Reposisi Paradigma Guru IPS
Cari Berita

Advertisement

Reposisi Paradigma Guru IPS

4 Apr 2017

Kemajuan merupakan hal yang mustahil tanpa adanya perubahan, dan mereka yang tidak mampu mengubah pikiran mereka, tidak akan mampu mengubah segalanya (George Bernard Shaw).  Pengantar Pembelajaran IPS sesungguhnya memiliki peran strategis bagi kondisi masyarakat masa mendatang . Kunci pentingnya adalah peran guru dalam pembelajaran IPS. Kamu nanti pilih jurusan apa? IPA atau IPS? Pilih jurusan IPA saja, .... IPA lebih bergengsi dan menjanjikan masa depan daripada IPS. Sekilas memang pendapat tersebut hidup di masyarakat sampai saat ini. Jurusan IPA masuk kelas sosial elite sedangkan IPS kelas sosial nomor dua. Nampaknya biasa dan sepele. Tetapi sesungguhnya tidak demikian adanya.   Pendapat di masyarakat, satu sisi tidak benar 100%. Tetapi apa dan bagaimana sisi lain positif, edukatif, dan konstruktif dari jurusan IPS yang tidak dipahami secara benar oleh masyarakat terlebih guru IPS khususnya. Bagi peserta didik pemilihan jurusan merupakan pergulatan batin sendiri. Pilihan atas diri sendiri, mengikuti keinginan orang tua, ikut saran guru, atau bahkan berdasar hasil tes. Kondisi ini menguras perhatian, emosi dan energi tersendiri. Apalagi jika pilihan jatuh ke IPS. Namun, pola pikir tentang IPS perlu diposisikan secara komprehensif sesuai dinamika sosial masyarakat terlebih semangat Kurikulum 2013.  Jurusan Elit Secara umum sekolah menengah pemilihan jurusan dibagi menjadi dua. Kedua kelompok besar tersebut ialah Jurusan IPA dan Jurusan IPS. Meskipun ada sekolah sekolah menyediakan jurusan Bahasa. Tiap-tiap jurusan memiliki peminat. Peminat tiap jurusan tentunya berdasar pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut diantaranya, pertimbangan subjektif dan atau objektif. Pertimbangan subjektif maksudnya pemilihan jurusan memang didasarkan pada minat. Minat tiap individu tentu didasarkan hal hal pengalaman pribadi. Selain minat, pertimbangan berdasar faktor genetis. Maksudnya pemilihan jurusan diukur karena latar belakang jurusan pendidikan orang tua, baik itu ayah atau ibu.   Pertimbangan objektif, pemilihan jurusan IPA/IPS didasarkan pada hasil tes potensi akademik. Hasil tes ini dipakai dasar mutlak saat pemilihan jurusan. Memang hasil tes memberikan ukuran objektif/ukuran objektif. Bahkan tes dipercayai merepresentasikan kemampuan untuk memilih jurusan. Bahkan ada pertimbangan lain, yaitu secara subjektif memenuhi syarat tetapi kenyataannya tidak berminat. Kondisi memiliki dampak psikologis selama proses belajar mengajar. Masalah tersebut menjadi kendala tersendiri baik pihak peserta didik, guru, atau bahkan kelas tersebut, lebih besar lagi sekolah. Lalu, memberi masalah bagi pihak orang tua itu sendiri. Bagaimana jika, minat ada tetapi hasil tes tidak memenuhi syarat. Maka kondisi ini menuntut kerja keras, ketekunan selama proses belajar  Keminderan Akademik Selain proses pemilihan jurusan, yang juga perlu dicermati ialah label jurusan favorit atau jurusan idola atau juga jurusan elite. Proses labelling terjadi secara horisontal baik secara komunitas maupun secara umum. Diantara para pemilih juga terjadi adu iklan bahwa jurusan IPA lebih elite dibanding jurusan IPS. Jurusan IPA dikampanyekan orang berotak "encer" dibanding Jurusan IPS. Anak IPA cara berpikirnya lebih logis. Jurusan IPS, orang-orangnya cara berpikirnya "agak aneh." Sisi perilaku anak IPA lebih teratur, penurut, sebaliknya anak IPS. Perilakunya, susah diatur, semaunya sendiri. Terkesan brutal. Proses labelling juga terjadi di wilayah guru.   Para guru khususnya IPA juga melakukan kampanye terselubung didalam kelas. IPA memiliki peluang masa depan lebih menjanjikan dibandingkan jurusan IPS. Secara sosialita pemilih jurusan IPS mengalami keminderan-akademik. Ditambah lagi guru IPS mengalami kesulitan membangun rasa percaya Diri bagi diri sendiri terlebih siswa. Mengapa demikian? Guru IPS masih pada tahap tahu, belum sampai memahami dan bersikap lalu mengamalkan. Tahapan tahapan berpikir yaitu mengetahui, memahami, mengambil sikap lalu mengamalkan. Guru IPS berdasarkan pengamatan dan dialog sederhana ditemukan, masih sebatas mengetahui bahwa IPS adalah ilmu yang mempelajari ilmu sosial. Ilmu berdasarkan pendapat para ahli, teori-teori hubungan manusia dan kondisi realitas serta masalah social. Apa nilai penting IPS, peran strategis apa dari IPS? Tidak dipahami.   