Peringatan Hari Bumi Dan Perjuangan Petani Kendeng
Cari Berita

Advertisement

Peringatan Hari Bumi Dan Perjuangan Petani Kendeng

25 Apr 2017

22 April merupakan peringatan hari bumi internasional yang diperingati oleh kurang lebih 175 negara yang tergabung dalam (Earth Day Network). Hari bumi digagas awalnya sebagai suatu bentuk keprihatinan pada semakin rusaknya lingkungan di Amerika jika ditunjau dari sejarahnya. Dengan mengkonsentrasikan jaringan (Earth Day Network) dalam misi penyelamatan lingkungan, jaringan tersebut mampu menghasilkan kelompok kelompok pemerhati lingkungan. Dalam kurun berjalannya waktu anggota (Earth Day Network) pun makin bertambah banyak. Bertambahnya anggota jaringan peduli lingkungan itupun menjadi suatu bukti tentang pentingnya lingkungan bagi manusia di dunia.  “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili,” yang artinya "Ibu bumi sudah memberi, ibu bumi disakiti, ibu bumi akan mengadili." Syair tersebut merupakan syair yang dinyanyikan oleh petani Kendeng dalam setiap aksinya.  Dalam tuntutannya mereka menuntut agar PT Semen Indonesia berhenti beroperasi. Aksi ini tidak lain merupakan upaya penyelamatan terhadap tanah leluhur petani kendeng dan upaya penyelamatan lingkungan. Jika ditinjau lagi, pegunungan Kendeng memang banyak memberikan manfaat bagi warga disekitarnya, terutama mata air dibawah pegunungannya. Tidak main main, jika mata air ini hilang maka akan terjadinya krisis air pada warga Kendeng dan hilangnya air yang mengalir dari sungai sungai ke sawah mereka. Kehilangan mata pencaharian, rusaknya ekologi disana merupakan dampak yang paling utama yang akan dirasakan jika pabrik semen tetap akan beroperasi disana. Negara Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya adalah bercocok tanam. Jika pabrik ini tetap di dirikan akan berdampak pula pada krisis agraria.  Petani Kendeng merupakan salah satu ikon kewarasan berpikir. Bumi adalah ibu yang selalu memberi pada manusia, semua lapisan masyarakat, organisasi pecinta alam, seyogyanya harus lebih menyikapi kasus petani Kendeng ini dengan serius. Saling menggabungkan diri dan mengorganisir agar Kendeng benar benar tetap akan lestari sebagai upaya penyelamatan lingkungan.  Hari bumi harusnya menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk mengevaluasi diri. Ternyata banyak dari kita masih belun sadar akan pentingnya lingkungan hidup. Dengan dalih mensejahterahkan masyarakat sekitar dengan terbangunnya suatu industri, belum tentu. Dalam perindustrian tentu akan ada dampak dampak baik dari lingkungan maupun sosial masyarakat. Mengutip dari puisi Soe Hok Gie yakni "Tanpa manusia alam akan tetap ada, tanpa alam manusia takkan pernah ada."   Penulis : Faris Fauzan
Para Petani dari Kawasan Pegunungan Kendeng Menyemen Kakinya. Aksi tersebut Dilakukan Sebagai Protes untuk Menolak Pendirian pabrik Semin di Kawasan tersebut : Foto : Istimewa

22 April merupakan peringatan hari bumi internasional yang diperingati oleh kurang lebih 175 negara yang tergabung dalam (Earth Day Network). Hari bumi digagas awalnya sebagai suatu bentuk keprihatinan pada semakin rusaknya lingkungan di Amerika jika ditunjau dari sejarahnya. Dengan mengkonsentrasikan jaringan (Earth Day Network) dalam misi penyelamatan lingkungan, jaringan tersebut mampu menghasilkan kelompok kelompok pemerhati lingkungan. Dalam kurun berjalannya waktu anggota (Earth Day Network) pun makin bertambah banyak. Bertambahnya anggota jaringan peduli lingkungan itupun menjadi suatu bukti tentang pentingnya lingkungan bagi manusia di dunia.

“Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili,” yang artinya "Ibu bumi sudah memberi, ibu bumi disakiti, ibu bumi akan mengadili." Syair tersebut merupakan syair yang dinyanyikan oleh petani Kendeng dalam setiap aksinya.

Dalam tuntutannya mereka menuntut agar PT Semen Indonesia berhenti beroperasi. Aksi ini tidak lain merupakan upaya penyelamatan terhadap tanah leluhur petani kendeng dan upaya penyelamatan lingkungan. Jika ditinjau lagi, pegunungan Kendeng memang banyak memberikan manfaat bagi warga disekitarnya, terutama mata air dibawah pegunungannya. Tidak main main, jika mata air ini hilang maka akan terjadinya krisis air pada warga Kendeng dan hilangnya air yang mengalir dari sungai sungai ke sawah mereka. Kehilangan mata pencaharian, rusaknya ekologi disana merupakan dampak yang paling utama yang akan dirasakan jika pabrik semen tetap akan beroperasi disana. Negara Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya adalah bercocok tanam. Jika pabrik ini tetap di dirikan akan berdampak pula pada krisis agraria.

Petani Kendeng merupakan salah satu ikon kewarasan berpikir. Bumi adalah ibu yang selalu memberi pada manusia, semua lapisan masyarakat, organisasi pecinta alam, seyogyanya harus lebih menyikapi kasus petani Kendeng ini dengan serius. Saling menggabungkan diri dan mengorganisir agar Kendeng benar benar tetap akan lestari sebagai upaya penyelamatan lingkungan.

Hari bumi harusnya menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk mengevaluasi diri. Ternyata banyak dari kita masih belun sadar akan pentingnya lingkungan hidup. Dengan dalih mensejahterahkan masyarakat sekitar dengan terbangunnya suatu industri, belum tentu. Dalam perindustrian tentu akan ada dampak dampak baik dari lingkungan maupun sosial masyarakat. Mengutip dari puisi Soe Hok Gie yakni "Tanpa manusia alam akan tetap ada, tanpa alam manusia takkan pernah ada."


Penulis : Faris Fauzan