Dody Setyawan: Kepemimpinan Perempuan dalam Politik Lokal Bisa Membawa Harmoni
Cari Berita

Advertisement

Dody Setyawan: Kepemimpinan Perempuan dalam Politik Lokal Bisa Membawa Harmoni

24 Jul 2017

Indikatormalang.com - Kota Malang bersiap menyambut hingar bingar pesta demokrasi. Terhitung mulai tahun ini, dalam satu tahun Kedepan warga Kota Malang akan menikmati sajian hangatnya kontestasi politik lokal yang disebut Pilkada.  Beberapa nama sudah bermunculan ke publik untuk ikut serta dalam pemilihan Wali Kota Malang. Sejumlah Partai Politik sudah membuka pendaftaran untuk melakukan penjaringan calon yang akan diusung oleh partainya.  Ada catatan menarik menjelang pelaksanaan Pilkada. Salah satunya terkait komposisi gender para kontestan. Hingga kini nama-nama yang muncul masih didominasi oleh kaum laki-laki dan sedikit sekali dari kaum perempuan.  Walaupun calon laki-laki sangat dominan, bukan berarti Kota Malang tidak memiliki tokoh perempuan. Keberadaan calon dari kaum perempuan masih timbul tenggelam. Hal tersebut disebabkan belum adanya tokoh perempuan Kota Malang yang secara terbuka dan berani mendeklarasikan dirinya untuk maju.  Meski demikian sejumlah nama tokoh perempuan yang dianggap layak sudah menjadi bahan perbincangan khalayak ramai. Bahkan sebagian tokoh perempuan tersebut dianggap sangat layak memimpin Kota Malang. Sebabnya, para tokoh tersebut dianggap  bisa mewakili cita dan energi kaum muda yang dinamis dan pro perubahan.  Menurut Dody Setyawan seorang Pengamat Sosial yang sekaligus merupakan Ketua Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dalam sebuah kesempatan saat ditemui Indikator Malang mengatakan bahwa peluang perempuan memimpin Kota Malang sangat terbuka. Dengan catatan calon perempuan tersebut harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa mereka mampu dan layak seperti layaknya pemimpin laki-laki.  "Budaya kita masih mengenal sistem patriarki. Sehingga kepemimpinan harus bergantung kepada laki-laki" urai Dody saat berbincang dengan Indikator Malang.  "Apalagi ada pemahaman di dalam kontestasi politik ada stigma bahwa politik itu keras dan kotor shingga perempuan tidak layak ikut di dalamnya" tambah Dody.  Namun kondisi tersebut lambat laun mulai berubah. Masyarakat mulai bisa menerima kehadiran perempuan sebagai pemimpin. Apalagi sekarang sudah mulai banyak muncul figur perempuan yang berprestasi dalam kepemimpinan negara.  "Dekade ini berbeda dengan tahun 80-an, dimana perempuan sangat sulit menembus budaya tersebut" jelas Dody.  Menurutnya budaya saat ini sudah mulai terbuka. Sistem politik sudah mendukung eksistensi kaum perempuan. Kepemimpinan sudah tidak bergantung lagi pada jenis kelamin. Artinya sudah tidak ada lagi dikotomi politik bagi kaum perempuan.  "Perempuan menjadi pemimpin bukan lagi sebuah masalah, tinggal bagaimana kaum perempuan mendapatkan legitimasi politik dari masyarakat" lanjut Dody.  Dody menambahkan, dengan adanya sosok perempuan sebagai calon kepala daerah maka akan ada keseimbangan dalam menentukan piihan politik bagi masyarakat.  "Kota Malang dalam sejarahnya hingga sekarang masih belum ada Wali Kota yang berasal dari Kaum Perempuan. Kenapa kita tidak mencobanya?" urai Dody.  Karena itu momentum tahun 2018 merupakan sebuah peluang untuk memunculkan figur perempuan.  "Tinggal sekarang tugas partai politik untuk memberikan peluang dan mendorong kaum perempuan untuk terlibat dalam praktek-praktek politik Praktis" tandasnya.  Dalam pandangan Dody justeru melihat adanya keunggulan dalam diri perempuan yang bisa digunakan dalam kepemimpinan politik.  "Saya justeru melihat ada atribut yang melekat dalam prempuan. Perempuan adalah ibu dan lemah lembut. Sehingga dengan adanya perempuan dalam kepmimpinan politik akan terjadi sebuah harmoni" pugkasnya.  Harapannya, kemunculan calon perempuan dalan panggung politik dapat membawa harmoni pada kepemimpinan politik lokal. Dengan adanya harmoni tidak akan ada lagi kekisruhan politik lokal yang menghambat pembangunan daerah.
Dody Setyawan, Pengamat Sosial dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang / Foto: DonHelap
Indikatormalang.com - Kota Malang bersiap menyambut hingar bingar pesta demokrasi. Terhitung mulai tahun ini, dalam satu tahun Kedepan warga Kota Malang akan menikmati sajian hangatnya kontestasi politik lokal yang disebut Pilkada.