Secara umum memang IPS merupakan kumpulan atau pertautan berbagai ilmu sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. IPS di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama keempat disiplin digabung menjadi. Namun, di sekolah menengah atas keempatnya berdiri sendiri sendiri. Pandangan lebih dalam adanya pandangan berbeda terhadap IPS. Sebagaian memiliki pendapat bahwa IPS sebatas ilmu murni. Konsekuensinya, hanya sebatas pengetahuan, ilmu, teori dari para ahli. Sebagian pendapat memposisikan IPS bukan hanya sebatas ilmu murni, teori semata. Namun IPS merupakan ilmu terapan. Ilmu terapan artinya dapat diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pada posisi inilah IPS memiliki nilai lebih yaitu selain ilmu murni dan ilmu terapan. Itulah sebagian karakteristik IPS.  Karakteristik IPS Setiap mata pelajaran dan jurusan memiliki ciri khas. IPS pun memiliki karakteristik. Lebih detil karakteristik IPS dipaparkan oleh Djahiri (Sapriya, 2006: 8), pertama, menautkan teori ilmu dengan fakta atau sebaliknya. Kedua, pembelajaran IPS bersifat komprehensif. Ketiga, mengutamakan peran aktif siswa melalui proses belajar inkuiri. Keempat, pembelajaran disusun dengan meningkatkan atau menghubungkan bahan-bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial dan lainnya dengan kehidupan nyata di masyarakat, pengalaman, permasalahan, kebutuhan, dan memproyeksikannya kepada kehidupan di masa depan. Kelima, IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat labil. Keenam, IPS menghayati hal-hal, arti, dan penghayatan hubungan antar manusia yang bersifat manusiawi. Ketujuh, pembelajaran tidak mengutamakan pengetahuan semata. Kedelapan, berusaha untuk memuaskan siswa yang berbeda melalui program maupun pembelajarannya. Kesembilan, pengembangan program pembelajaran senantiasa melaksanakan prinsip-prinsip, karakteristik (sifat dasar), dan pendekatan yang menjadi ciri IPS itu sendiri.   Dari uraian di atas nampak jelas IPS memiliki kekhususan dalam hal, pertama, bahwa ilmu pengetahuan IPS dikorelasikan dengan kenyataan sehari-hari. IPS menyatu dalam realitas sosial. Kedua, IPS memiliki wawasan yang luas (tidak hanya satu sudut pandang saja), Ketiga, lebih mendorong siswa lebih aktif mencari, menemukan, mengkorelasikan secara intelektual dan ilmiah. Keempat, siswa diajak untuk melihat realitas sosial berdasar berbagai disiplin ilmu terkait berdasar pengalaman. Kelima, IPS melekat dengan kondisi sosial yang sangat dinamis (berubah secara terus menerus dan cepat). Keenam, IPS juga mengajak siswa untuk berefleksi terhadap relasi antar manusia secara manusiawi. Ketujuh, IPS memiliki dimensi luas (bukan hanya pengetahuan semata). Kedelapan, IPS perlu juga mengakomodir dan memfasilitasi beragam siswa dalam cara belajar. Kesembilan, pembelajaran IPS diupayakan terus berkembang selama dalam prinsip-prinsip IPS. Itulah karakteristik IPS, pertanyaannya, apakah para guru IPS sudah mengetahui, memahami karakteristik IPS?  Bercermin Untuk bisa menjawab sudah atau belum mengetahui dan memahami karakteristik IPS bisa diukur berdasarkan beberapa hal : pertama apakah rancangan pembelajaran IPS sudah mencerminkan karakteristik IPS? Kedua, apakah metode pembelajaran IPS sudah senafas dengan karakteristik IPS? Ketiga, apakah media/alat/sumber belajar sudah mencerminkan karakteristik IPS? Keempat, apakah pemilihan dan penggunaan evaluasi sudah menjawab karakteristik IPS? Pertanyaan pertama tentang rancangan pembelajaran ditemukan masih menggunakan strategi copas absolut. Yang berubah identitas, nama kasek, nama pengampu, tanda tangan, dan pengampu. Lainnya sama persis. Pertanyaan kedua, meski sudah mengikuti berbagai pelatihan namun, pemilihan dan penggunaan metode ceramah sangat mewarnai, bahkan ketergantungan terhadap LKS masih kental. Terlebih menjawab pertanyaan pertanyaan masih pada ranah mengetahui dan memahami tidak sampai korelasi teori dan pengamatan realitas sosial. Ketiga, pemilihan dan penggunaan sumber belajar sekitar buku paket, LKS. Menonton film film masih terbentur keengganan mencari referensi , juga penggunaan media cetak (Koran, majalah) jauh dari harapan. Melalui membaca media cetak (koran) beberapa dimensi tercapai, mengikuti berita realitas sosial, membudayakan membaca, dan menghidupkan imajinasi sosial. Keempat, pemilihan penggunaan evaluasi pilihan ganda dan jawablah dengan singkat dan tepat begitu mendominasi. Evaluasi untuk memberi ruang berimajinasi sosial, seperti mendeskripsikan, mempresentasikan secara individu sangat kering. Melalui pertimbangan keempat hal tersebut yaitu rancangan pembelajaran, metode pembelajaran, media/sunber/alat pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran maka belum mengaplikasikan karakteristik IPS.  