Cerpen; Darmiati Sang Petani
Cari Berita

Advertisement

Cerpen; Darmiati Sang Petani

20 Mei 2017

Foto : Ilustrasi
Pada suatu desa hiduplah seorang petani bernama Darmiati. Darmiati adalah seorang petani wanita yang melanjutkan pekerjaan suaminya yang telah meninggal. Darmiati tidak mempunyai seorangpun dirumahnya, anak dan sanak saudaranya telah meninggalkannya untuk merantau ke kota. Usianya semakin tua namun tidak membuatnya mengeluh untuk tidak bekerja di sawah dan memberi makan manusia lewat panen padinya.

Suatu hari datanglah kabar dari pak lurah desa tersebut.
Suara ketokan pintu terdengar "tok tok tok". "Assalamualaikum." kata pak lurah. "Waalaikumsalam pak." saut bu Darmiati. "Ada apa pak malam - malam bapak kesini?" tanya ibu darmiati. "Ada yang perlu saya bicarakan dengan ibu Darmiati, boleh saya masuk?" kata pak lurah itu. "Boleh pak silahkan." jawab Damiarti.
"Begini bu, mulai bulan depan ibu tidak usah pergi dan menggarap sawah, saya disini diamanahi untuk membeli tanah ibu sebagai ganti , karena didesa ini akan dibangun pabrik besar. Ibu kan sudah tua, dan hidup ibu pun sekarang ini begini begini saja. Dengan uang ini ibu bisa menyusul sanak saudara atau membeli rumah bahkan mendirikan usaha bu." jelas pak lurah.
"Saya hanya ingin meneruskan keinginan suami saya dan cita cita leluhur disini pak untuk sawah ini tetap ada. Masalah sanak saudara di kota, pasti mereka akan pulang jika memang saya memanggil mereka. Jika saya berhenti, warga disini dan disana di kota makan apa pak?" saut bu Darmiati. "Ini dalam rangka pembangunan juga oleh pemerintah bu, terutama dalam rangka menuju era modern." jawab pak lurah. "Apakah modern menghalangi cita cita saya untuk tetap memberi makan kepada desa dan negeri ini?" tanya bu Darmiati. "Bukan bu, tidak harus sekarang ibu putuskan. Besok saya kembali lagi kesini. Ibu pikirkan dulu." jawab pak lurah. "Baiklah, tapi pak 2 kali, 3 kali bahkan ratusan kali bapak kesini itu tidak bisa merubah apapun pak, itu yang perlu bapak tau." kata bu Darmiati. "Baiklah bu, terima kasih atas waktunya. Saya pamit dulu, assalamualaikum." pamit pak lurah. "Sama sama, waalaikumsalam." kata bu Darmiati.

Bu Darmiati pun masuk ke dalam kamar dia merenung. Merenung apakah dia menerima atau tidak tawaran dari pak lurah. Di kamar dia menangisi semua cita cita pak Darman yang tidak lain adalah suaminya. Beliau pernah berkata, dan ibu Darmiati menuliskan kata katanya di tembok yang bertuliskan : Jaga tanah kita, itu adalah cara kita tetap memberi makan pada sebangsa kita manusia. "Aku harus tetap ke sawah besok, ada yang ingin aku tanyakan pada mereka mas." kata bu Darmi sambil berlinang air mata.