Beberapa nama sudah bermunculan ke publik untuk ikut serta dalam pemilihan Wali Kota Malang. Sejumlah Partai Politik sudah membuka pendaftaran untuk melakukan penjaringan calon yang akan diusung oleh partainya.

Ada catatan menarik menjelang pelaksanaan Pilkada. Salah satunya terkait komposisi gender para kontestan. Hingga kini nama-nama yang muncul masih didominasi oleh kaum laki-laki dan sedikit sekali dari kaum perempuan.

Walaupun calon laki-laki sangat dominan, bukan berarti Kota Malang tidak memiliki tokoh perempuan. Keberadaan calon dari kaum perempuan masih timbul tenggelam. Hal tersebut disebabkan belum adanya tokoh perempuan Kota Malang yang secara terbuka dan berani mendeklarasikan dirinya untuk maju.

Meski demikian sejumlah nama tokoh perempuan yang dianggap layak sudah menjadi bahan perbincangan khalayak ramai. Bahkan sebagian tokoh perempuan tersebut dianggap sangat layak memimpin Kota Malang. Sebabnya, para tokoh tersebut dianggap  bisa mewakili cita dan energi kaum muda yang dinamis dan pro perubahan.

Menurut Dody Setyawan seorang Pengamat Sosial yang sekaligus merupakan Ketua Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dalam sebuah kesempatan saat ditemui Indikator Malang mengatakan bahwa peluang perempuan memimpin Kota Malang sangat terbuka. Dengan catatan calon perempuan tersebut harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa mereka mampu dan layak seperti layaknya pemimpin laki-laki.

"Budaya kita masih mengenal sistem patriarki. Sehingga kepemimpinan harus bergantung kepada laki-laki" urai Dody saat berbincang dengan Indikator Malang.

"Apalagi ada stigma bahwa politik itu keras dan kotor shingga perempuan tidak layak ikut di dalamnya" tambah Dody.

Namun kondisi tersebut lambat laun mulai berubah. Masyarakat mulai bisa menerima kehadiran perempuan sebagai pemimpin. Apalagi sekarang sudah mulai banyak muncul figur perempuan yang berprestasi dalam kepemimpinan negara.

"Dekade ini berbeda dengan tahun 80-an, dimana perempuan sangat sulit menembus budaya tersebut" jelas Dody.

Menurutnya budaya saat ini sudah mulai terbuka. Sistem politik sudah mendukung eksistensi kaum perempuan. Kepemimpinan sudah tidak bergantung lagi pada jenis kelamin. Artinya sudah tidak ada lagi dikotomi politik bagi kaum perempuan.

"Perempuan menjadi pemimpin bukan lagi sebuah masalah, tinggal bagaimana kaum perempuan mendapatkan legitimasi politik dari masyarakat" lanjut Dody.

Dody menambahkan, dengan adanya sosok perempuan sebagai calon kepala daerah maka akan ada keseimbangan dalam menentukan pilihan politik bagi masyarakat.

"Kota Malang dalam sejarahnya hingga sekarang masih belum ada Wali Kota yang berasal dari Kaum Perempuan. Kenapa kita tidak mencobanya?" urai Dody.

Karena itu momentum tahun 2018 merupakan sebuah peluang untuk memunculkan figur perempuan.

"Tinggal sekarang tugas partai politik untuk memberikan peluang dan mendorong kaum perempuan untuk terlibat dalam praktek-praktek politik Praktis" tandasnya.

Dalam pandangan Dody justru melihat adanya keunggulan dalam diri perempuan yang bisa digunakan dalam kepemimpinan politik.

"Saya justru melihat ada atribut yang melekat dalam perempuan. Perempuan ibarat sosok seorang ibu yang memiliki sifat lemah lembut. Sehingga dengan adanya perempuan dalam kepemimpinan politik akan terjadi sebuah harmoni" pugkasnya.

Harapannya, kemunculan calon perempuan dalan panggung politik dapat membawa harmoni pada kepemimpinan politik lokal. Dengan adanya harmoni tidak akan ada lagi kekisruhan politik lokal yang menghambat pembangunan daerah.