Transfer Belajar Hal tersebut membuat transfer belajar jauh dari harapan. Maksud transfer belajar menurut W.S. Winkel (1986:95), pemindahan hasil belajar dari mata pelajaran / bidang studi yang satu ke mata pelajaran / bidang studi yang lain atau ke kehidupan di luar lingkungan sekolah. Pemindahan itu berarti, bahwa hasil hasil belajar yang diperoleh digunakan di suatu bidang di luar lingkup mata pelajaran / bidang studi di mana hasil itu diperoleh. Bahkan lebih dari hasil belajar digunakan dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari . Hasil belajar tersebut bisa berupa cara-cara mengatur kegiatan intelektual, kemahiran-kemahiran intelektual, ketrampilan motorik, informasi verbal dan berbagai sikap. Belajar Geografi bermanfaat bagi bidang Ekonomi.   Belajar Ekonomi bermanfaat bagi bidang Sosiologi. Belajar Sosiologi bermanfaat bagi bidang Sejarah. Belajar Sejarah berguna bagi bidang Geografi. Lebih baik lagi, belajar satu ilmu berguna bagi beberapa bidang lain dalam kehidupan. Ini tampaknya yang belum terwujud. Mengapa? Karena masih kuatnya ego sektoral/mata pelajaran. Merasa bidangku berdiri sendiri. Tidak ada hubungan dan kaitannya dengan mata pelajaran lainnya. Kondisi ini masih sangat kental, sehingga nilai kemanfaatan sangat rendah atau dangkal. Padahal IPS sangat melekat dengan dinamika sosial masyarakat, pendekatan satu bidang studi/mata pelajaran sangatlah tidak mencukupi dan sangat rendah terhadap kompleksitas persoalan. Penerapan transfer belajar dari W.S. Winkel sangat berkorelasi positif dengan karakteristik pembelajaran IPS.   Untuk itu, perlu pemahaman lebih komprehensif tentang IPS. Transfer belajar IPS berkorelasi positif terhadap perilaku, sikap, pola pikir, ketrampilan sosial, kapasitas sosial bagi masyarakat. Agar hal tersebut mendekati maka guru perlu memiliki perspektif baru tentang IPS. Perspektif baru tersebut berdasar mengetahui, memahami, menyikapi dan mengamalkan karakteristik pembelajaran IPS. Pengalaman belajar menjadi pintu masuk bangunan pengalaman sosial belajar IPS, kecerdasan guru selama mengajar menjadi kunci penting, selain kecerdasan peserta didik, fasilitas sarana-prasarana.  Prinsip Kedepan Pengalaman belajar peserta didik ditentukan oleh beberapa prinsip dalam teknik mengajar IPS. Menurut Pane (Drs. H. Abu Ahmadi, 2004: 1390) dalam Sosiologi Pendidikan, mengemukakan beberapa prinsip dalam teknik mengajar yaitu metode mengajar hanya mempunyai arti yang efektif, jika kecakapan dan pengetahuan diperoleh secara kenyataan, dapat digunakan oleh individu di dalam menyesuaikan situasi sosial. Kedua, metode mengajar mesti menekankan pertama-tama atas tingkah laku sosial disamping kelas atau di luar kelas . Ketiga, metode mengajar mesti mencari untuk menggunakan kekuatan sosial, bekerja dalam kehidupan sosial agar dapat mengembangkan kapasitas bagi penyesuaian sosial. Melalui ketiga prinsip teknik mengajar IPS makin jelas peran penting IPS ketiga mengajar sesuai prinsip diatas. Wujud perspektif baru tersebut melalui, perombakan pola pikir, bahwa IPS merupakan bidang penting dan strategis bagi pembekalan dan penumbuh kembangan sikap positif bagi kehidupan bermasyarakat, revolusi proses belajar mengajar IPS yaitu bukan transfer ilmu melainkan transfer belajar positif dan reformasi pembelajaran tidak cukup bersumber buku paket tetapi membumikan IPS dalam kehidupan sehari-hari.  Penutup Dengan mengetahui, memahami, menyikapi bahwa IPS memiliki peran penting dan strategis bagi warga masyarakat maka saatnya guru IPS percaya diri selama mengajar, peserta didik bangga atas pilihan IPS masyarakat merasakan tranfers belajar IPS. Maka sekolah (kelas) menjadi tempat transfer belajar bagi kebutuhan saat ini dan masa depan. Hal tersebut sesuai dengan visi Kurikulum 2013 yaitu mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan. The past cannot be changed. The future is yet in your power. – (Masa lalu tak bisa diubah. Masa depan adalah kekuatanmu.) – Mary Pickford *) Engelbertus K.
Widijatmoko, M. Pd / Foto : Istimewa



