Saat Sabir Laluhu Merangkum Kisah Juang KPK Dalam Bukunya
Cari Berita

Advertisement

Saat Sabir Laluhu Merangkum Kisah Juang KPK Dalam Bukunya

18 Mei 2017

Jakarta- Tanggal 17 Mei menjadi masa yang istimewa sebagai Hari Buku Nasional. Tidak saja bagi masyarakat Indonesia untuk terus meletarikan kebudayaan aksara dan pemberantasan kebodohan. Hari itu juga menjadi istimewa bagi Sabir Laluhu yang meluncurkan buku Metamorphosis Sandi Komunikasi Korupsi Indonesia. Buku hasil kumpulan kisah-kisah petuanlangan reportase dan analisis dari seorang juralis di media nasional menjadi suntikan informasi mengenai teknik pengelabuhan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh koruptor dengan sandi tertentu. Ruangan lantai 16 KPK (18/5) tempat dilaksanakan bedah buku itu terasa sesak, penuh dengan awak media dan kawan-kawan aktifis. Kehadiran buku tersebut, menurut Sabir penulisnya akan disumbangkan sebagai media untuk memahami perkembangan kejahatan kroupsi sekaligus pengingat bahwa kinerja KPK belumlah maksimal.  Alexander Parwata Pimpinan KPK, menyebutkan kelahiran buku menceritakan cerita pilu sekagius heran, kenapa tindakan itu terjadi lewat berbagai cara. Pemberatasan korupsi di Indonesia akan terus menjadi persoalan bagi KPK. Buku ini mengingatkan KPK untuk terus bekerja sampai tuntas. Mengingat kejahatan mulai dari pencucian uang sampai tindak pidana dalam bidang suap terus ada. Di sisi lain, dia mengapresiasikan agar buku ini dibaca oleh semua kalangan.”Selamat Buat Sabir, buku luar biasa terutama dalam membantu pemberantasan korupsi lewat buku ini,” ungkapnya. Dengan gayanya yang mengebu-gebu, penonton hampir dibuat kembang-kempis dadanya saat dirinya mempertanyakan soal berapa kasus lagi yang ditangani KPK. Dirinya juga berani beradu debat dengan moderator Febri yang juga salah satu juru bicara KPK saat ini. Sabir tidak segan mengngkapkan data-data penting berkaitan dengan tidak pidana korupsi yang luput dari penyidikan bahkan justeru lepas tanpa tindakan signifikan.”Di sini saya punya data terkait kejahatan korupsi yang belum terungkap, ini harus jadi PR bagi KPK kedepannya,” tegas lelaki yang telah mengabdi bertugas meliput di KPK selama 5 tahun itu.  Efendy Gazali pengamat Komunikasi Politik sandi korupsi yang berkembang bermacam-macam justeru semakin tidak jelas. Istilah-istilah yang digunakan dalam korupsi terus berkembang sampai tidak kita bisa bayangkan pengertiannya. Metamofosis itu tak akan berhenti, akan menjadi modus yang lebih baru yang dikembangkan di masa yang akan datang. “Sabir penulis buku ini sangat berani, lebih bagus lagi kalau penulis ini juga berani institusinya sendiri,” tutup materinya diiringi gelak tawa semua peserta.  Hamda Zoelva  mantan ketua Mahkamah Konstitusi RI menuturkan tertarik dengan buku ini karena tidak ada kasus yang ditinggalkan oleh Sabir si penulisnya. Jadi repotase yang disajikan dalam bentuk buku akan menjadi rujukan di masa yang akan datang. Setelah membaca buku ini, ternyata sandi itu diciptakan secara mendadak berdasarkan kebudayaan setempat di daerah tersebut. Di mana kebudayaan itu digunakan sebagai alat komunikasi, lihat bagaimana masyarakat Papua menggunakan kata Pinang. Di mana Pinang merupakan alat berinteraksi ketika berkumpul memakan Pinang bersama di sana.” Sabir menulis repoetase ini sangat lengkap dan berani, dia seorang jurnalis sekaligus aktifis,” ungkap Ketua Syarikat Islam saat ini.[MD]


