Mahasiswa Solusi Dari Terancamnya Keutuhan NKRI
Cari Berita

Advertisement

Mahasiswa Solusi Dari Terancamnya Keutuhan NKRI

4 Jun 2017

Ilustrasi  / Gambar : indoUnity

Dalamnya cinta ini tenggelamkan ku di duka yang tedalam, hampa hati terasa kau tinggalkan ku maski ku tak rela. Salahkah diriku hingga saat ini, ku masih berharap kau tuk kembali. Ibarat lagu yang di populerkan oleh Naff kondisi negara kita saat ini. Kecintaan pada tanah kelahirannya sendiri, agamanya sendiri, rasnya sendiri, dan kelompoknya sendiri sehingga banyak yang bermunculan keinginanan untuk memerdekakan negerinya sendiri dan ingin melepaskan diri dari NKRI. Kedok agama digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dan kepentingan untuk sebagian orang. Saling membenarkan tujuannya sendiri dan selalu menyalahkan apa yang sudah di bangun oleh tanah tercinta kita Indonesia.

NKRI Harga mati, itu yang seharusnya kita serukan. Ingatkah aksi umat islam yang di nahkodai oleh Rizik Zihab yang di latar belakangi oleh kasus penista agama yang di lakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama yang akrab di sapa Ahok,? Aksi yang sangat luar biasa yang di lakukan oleh umat islam dari seluruh penjuru indonesia untuk menuntut agar pemerintah menindak tegas kasus penista agama. Di suatu pihak ada yang membenarkan langkah aksi itu, di sisi lain ada yang kurang sepaham dengan aksi tersebut. Banyak alasan dari berbagai kalangan kenapa harus turun. Dimana di antaranya, karena ketidak tegasan pemerintah dan lambannya mengambil tidakan tegas akan kasus tersebut. di samping itu Banyak yang menyatakan aksi itu di tunggangi aktor politik. Presiden Joko Widodo menyesalkan aksi demonstrasi hari Jumat (4/11) yang berakhir rusuh di sejumlah tempat, termasuk di depan Istana Negara, dan menuding adanya aktor-aktor politik yang memanfaatkan aksi tersebut (Berita Satu.com).

Pasca aksi inilah yang kemudian banyak memicu kesalah fahaman dari berbagai kalangan agama, ras dan suku. Kemudian di manfaatkan oleh para aktor-aktor politik untuk mengguncang persatuan dan kesatuan NKRI. Dan bahkan banyak yang terindikasi makar. Dimna salah satunya yang terkena tudingan isu makar pascha aksi yaitu Kiflan Zend dan sejumlah tokoh lainnya (Media Harapan).

Hari ini Indonesia di hebohkan dengan pembubaran HTI yang terindikasi akan merubah sistem kepemerintahan menjadi sistem Khilafah untuk mencapai perdamaian. “Pemerintah memutuskan untuk membubarkan dan melarang kegiatan yang di lakukan oleh organisasi kemasyarakatan (ormas) Hizbut Tahrir Indonesia (Kompas.com). ini kemudian akan semakin berdampak besar terhadap kondisi persatuan dan kesatuan NKRI. Dan banyak memicu pemikiran yang berbeda arah dengan kepemrintahan. Dimna salah satunya mengarah ke agama dan menimbulkan pemikiran bahwasanya Indonesia anti agama islam yang benar-kaffah islam. Walaupun senyatanya pemerintah selalu mengusahakan yang terbaik bagi kehidupan bangsa dalam naungan NKRI.

Pemerintah memunculkan stetmen “Gebuk dan Tendang” bagi ormas yang anti pancasila. Pancasila adalah ideologi satu-satunya dan sudah final dan tiak boleh di bicarakan lagi (Kompas.com). Kekawatiran pemerintah terhadap situasi dan kondisi yang tejadi di Indonesia mengharuskan mahasiswa juga harus berperan aktif dalam mewujudakn persatuan dan kesatuan NKRI. Mahasiswa adalah solusi masa depan bagi bangsa dan negara. Peran mahasiswa amatlah penting dalam dalam rangka membangun daerah, bangsa dan negara, karena memiliki peran strategis sebagai agen sosial, ekonomi dan dan politik serta mampu melakukan trobosan-trobosan sikap kritis dan progresif.

Dalam sejarahnya mahasiswa merupakan kelompok dalam kelas menengah yang kritis dan selalu mencoba memahami apa yang terjadi dalam masyarakat. Bahkan mahasiswa pada zaman kolonial menjadi kelompok elit yang paling terdidik yang harus di akuitelah mencetak sejarah, bahkan mengantarkan Indonesia pada gerbang kemerdekaan. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap mahasiswa untuk untuk memperjuangkan persatuan dan kesatuan NKRI khususnya di era kondisi indonesia yang pada saat ini sudah memprihatinkan. Sudah banyak perubahan yang di capai oleh akibat dari pergerakan mahasiswa. Mulai dari Kebangkitan Nasional di tahun 1920, sumpah pemuda di tahun 1928, proklamasi kemerdekaan RI 1945, hingga masa orde baru 1966 dan orde reformasi 1998. Menjadi catatan sejarah perjuangan mahasiswa dalam mencapai sejarah perubahan yang berdampak besar pada bangsa dan negara.

Mahasiswa sudah terlanjur menyandang gelar Agent Of Change, Agent Of Modernization, atau Agent-agent yang lain. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan gelar yang di sandangnya. Termasuk di era munculnya radikalisme ini. Hal inilah yang harus di support penuh oleh pemerintah bukanmalah di semakin di cegat dalam perembangannya. Seperti contoh kongkritnya kehidupan mesin organisasi yang selalu mencetak mhasiswa-mahasiswa cerdas dan kritis ini di larang tumbuh dan berkembang di dunia kampus. Seperti salah satunya HMI, PMII, KAMMI, GMNI dan masih banyak lagi mesin-mesin pencetak genearasi kritis dan cerdas di larang berkehidupan di wilyah kampus. Ini yang seharusya menjadi perhatian pemerintah dalam menyikapi problem perubahan untuk masa depan. Keleluasaan mahasiswa dalam memperjuangkan kebenaran menjadi terhalang oleh norma-norma yang di terapkan oleh kampus dan lembaga.

Secara garis besar, ada tiga tipologi atau karakteristik mahasiswa yang dimna di antarnya yaitu, Tipe Mahasiswa Pemimpin, Tipe Mahasiswa Aktivis, dan Tipe Mahasiswa Biasa. Fakta membuktikan dinamika kehidupan bangsa dan mahasiswa pada umumnya banyak di motori oleh mahasiswa Tipe Pemimpin dan Aktivis. Walaupun secara kuantitas mereka kecil, tapi mereka mampu menjadi pendorong dan agen utama perubahan dan dinamika kehidupan bangsa.

Catatan sejarah itu harusnya menjadi salah satu bagaimna pemerintah bisa bergandengan tangan dengan mahasiswa untuk saling menuntaskan problem yang ada di negara kita mulai dari problem radikalisme, terorisme, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Mahasiswa adalah tempatnya perubahan jika pemerintah mengayomi pada jalan yang benar. Dan mahasiswa juga akan menjadi pambrik dan ancaman radikalisme yang akan memcah NKRI jika pemerintah tidak sesuai dengan apa yang sudah menjadi norma yang terkandung dalam empat pilar kebangsaan.