Kemajuan merupakan hal yang mustahil tanpa adanya perubahan, dan mereka yang tidak mampu mengubah pikiran mereka, tidak akan mampu mengubah segalanya (George Bernard Shaw).

Pengantar
Pembelajaran IPS sesungguhnya memiliki peran strategis bagi kondisi masyarakat masa mendatang . Kunci pentingnya adalah peran guru dalam pembelajaran IPS. Kamu nanti pilih jurusan apa? IPA atau IPS? Pilih jurusan IPA saja, .... IPA lebih bergengsi dan menjanjikan masa depan daripada IPS. Sekilas memang pendapat tersebut hidup di masyarakat sampai saat ini. Jurusan IPA masuk kelas sosial elite sedangkan IPS kelas sosial nomor dua. Nampaknya biasa dan sepele. Tetapi sesungguhnya tidak demikian adanya.

Pendapat di masyarakat, satu sisi tidak benar 100%. Tetapi apa dan bagaimana sisi lain positif, edukatif, dan konstruktif dari jurusan IPS yang tidak dipahami secara benar oleh masyarakat terlebih guru IPS khususnya. Bagi peserta didik pemilihan jurusan merupakan pergulatan batin sendiri. Pilihan atas diri sendiri, mengikuti keinginan orang tua, ikut saran guru, atau bahkan berdasar hasil tes. Kondisi ini menguras perhatian, emosi dan energi tersendiri. Apalagi jika pilihan jatuh ke IPS. Namun, pola pikir tentang IPS perlu diposisikan secara komprehensif sesuai dinamika sosial masyarakat terlebih semangat Kurikulum 2013.

Jurusan Elit
Secara umum sekolah menengah pemilihan jurusan dibagi menjadi dua. Kedua kelompok besar tersebut ialah Jurusan IPA dan Jurusan IPS. Meskipun ada sekolah sekolah menyediakan jurusan Bahasa. Tiap-tiap jurusan memiliki peminat. Peminat tiap jurusan tentunya berdasar pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut diantaranya, pertimbangan subjektif dan atau objektif. Pertimbangan subjektif maksudnya pemilihan jurusan memang didasarkan pada minat. Minat tiap individu tentu didasarkan hal hal pengalaman pribadi. Selain minat, pertimbangan berdasar faktor genetis. Maksudnya pemilihan jurusan diukur karena latar belakang jurusan pendidikan orang tua, baik itu ayah atau ibu.

