selalu di siram setidakya satu hari 2 kali penyiraman, di lakukan selama kurang lebih 2 bulan sampai pada masa dimana tanaman tembakau sudah mempunyai delapan sampai sepuluh daun. Pada usia tersebut tanaman tembakau tidak perlu lagi untuk di siram setiap hari tetapi hanya cukup 2 kali dalam seminggu dan 1 kali dalam satu minggu sawah akan diisi air penuh untuk mencukupi kebutuhan air pada tanaman. Umumnya tembakau dapat di panen daunnya pada saat mencapai umur 3 bulan. Dimana sudah ada daun kering pada bagian bawah. Cara penennya pun tidak sembarangan, untuk panen pertama yang di petik adalah 4 daun dari bawah. Karena daun yang sudah matang untuk di petik pertama kali adalah 4 daun dari bawah yang mana warna dari daun tersebut sudah berwarna hijau kekuningan.  Untuk sampai pada proses pengirisan daun maka daun – daun yang sudah di petik harus melewati masa pematangan dengan cara daun - daun di susun secara beridiri lalu di tutup dengan terpal sampai pada warna daun bernar – benar kuning dan proses tersebut membutuhkan waktu setikdaknya 3 – 4 hari. Ketika daun sudah berubah warna menjadi kuning maka di lajutnya pada proses pengirisan dengan cara manual, di desa desa sudah ada orang yang ahli dalam mengiris tembakau. Meskipun sekarang sudah ada mesin otomatis yang mengiris daun tembakau tetapi para petani tetap memilih dengan cara tradisional. Menurut para petani menggunakan mesin otomatis akan membuat warna daun berubah kecoklatan, itu di akibatkan karena putaran pisau dalam mesin terlalu cepat yang mengakibatkan daun daun cukup keras terpukul pisau ahirnya berubah warna. Proses selanjutnya adalah pengeringan daun – daun yang sudah di iris, proses ini di butuhkan waktu 2 hari sampai pada proses pengiriman ke pabrik – pabrik rokok seperti, DJARUM, GUDANG GARAM, BENTOEL, SAMPOERNA. Disitulah pabrik mengolah kembali tembakau yang sudah jadi untuk di jadikan lintingan – lintingan rokok berbagai merek. Sangat panjang proses tembakau untuk menjadi sebatang rokok. Dari ini kita bisa tahu bagaimana proses tembakau sawah sampai menjadi rokok batangan.  Penulis: Zeinuddin (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)
Daun Tembakau yang sudah kering. / Gambar: Bp. Blogspot
Indikatormalang.com-Indonesia merupakan negara agraris dimana sector pertanian merupakan sektor utama, baik sebagai mata pencaharian maupun penopang pembangunan dalam perekonomian. Pertanian mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian dalam arti sempit dan pertanian dalam arti luas (Mubyarto, 1994). Dalam arti sempit, pertanian menunjuk pada kegiatan pertanian rakyat yang biasanya hanya bercocok tanam atau melakukan budidaya tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai, dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui indonesia memiliki banyak penghasilan dari pabrik rokok, nah dari pabrik rokok tersebut ada beberapa tahapan atau proses yang di lalui untuk mendapat bahan baku rokok yaitu tembakau. Di indonesia sendiri, provinsi penghasil tembakau terbesar yaitu berada pada provinsi jawa timur dan jawa tengah, dilihat dari data statiskia produksi tembakau indonesia dalam angka 2016, jawa timur berada pada posisi pertama dengan jumlah produksi 107,795 ton. Itu terbukti dari luasnya lahan pertanian yang ada di jawa timur. Jika kita lihat lebih dalam lagi di daerah Jawa Timur sendiri memiliki daerah – daerah penghasil tembakau terbesar. Di antaranya berada di Kabupaten Pamekasan dengan produksi 30.818 ton, kedua dari Kabupaten Sumenep dengan produksi 21.348 ton dan di tempat ketiga teratas yaitu Kabupaten Probolinggo dengan jumlah produksi sebesar 13.427 ton. Penghasilan negara dalam bidang rokok tentu saja sangat besar dan menjanjikan, maka dari itu mari kita lihat lebih dalam tentang proses dari awal penanaman benih sampai pada proses pengeringan dan di olah oleh pabrik.