Jakarta- Tanggal 17 Mei menjadi masa yang istimewa sebagai Hari Buku Nasional. Tidak saja bagi masyarakat Indonesia untuk terus meletarikan kebudayaan aksara dan pemberantasan kebodohan. Hari itu juga menjadi istimewa bagi Sabir Laluhu yang meluncurkan buku Metamorphosis Sandi Komunikasi Korupsi Indonesia. Buku hasil kumpulan kisah-kisah petuanlangan reportase dan analisis dari seorang juralis di media nasional menjadi suntikan informasi mengenai teknik pengelabuhan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh koruptor dengan sandi tertentu. Ruangan lantai 16 KPK (18/5) tempat dilaksanakan bedah buku itu terasa sesak, penuh dengan awak media dan kawan-kawan aktifis. Kehadiran buku tersebut, menurut Sabir penulisnya akan disumbangkan sebagai media untuk memahami perkembangan kejahatan kroupsi sekaligus pengingat bahwa kinerja KPK belumlah maksimal.

Alexander Parwata Pimpinan KPK, menyebutkan kelahiran buku menceritakan cerita pilu sekagius heran, kenapa tindakan itu terjadi lewat berbagai cara. Pemberatasan korupsi di Indonesia akan terus menjadi persoalan bagi KPK. Buku ini mengingatkan KPK untuk terus bekerja sampai tuntas. Mengingat kejahatan mulai dari pencucian uang sampai tindak pidana dalam bidang suap terus ada. Di sisi lain, dia mengapresiasikan agar buku ini dibaca oleh semua kalangan.”Selamat Buat Sabir, buku luar biasa terutama dalam membantu pemberantasan korupsi lewat buku ini,” ungkapnya.

Dengan gayanya yang mengebu-gebu, penonton hampir dibuat kembang-kempis dadanya saat dirinya mempertanyakan soal berapa kasus lagi yang ditangani KPK. Dirinya juga berani beradu debat dengan moderator Febri yang juga salah satu juru bicara KPK saat ini. Sabir tidak segan mengngkapkan data-data penting berkaitan dengan tidak pidana korupsi yang luput dari penyidikan bahkan justeru lepas tanpa tindakan signifikan.”Di sini saya punya data terkait kejahatan korupsi yang belum terungkap, ini harus jadi PR bagi KPK kedepannya,” tegas lelaki yang telah mengabdi bertugas meliput di KPK selama 5 tahun itu.

Efendy Gazali pengamat Komunikasi Politik sandi korupsi yang berkembang bermacam-macam justeru semakin tidak jelas. Istilah-istilah yang digunakan dalam korupsi terus berkembang sampai tidak kita bisa bayangkan pengertiannya. Metamofosis itu tak akan berhenti, akan menjadi modus yang lebih baru yang dikembangkan di masa yang akan datang. “Sabir penulis buku ini sangat berani, lebih bagus lagi kalau penulis ini juga berani institusinya sendiri,” tutup materinya diiringi gelak tawa semua peserta.

Hamda Zoelva  mantan ketua Mahkamah Konstitusi RI menuturkan tertarik dengan buku ini karena tidak ada kasus yang ditinggalkan oleh Sabir si penulisnya. Jadi repotase yang disajikan dalam bentuk buku akan menjadi rujukan di masa yang akan datang. Setelah membaca buku ini, ternyata sandi itu diciptakan secara mendadak berdasarkan kebudayaan setempat di daerah tersebut. Di mana kebudayaan itu digunakan sebagai alat komunikasi, lihat bagaimana masyarakat Papua menggunakan kata Pinang. Di mana Pinang merupakan alat berinteraksi ketika berkumpul memakan Pinang bersama di sana.” Sabir menulis repoetase ini sangat lengkap dan berani, dia seorang jurnalis sekaligus aktifis,” ungkap Ketua Syarikat Islam saat ini.[MD]