Pertimbangan objektif, pemilihan jurusan IPA/IPS didasarkan pada hasil tes potensi akademik. Hasil tes ini dipakai dasar mutlak saat pemilihan jurusan. Memang hasil tes memberikan ukuran objektif/ukuran objektif. Bahkan tes dipercayai merepresentasikan kemampuan untuk memilih jurusan. Bahkan ada pertimbangan lain, yaitu secara subjektif memenuhi syarat tetapi kenyataannya tidak berminat. Kondisi memiliki dampak psikologis selama proses belajar mengajar. Masalah tersebut menjadi kendala tersendiri baik pihak peserta didik, guru, atau bahkan kelas tersebut, lebih besar lagi sekolah. Lalu, memberi masalah bagi pihak orang tua itu sendiri. Bagaimana jika, minat ada tetapi hasil tes tidak memenuhi syarat. Maka kondisi ini menuntut kerja keras, ketekunan selama proses belajar

Keminderan Akademik
Selain proses pemilihan jurusan, yang juga perlu dicermati ialah label jurusan favorit atau jurusan idola atau juga jurusan elite. Proses labelling terjadi secara horisontal baik secara komunitas maupun secara umum. Diantara para pemilih juga terjadi adu iklan bahwa jurusan IPA lebih elite dibanding jurusan IPS. Jurusan IPA dikampanyekan orang berotak "encer" dibanding Jurusan IPS. Anak IPA cara berpikirnya lebih logis. Jurusan IPS, orang-orangnya cara berpikirnya "agak aneh." Sisi perilaku anak IPA lebih teratur, penurut, sebaliknya anak IPS. Perilakunya, susah diatur, semaunya sendiri. Terkesan brutal. Proses labelling juga terjadi di wilayah guru.

Para guru khususnya IPA juga melakukan kampanye terselubung didalam kelas. IPA memiliki peluang masa depan lebih menjanjikan dibandingkan jurusan IPS. Secara sosialita pemilih jurusan IPS mengalami keminderan-akademik. Ditambah lagi guru IPS mengalami kesulitan membangun rasa percaya Diri bagi diri sendiri terlebih siswa. Mengapa demikian? Guru IPS masih pada tahap tahu, belum sampai memahami dan bersikap lalu mengamalkan. Tahapan tahapan berpikir yaitu mengetahui, memahami, mengambil sikap lalu mengamalkan. Guru IPS berdasarkan pengamatan dan dialog sederhana ditemukan, masih sebatas mengetahui bahwa IPS adalah ilmu yang mempelajari ilmu sosial. Ilmu berdasarkan pendapat para ahli, teori-teori hubungan manusia dan kondisi realitas serta masalah social. Apa nilai penting IPS, peran strategis apa dari IPS? Tidak dipahami.

Secara umum memang IPS merupakan kumpulan atau pertautan berbagai ilmu sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. IPS di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama keempat disiplin digabung menjadi. Namun, di sekolah menengah atas keempatnya berdiri sendiri sendiri. Pandangan lebih dalam adanya pandangan berbeda terhadap IPS. Sebagaian memiliki pendapat bahwa IPS sebatas ilmu murni. Konsekuensinya, hanya sebatas pengetahuan, ilmu, teori dari para ahli. Sebagian pendapat memposisikan IPS bukan hanya sebatas ilmu murni, teori semata. Namun IPS merupakan ilmu terapan. Ilmu terapan artinya dapat diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pada posisi inilah IPS memiliki nilai lebih yaitu selain ilmu murni dan ilmu terapan. Itulah sebagian karakteristik IPS.