Saat pagi saat matahari mulai meninggi ibu Darmi pun kesawah. Dengan memakai caping, menenteng cangkul dan membawa sebungkus nasi di tangannya yang lain dan hati yang penuh ikhlas. Di setapak jalan yang membagi petakan demi petakan sawah ia duduk. Ia pun dikagetkan oleh sapaan dari sesuatu yng memanggil namanya. "Bu Darmiati." sapanya.
"Siapa gerangan yang menyapaku?" tanya bu Darmi heran. "Aku dibawahmu." sautnya. "Oh ular, ada apa?" tanya bu Darmi. "Kenapa kau termenung? Ada apa denganmu bu? Biasanya kau senyum dan bersemangat meskipun matahari sedang terik sekali seperti ini." tanya ular tersebut. "Aku bingung ular, kemarin pak lurah desa ini menemuiku dia mengabarkan bahwa sawah ini akan dibangun pabrik."
"Manusia selalu begitu, nanti sebangsamu akan makan apa bu?" tanya ular. "Ibu tidak tahu ular, bagaimana pendapatmu?" tanya bu Darmiati.
"Jika sawah ini tidak ada, nasipun tidak ada. Kau lah pahlawan bagi manusia bu. Yang selalu memberikan makan pada manusia dari hasil menanam padimu, jika sawah ini ditimbun, burung pipit akan kehilangan makanan, tikus tikus makananku akan lari dari sini juga. Aku pasti akan mati, belum lagi asap dan limbahnya yang akan mencemari rumahku, aku akan mati bu." kata ular.
"Benar katamu, aku akan mengusahakan, segeralah mencari makan, aku akan kerja lagi" kata bu Darmiati.

Bu Darmiati pun bekerja menggarap sawahnya hingga tak terasa sudah sore petang. Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya, di gubuk yang kecil di tepi hutan. Namun, di depan rumahnya sudah ada pak lurah yang menunggunya. "Baru pulang dari sawah bu?" tanya pak lurah. "Iya pak, bapak mau menanyakan yang kemarin?" kata bu Darmi. "Iya bu, uang dari pihak pabrik telah diserahkan pada saya. Saya telah taruh di dalam, ibu bisa mengambilnya, besok kami sudah lakukan penggarapan." jelas pak lurah.
"Tidak usah pak, saya memutuskan begini saja terus , biarkn saya tetap menjadi petani." saut bu Darmiati. "Sudahlah bu, saya pamit dulu. Saya sedang banyak urusan." bentak pak lurah. Mendengar bentak pak lurah bu Darmiati pun tak kuasa menahan badan tuanya. Ia jatuh ke tanah sambil menangis tersedu sedu.

Pak lurah meninggalkannya di pelataran rumah dengan tidak menoleh sama sekali ke arahnya. Bu Darmiati tertatih masuk rumah. Ia melihat 1 tas terbuka berisi tumpukan uang, i menutupnya dan tidur disebelahnya. Sambil merebahkan diri dia memandangi fotonya dengan pak Darman. Hati bu Darmiati semakin teriris atas perlakuan pak lurah. Pak lurah yang selama ini ia beri makan lewat padinya. Tanpa sadar semakin larut malam, bu Darmiati pun tertidur dengan pipi yang masih basah disamping uang yang diberikan pak lurah.

Pada pagi hari suara gaduh oun terdengar dari arah persawahan. Suara traktor, suara tangisan keras sekali terdengar. "Ada apa ini ? Mengapa ramai sekali?" tanya bu Darmiati heran. Tak tunggu lama ia pun bergegas menuju sawah.

Bu Darmiati berlari walaupun tertatih tatih sambil menenteng seweknya. Dia terkaget tatkala ia melihat sawahnya mulai digusur, para petani yang lain dan anak anak menangis. Tangisan mereka sangat keras sampai memenuhi semua isi teling bu Darmiati. Tak kuasa mendengar dan melihat penggusuran itu bu Darmiati jatuh dan memegangi kancing dadanya. "Tolong jangan lakukan itu." suara lirih bu Darmiati sambil merangkak di tanah. Penyakit jantungnya kambuh, pandangannya mulai kabur. Mesin mesin traktor semakin giat menguruk sawah warga desa itu.

Tak kuat melihatnya bu Darmiati akhirnya meninggal di tempat itu. Burung burung pipit terbang kebingungan ke udara mencari rumah pelarian. Tikus tikus semakin murung, berlarian mencari perlindungan. Ular pun demikian, ia lari kebetulan melihat jasad bu Darmiati yang sudah rebah tak bergerak di tanah. Ular pun menangis mlihat bu Darmi. Ular berkata pada jasad bu Darmiati : "Kau mati sebagai pahlawan bu, tanpa sadar kami pun kau berikan rumah dan makan. Sekarang sudah tidak ada lagi, kita selesai bu, kita telah selesai."

Pengarang : Faris Fauzan