Disabilitas Demokrasi, Pemira, KPRU dan Omek
Cari Berita

Advertisement

Disabilitas Demokrasi, Pemira, KPRU dan Omek

6 Jun 2017

Foto : Penulis
Pemilihan umum raya, yang kita ketahui bersama sebagai momen demokrasi milik mahasiswa tak hendaknya menjadi lapangan belajar yang cukup baik untuk para calon politisi indonesia.

Sistem pemilihan mahasiswa terbaik untuk mengelola unsur akreditasi kampus yaitu lembaga intra dirasa sudahlah rapi di UMM dan Hal ini bisa dibuktikan efektifitasnya dengan kampus kampus lain di malang. . menilik yang terjadi akhir akhir ini, mungkin menarik bila para regulator kampus mulai memperhatikan tindak tanduk mahasiswanya yang kian tidak mendukung kerapian sistem pemira di UMM.

Komisi pemilu raya universitas sebagai penyelenggara tertinggi di kampus, dengan segala tetek bengeknya tentang aturan dan pelaksanaan semakin rancu dengan terselipnya kepentingan kepentingan politik partai mahasiswa. bila boleh sedikit membuka rahasia, maka sesungguhnya open rekrutmen penyelenggara pemira tidaklah se ideal yang kita bayangkan. tidak ada satupun keanggotaan penyelenggara pemira yang tidak tergabung di dalam organisasi mahasiswa ekstra (dibaca OMEK) yang mana mereka semua membawa kepentingan mas masnya atau mbak mbaknya di omek guna memenangkan calon masing masing atau bahkan menghancurkan partai musuh. baru baru ini semisal, logika yang paling tidak masuk akal telah dilakukan dimana kpru jelas jelas mengakui keterlibatannya berkoalisi dengan beberapa partai.

Keputusan mengeluarkan kebijakan untuk melibatkan partai untuk meloloskan pendaftaran salah satu partai lain. hal ini tentu menghancurkan marwah kpru yang notabene independen dan mandiri. sebagai pengamat politik mahasiswa umm hal ini menjelaskan bahwa keputusan tersebut sangatlah terlihat sarat akan kepentingan, bisa dibahasakan manuver politik yang kasar karena terlalu mencolok untuk menghancurkan satu partai.

Sangat disayangkan, proses demokrasi yang penuh akan ketimpangan ini menjadi salah satu wujud disabilitas mahasiswa organisatoris yang selalu mengkoarkan perbaikan, tapi beratraksi penuh dengan kehancuran. sehingga tidak mengherankan bila indonesia masih saja penuh dengan politisi korup, politisi kotor, wong di kampus saja yang masih mahasiswa sudah begini. harapannya ke depan, pemilu raya tidak diobrak abrik dengan pemikiran dangkal sekelompok mahasiswa yang hanya bicara menang dan melupakan esensi pemira seutuhnya. mahasiswa tidak butuh siapa yang menang, tapi hanya butuh lembaga intra yang progressif dan sinergis untuk kebermanfaatan aktivitas mahasiswa. panjang umur perjuangan.


Penulis : Davi Maulana
(Mantan Ketua KPRU UMM 2015)