Karakteristik IPS
Setiap mata pelajaran dan jurusan memiliki ciri khas. IPS pun memiliki karakteristik. Lebih detil karakteristik IPS dipaparkan oleh Djahiri (Sapriya, 2006: 8), pertama, menautkan teori ilmu dengan fakta atau sebaliknya. Kedua, pembelajaran IPS bersifat komprehensif. Ketiga, mengutamakan peran aktif siswa melalui proses belajar inkuiri. Keempat, pembelajaran disusun dengan meningkatkan atau menghubungkan bahan-bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial dan lainnya dengan kehidupan nyata di masyarakat, pengalaman, permasalahan, kebutuhan, dan memproyeksikannya kepada kehidupan di masa depan. Kelima, IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat labil. Keenam, IPS menghayati hal-hal, arti, dan penghayatan hubungan antar manusia yang bersifat manusiawi. Ketujuh, pembelajaran tidak mengutamakan pengetahuan semata. Kedelapan, berusaha untuk memuaskan siswa yang berbeda melalui program maupun pembelajarannya. Kesembilan, pengembangan program pembelajaran senantiasa melaksanakan prinsip-prinsip, karakteristik (sifat dasar), dan pendekatan yang menjadi ciri IPS itu sendiri. 

Dari uraian di atas nampak jelas IPS memiliki kekhususan dalam hal, pertama, bahwa ilmu pengetahuan IPS dikorelasikan dengan kenyataan sehari-hari. IPS menyatu dalam realitas sosial. Kedua, IPS memiliki wawasan yang luas (tidak hanya satu sudut pandang saja), Ketiga, lebih mendorong siswa lebih aktif mencari, menemukan, mengkorelasikan secara intelektual dan ilmiah. Keempat, siswa diajak untuk melihat realitas sosial berdasar berbagai disiplin ilmu terkait berdasar pengalaman. Kelima, IPS melekat dengan kondisi sosial yang sangat dinamis (berubah secara terus menerus dan cepat). Keenam, IPS juga mengajak siswa untuk berefleksi terhadap relasi antar manusia secara manusiawi. Ketujuh, IPS memiliki dimensi luas (bukan hanya pengetahuan semata). Kedelapan, IPS perlu juga mengakomodir dan memfasilitasi beragam siswa dalam cara belajar. Kesembilan, pembelajaran IPS diupayakan terus berkembang selama dalam prinsip-prinsip IPS. Itulah karakteristik IPS, pertanyaannya, apakah para guru IPS sudah mengetahui, memahami karakteristik IPS?

Bercermin
Untuk bisa menjawab sudah atau belum mengetahui dan memahami karakteristik IPS bisa diukur berdasarkan beberapa hal : pertama apakah rancangan pembelajaran IPS sudah mencerminkan karakteristik IPS? Kedua, apakah metode pembelajaran IPS sudah senafas dengan karakteristik IPS? Ketiga, apakah media/alat/sumber belajar sudah mencerminkan karakteristik IPS? Keempat, apakah pemilihan dan penggunaan evaluasi sudah menjawab karakteristik IPS? Pertanyaan pertama tentang rancangan pembelajaran ditemukan masih menggunakan strategi copas absolut. Yang berubah identitas, nama kasek, nama pengampu, tanda tangan, dan pengampu. Lainnya sama persis. Pertanyaan kedua, meski sudah mengikuti berbagai pelatihan namun, pemilihan dan penggunaan metode ceramah sangat mewarnai, bahkan ketergantungan terhadap LKS masih kental. Terlebih menjawab pertanyaan pertanyaan masih pada ranah mengetahui dan memahami tidak sampai korelasi teori dan pengamatan realitas sosial. Ketiga, pemilihan dan penggunaan sumber belajar sekitar buku paket, LKS. Menonton film film masih terbentur keengganan mencari referensi , juga penggunaan media cetak (Koran, majalah) jauh dari harapan. Melalui membaca media cetak (koran) beberapa dimensi tercapai, mengikuti berita realitas sosial, membudayakan membaca, dan menghidupkan imajinasi sosial. Keempat, pemilihan penggunaan evaluasi pilihan ganda dan jawablah dengan singkat dan tepat begitu mendominasi. Evaluasi untuk memberi ruang berimajinasi sosial, seperti mendeskripsikan, mempresentasikan secara individu sangat kering. Melalui pertimbangan keempat hal tersebut yaitu rancangan pembelajaran, metode pembelajaran, media/sunber/alat pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran maka belum mengaplikasikan karakteristik IPS.

Transfer Belajar
Hal tersebut membuat transfer belajar jauh dari harapan. Maksud transfer belajar menurut W.S. Winkel (1986:95), pemindahan hasil belajar dari mata pelajaran / bidang studi yang satu ke mata pelajaran / bidang studi yang lain atau ke kehidupan di luar lingkungan sekolah. Pemindahan itu berarti, bahwa hasil hasil belajar yang diperoleh digunakan di suatu bidang di luar lingkup mata pelajaran / bidang studi di mana hasil itu diperoleh. Bahkan lebih dari hasil belajar digunakan dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari . Hasil belajar tersebut bisa berupa cara-cara mengatur kegiatan intelektual, kemahiran-kemahiran intelektual, ketrampilan motorik, informasi verbal dan berbagai sikap. Belajar Geografi bermanfaat bagi bidang Ekonomi.

