Permasalahan Perkembangan Moral di Era Globalisasi
Cari Berita

Advertisement

Permasalahan Perkembangan Moral di Era Globalisasi

18 Mei 2017

Foto : Ilustrasi
Perkembangan individu tidak hanya terletak pada aspek pola pikir atau intelektual saja, Namun juga perkembangan moral. Seringkali perkembangan moral tidak diperhatikan dalam perkembangan pola pikir dan intelektual secara mendasar. Hal ini seringkali menimbulkan permasalahan ketika individu telah tumbuh menjadi dewasa, berkiprah dan mengabdi pada masyarakat. Contohnya adalah ketidakjujuran, kecurangan dan lain lain sehingga menyebabkan dampak buruk yang lebih besar nantinya seperti contohnya korupsi.

Dalam era dewasa ini (globalisasi) seperti yang kita rasakan bahwa teknologi, arus informasi dan lain-lain memang sedang gencar-gencarnya. Tidak dapat dipungkiri hal ini dapat menimbulkan dampak negatif di dalamnya. Contoh permasalahan yang merusak perkembangan moral yang disebabkan oleh arus globalisasi :

1. Anak akan berbohong ketika meminta uang dengan dalih membeli sesuatu yang diperlukan namun kenyataannya dia pergi ke warnet untuk bermain game online.

2. Kecurangan siswa dalam UASBN yang disebabkan oleh arus informasi bocoran kunci jawaban.
3.Budaya mencontek yang turun temurun.

Terjadi kerusakan moral. Banyak anak anak dibawah umur karena tontonan televisi yang buruk akhirnya berpacaran bahkan lebih jauh hamil di usia dini dan diluar nikah. Dan masih banyak permasalahan permasalahan yang kita jumpai di era ini. Hal ini selain dipengaruhi oleh globalisasi juga menandai suatu bentuk kegagalan lingkungan individu. Kegagalan maksudnya tidak adanya upaya untuk menguatkan sistem pendidikan karakter oleh lingkungan dalam perkembangan moral. Memang arus globalisasi tidak dapat dibendung, namun seyognyanya lingkungan dapat meminimalisir efek efek negatif dengan pendidikan karakter oleh lingkungan terhadap perkembangan moral individu.

Menurut John Locke dalam teorinya yakni tabularasa yang mengatakan bahwa anak/individu lahir bagai kertas putih, dan lingkungan yang akan membentuk pribadi individu. Lingkungan memang tidak terlepas dari fungsinya dalam mengemban tugas perkembangan individu terutama perkembangan moral. Menurut (Sartain : 1958) lingkungan dibagi atas tiga aspek yakni :

1. Lingkungan alam/luar (external of physical environment) yang berarti lingkungan alam.
2. Lingkungan dalam (internal environtment) yang berarti asupan asupan gizi yang ditujukan pada tubuh.
3. Lingkungan sosial / masyarakat (social environment) yang berarti setiap orang / manusia yang dapat mempengaruhi individu misalnya teman sebaya, masyarakat maupun keluarga.

Permasalahan perkembangan moral dapat diatasi dengan keluarga sebagai basis awal pendidikan karakter individu. Pola pembinaan dalam rangka penguatan peran keluarga dalam pendidikan karakter individu (anak) tersebut bisa dilakukan oleh orang tua dengan cara :
1. Menanamkan nilai akhlak yang diajarkan oleh agama kepada anak.
2. Menentukan pola asuh anak dengan melihat karakteristik anak.
3. Menanamkan nilai nilai kejujuran.
4. Memberikan pemahaman ketika anak mulai mengalami rasa ingin tahu tentang sesuatu.
5. Memberikan motivasi kepada anak, bisa dalam bentuk penghargaan saat berhasil ataupun support ketika ia gagal untuk membesarkan hatinya.
6. Mengontrol tontonan anak dirumah yang sesuai dengan usianya.
7. Mengenalkan suatu lingkungan teman sebaya anak.

Perkembangan moral sangat berkorelasi dengan pendidikan karakter dalam lingkup terkecil yakni keluarga. Hal tersebut tentu akan dapat meminimalisir permasalahan permasalahan perkembangan moral yang disebabkan oleh globalisasi. Sehingga individu selain berkembang dalam pola pikir dan intelektual, ia juga berkembang dalam perkembangan moralnya ke arah yang lebih baik.