Dalam pertanian tembakau banyak hal atau tahap tahap yang harus di lalui. Bercocok tanam tembakau tidak lah semudah menanan tanaman pertanian lainnya, banyak keahlian khusus dan jam terbang pengalaman yang tinggi. Dimulai dengan cara menanam benih tembakau terlebih dahulu yang menggunakan alat di antaranya penutup plastik dan jerami. Jadi, setalah benih di taburkan di atas tanah yang sudah di siapkan maka selanjutnya tanah di tutupi dengan jerami lalu di lapisi dengan plastik untuk menjaga kelembaban suhu di dalam tanah agar benih dapat tumbuh sempurna dan merata. Setalah proses pembibitan, setidaknya kita harus menunggu kurang lebih 2 bulan agar bibit – bibit bisa di ambil dan di tanam pada lahan yang sesungguhnya yaitu sawah. Proses penanam juga tidak sembarangan, kita harus menanam satu perstau bibit yang sudah di siapkan dengan cara membuat lubang pada tanah lalu memasukkan bibit dan di tutupi kembali. Selama proses pertumbuhan dan perawatan bibit tembakau tersebut harus selalu di siram setidakya satu hari 2 kali penyiraman, di lakukan selama kurang lebih 2 bulan sampai pada masa dimana tanaman tembakau sudah mempunyai delapan sampai sepuluh daun. Pada usia tersebut tanaman tembakau tidak perlu lagi untuk di siram setiap hari tetapi hanya cukup 2 kali dalam seminggu dan 1 kali dalam satu minggu sawah akan diisi air penuh untuk mencukupi kebutuhan air pada tanaman. Umumnya tembakau dapat di panen daunnya pada saat mencapai umur 3 bulan. Dimana sudah ada daun kering pada bagian bawah. Cara penennya pun tidak sembarangan, untuk panen pertama yang di petik adalah 4 daun dari bawah. Karena daun yang sudah matang untuk di petik pertama kali adalah 4 daun dari bawah yang mana warna dari daun tersebut sudah berwarna hijau kekuningan.

Untuk sampai pada proses pengirisan daun maka daun – daun yang sudah di petik harus melewati masa pematangan dengan cara daun - daun di susun secara beridiri lalu di tutup dengan terpal sampai pada warna daun bernar – benar kuning dan proses tersebut membutuhkan waktu setikdaknya 3 – 4 hari. Ketika daun sudah berubah warna menjadi kuning maka di lajutnya pada proses pengirisan dengan cara manual, di desa desa sudah ada orang yang ahli dalam mengiris tembakau. Meskipun sekarang sudah ada mesin otomatis yang mengiris daun tembakau tetapi para petani tetap memilih dengan cara tradisional. Menurut para petani menggunakan mesin otomatis akan membuat warna daun berubah kecoklatan, itu di akibatkan karena putaran pisau dalam mesin terlalu cepat yang mengakibatkan daun daun cukup keras terpukul pisau ahirnya berubah warna. Proses selanjutnya adalah pengeringan daun – daun yang sudah di iris, proses ini di butuhkan waktu 2 hari sampai pada proses pengiriman ke pabrik – pabrik rokok. Disitulah pabrik mengolah kembali tembakau yang sudah jadi untuk di jadikan lintingan – lintingan rokok berbagai merek. Sangat panjang proses tembakau untuk menjadi sebatang rokok. Dari ini kita bisa tahu bagaimana proses tembakau sawah sampai menjadi rokok batangan.

Penulis: Zeinuddin (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)