Belajar Ekonomi bermanfaat bagi bidang Sosiologi. Belajar Sosiologi bermanfaat bagi bidang Sejarah. Belajar Sejarah berguna bagi bidang Geografi. Lebih baik lagi, belajar satu ilmu berguna bagi beberapa bidang lain dalam kehidupan. Ini tampaknya yang belum terwujud. Mengapa? Karena masih kuatnya ego sektoral/mata pelajaran. Merasa bidangku berdiri sendiri. Tidak ada hubungan dan kaitannya dengan mata pelajaran lainnya. Kondisi ini masih sangat kental, sehingga nilai kemanfaatan sangat rendah atau dangkal. Padahal IPS sangat melekat dengan dinamika sosial masyarakat, pendekatan satu bidang studi/mata pelajaran sangatlah tidak mencukupi dan sangat rendah terhadap kompleksitas persoalan. Penerapan transfer belajar dari W.S. Winkel sangat berkorelasi positif dengan karakteristik pembelajaran IPS.

Untuk itu, perlu pemahaman lebih komprehensif tentang IPS. Transfer belajar IPS berkorelasi positif terhadap perilaku, sikap, pola pikir, ketrampilan sosial, kapasitas sosial bagi masyarakat. Agar hal tersebut mendekati maka guru perlu memiliki perspektif baru tentang IPS. Perspektif baru tersebut berdasar mengetahui, memahami, menyikapi dan mengamalkan karakteristik pembelajaran IPS. Pengalaman belajar menjadi pintu masuk bangunan pengalaman sosial belajar IPS, kecerdasan guru selama mengajar menjadi kunci penting, selain kecerdasan peserta didik, fasilitas sarana-prasarana.

Prinsip Kedepan
Pengalaman belajar peserta didik ditentukan oleh beberapa prinsip dalam teknik mengajar IPS. Menurut Pane (Drs. H. Abu Ahmadi, 2004: 1390) dalam Sosiologi Pendidikan, mengemukakan beberapa prinsip dalam teknik mengajar yaitu metode mengajar hanya mempunyai arti yang efektif, jika kecakapan dan pengetahuan diperoleh secara kenyataan, dapat digunakan oleh individu di dalam menyesuaikan situasi sosial. Kedua, metode mengajar mesti menekankan pertama-tama atas tingkah laku sosial disamping kelas atau di luar kelas . Ketiga, metode mengajar mesti mencari untuk menggunakan kekuatan sosial, bekerja dalam kehidupan sosial agar dapat mengembangkan kapasitas bagi penyesuaian sosial. Melalui ketiga prinsip teknik mengajar IPS makin jelas peran penting IPS ketiga mengajar sesuai prinsip diatas. Wujud perspektif baru tersebut melalui, perombakan pola pikir, bahwa IPS merupakan bidang penting dan strategis bagi pembekalan dan penumbuh kembangan sikap positif bagi kehidupan bermasyarakat, revolusi proses belajar mengajar IPS yaitu bukan transfer ilmu melainkan transfer belajar positif dan reformasi pembelajaran tidak cukup bersumber buku paket tetapi membumikan IPS dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup
Dengan mengetahui, memahami, menyikapi bahwa IPS memiliki peran penting dan strategis bagi warga masyarakat maka saatnya guru IPS percaya diri selama mengajar, peserta didik bangga atas pilihan IPS masyarakat merasakan tranfers belajar IPS. Maka sekolah (kelas) menjadi tempat transfer belajar bagi kebutuhan saat ini dan masa depan. Hal tersebut sesuai dengan visi Kurikulum 2013 yaitu mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan. The past cannot be changed. The future is yet in your power. – (Masa lalu tak bisa diubah. Masa depan adalah kekuatanmu.) – Mary Pickford *) Engelbertus K.



Penulis  : Widijatmoko, M. Pd.
Dosen Universitas Kanjuruhan Malang, Mahasiswa S3 Prodi Pendidikan IPS Universitas Negeri Semarang