Berkedok Kredit Motor Murah, Perempuan Cantik Perdaya Ratusan Orang
Cari Berita

Advertisement

Berkedok Kredit Motor Murah, Perempuan Cantik Perdaya Ratusan Orang

19 Agu 2017

Indikatormalang.com - Aksi tipu-tipu ber-omzet 1,7 milyar yang dilakukan oleh Risna Buatasik, 43 tahun, warga Mergan Raya V RT 10 RW 06, Tanjungrejo, Sukun Kota Malang ahirnya terbongkar. Jum'at (18/8/17).  Penipuan berkedok yayasan fiktif yang dilakukan oleh Risna tersebut sudah dilakukan sejak dua tahun lalu tepatnya tahun 2015 sebelum ahirnya ditangkap bulan Agustus ini.  Diperkirakan sebanyak 120 orang menderita kerugian Akibat ulah pelaku. Total kerugian warga ditaksir mencapai Rp 1,7 miliar.  "Pelaku menyatakan sudah menipu lebih dari 120 orang, dan mengumpulkan Rp 1,7 miliar dari hasil penipuannya,” ungkap Kasatreskrim Polres Makota, AKP Heru Dwi Purnomo.  Dengan mengandalkan bujuk rayu dan sebuah surat dari Yayasan Fiktif bernama Yayasan Pembinaan Perempuan Indonesia Mandiri Swedia-Indonesia pelaku melancarkan aksinya.  "Pelaku mengaku dari yayasan untuk menawarkan kredit motor murah. Separuh harga dibayar korban, sisanya dibayar oleh yayasan," jelas Heru.  Modusnya pelaku menawarkan kredit motor murah kepada korbannya. Pelaku memberi janji kepada para korbannya yang mayoritas perempuan tersebut bahwa separuh biaya pembelian motor akan ditutupi oleh pihak yayasan.  Untuk meyakinkan para korbannya, pelaku mengklaim yayasan tersebut begerak di bidang sosial dan pemberdayaan perempuan untuk mandiri.  Pelaku menjamin bahwa mereka akan dibantu karena yayasan yang dibawanya memiliki kerjasama dengan luar negeri.  Setelah mendapatkan uang, pelaku langsung memakai uang yang diberikan oleh korban, untuk membayar panjar serta dua kali cicilan bulanan motor tanpa sepengetahuan korban.  "Karena tipu dayanya meyakinkan, banyak korban yang tertarik dan langsung memberikan uang separuh dari harga beli motor" tambah Heru.    Setelah motor datang, kepada para korbannya pelaku mengatakan bahwa motornya sudah lunas. Pelaku pun melampirkan kwitansi palsu atas nama Sherlita.  Kwitansi tersebut dijadikan bukti pembayaran kepada para korbannya. Kwitansi tersebut digunakan oleh pelaku agar korban tidak curiga.  Pelaku juga menjanjikan BPKB akan turun dalam satu tahun, setelah cicilan motornya dilunasi oleh yayasan. Padahal kenyataannya, pelaku membeli motor menggunakan skema kredit melalui leasing secara normal dengan tenor selama tiga tahun tanpa sepengetahuan korban. Setelah motor diantar, pelaku pun menghilang tanpa jejak.  Dari aksinya tersebut rata-rata pelaku memperoleh keuntungan sebesar 8 juta hingga 15 juta rupiah, teegantung jenis motor yang dibeli korban.  Para korban baru menyadari telah jadi korban penipuan setelah pihak leasing datang untuk mengih uang cicilan motor yang belum dilunasi.  Aksi pelaku terbongkar setelah dilaporkan oleh dua korbannya  “Dia ditangkap di rumahnya setelah ada dua laporan yang masuk ke Polres Makota" beber Heru.  Karena perbuatannya pelaku telah melanggar  pasal 372 dan 378 KUHP dengan ancam pidana penjara maksimal 4 tahun
Pelaku beserta Barang Bukti saat ditampilkan Oleh Polres Kota Malang dalam sesi Press Rilis / Foto: Ist




Indikatormalang.com - Aksi tipu-tipu ber-omzet 1,7 milyar yang dilakukan oleh Risna Buatasik, 43 tahun, warga Mergan Raya V RT 10 RW 06, Tanjungrejo, Sukun Kota Malang ahirnya terbongkar. Jum'at (18/8/17).

Penipuan berkedok yayasan fiktif yang dilakukan oleh Risna tersebut sudah dilakukan sejak dua tahun lalu tepatnya tahun 2015 sebelum ahirnya ditangkap bulan Agustus ini.

Diperkirakan sebanyak 120 orang menderita kerugian Akibat ulah pelaku. Total kerugian warga ditaksir mencapai Rp 1,7 miliar.

"Pelaku menyatakan sudah menipu lebih dari 120 orang, dan mengumpulkan Rp 1,7 miliar dari hasil penipuannya,” ungkap Kasatreskrim Polres Makota, AKP Heru Dwi Purnomo.

Dengan mengandalkan bujuk rayu dan sebuah surat dari Yayasan Fiktif bernama Yayasan Pembinaan Perempuan Indonesia Mandiri Swedia-Indonesia pelaku melancarkan aksinya.

"Pelaku mengaku dari yayasan untuk menawarkan kredit motor murah. Separuh harga dibayar korban, sisanya dibayar oleh yayasan," jelas Heru.

Modusnya pelaku menawarkan kredit motor murah kepada korbannya. Pelaku memberi janji kepada para korbannya yang mayoritas perempuan tersebut bahwa separuh biaya pembelian motor akan ditutupi oleh pihak yayasan.

Untuk meyakinkan para korbannya, pelaku mengklaim yayasan tersebut begerak di bidang sosial dan pemberdayaan perempuan untuk mandiri.

Pelaku menjamin bahwa mereka akan dibantu karena yayasan yang dibawanya memiliki kerjasama dengan luar negeri.

Setelah mendapatkan uang, pelaku langsung memakai uang yang diberikan oleh korban, untuk membayar panjar serta dua kali cicilan bulanan motor tanpa sepengetahuan korban.

"Karena tipu dayanya meyakinkan, banyak korban yang tertarik dan langsung memberikan uang separuh dari harga beli motor" tambah Heru.

Setelah motor datang, kepada para korbannya pelaku mengatakan bahwa motornya sudah lunas. Pelaku pun melampirkan kwitansi palsu atas nama Sherlita.

Kwitansi tersebut dijadikan bukti pembayaran kepada para korbannya. Kwitansi tersebut digunakan oleh pelaku agar korban tidak curiga.

Pelaku juga menjanjikan BPKB akan turun dalam satu tahun, setelah cicilan motornya dilunasi oleh yayasan. Padahal kenyataannya, pelaku membeli motor menggunakan skema kredit melalui leasing secara normal dengan tenor selama tiga tahun tanpa sepengetahuan korban. Setelah motor diantar, pelaku pun menghilang tanpa jejak.

Dari aksinya tersebut rata-rata pelaku memperoleh keuntungan sebesar 8 juta hingga 15 juta rupiah, teegantung jenis motor yang dibeli korban.

Para korban baru menyadari telah jadi korban penipuan setelah pihak leasing datang untuk mengih uang cicilan motor yang belum dilunasi.

Aksi pelaku terbongkar setelah dilaporkan oleh dua korbannya

“Dia ditangkap di rumahnya setelah ada dua laporan yang masuk ke Polres Makota" beber Heru.

Karena perbuatannya pelaku telah melanggar pasal 372 dan 378 KUHP dengan ancam pidana penjara maksimal 4 tahun.