Mari Bercinta Dengan Korupsi
Cari Berita

Advertisement

Mari Bercinta Dengan Korupsi

4 Apr 2017


Indikatormalang.com - “Dunia akan besuara, dengan keras dan semakin keras. Sesampainya, angin pun ikut menyumbangkan sepoinya. Lalu langit berubah warna dengan diselimuti awan hitam. Sepertinya indah sekali karena tak ada keheningan yang mencekam. Yah, dunia fana ini membutuhkan keramaian yang dicintai. Yang itu kusebut korupsi. Kemudian, berbondong-bondonglah manusia untuk meramaikan dunia ini”
[1]. Kalimat itu menurut tafsiran para pembaca yang budiman tentu berbeda-beda. Namun perlu diketahui, bahwa ada cela dan sela di balik rangkaian kalimatnya. Kali ini kata kunci yang terpenting adalah ‘korupsi’ [2]. Secara general, makna dari kata korupsi ini sangatlah negatif pada era sekarang ini. Hal itu terjadi karena perkembangan zaman yang semakin pesat ini telah mengajak setiap individu untuk mengikuti dan menghambakan diri kepadanya. Akan terasa kurang jika perkembangan zaman ini dilalaikan walau pun sedetik saja, termasuk korupsi. Berbicara mengenai data yang berdasarkan hasil catatan Transparacy Internasional Indonesia (TII) Indeks Persepsi Korupsi (IPK), Indonesia pada 2009 dan 2010 mendapatkan skor 2,8; pada 2011 dengan skor 3,0; pada 2012 dan 2013 dengan skor 3,2; serta pada 2014 IPK-nya meningkat menjadi 3,4. Kemudian dari perkara korupsi yang ditangani petugas penegak hukum sejak 2005 sampai dengan Agustus 2014, pejabat daerah sebagai pelaku tindak pidana korupsi. Hal yang demikian diketahui Kepala Daerah sebanyak 331 orang yang melakukan korupsi; Anggota DPRD sebanyak 3.169 orang yang melakukan korupsi; dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 1.211 orang yang melakukan korupsi. [3]. Data ini sangat mengkhawatirkan bagi yang tidak melakukannya. Namun bagi yang terlibat di dalamnya, tentu sangat nikmat bagaikan bercinta di malam pertama dengan pasangan hidup yang sah. Sehingga yang demikian, menggerakkan para pelaku korupsi ini membuat spanduk “Mari Bercinta dengan Korupsi”. Kalimat yang sederhana ini memiliki daya tarik yang tidak bisa dielakkan oleh siapa pun yang lemah imannya.

Lucunya akhir zaman, lucunya para pengganti, lucunya popularitas. Ketiga kalimat sederhana itu pantas disematkan kepada dunia yang semakin ramai dengan cinta. Menghambakan diri merupakan bagian dari mencintai sesuatu. Lalu akhir zaman pun menyaksikan itu.

Dunia saat ini telah dipenuhi dengan cinta tanpa benteng. Akhirnya membias kemana-mana lalu semua biasan itu menjadi nikmat dan dibenarkan berdasarkan hukum nafsu pribadi. Hukum inilah menyematkan keegoisme individu yang kental. Namun akan lebih indah jika setiap umat manusia menelanjangi dirinya. Mempertontonkan kemaluannya. Lalu bercinta dengan korupsi. Hingga melahirkan generasi berdalih binatang. Ini menarik bukan? Sungguh yang demikian itu sangat menarik. Sebab siapa pun yang hendak dan melakukan yang dimaksudkan itu, tentu sangat mudah. Hal-hal yang mudah dilakukan dan diraih inilah sifatnya umat Akhir zaman. Pernyataan demikian itu tidak menghakimi siapa pun, namun yang menyatakan ini pun tidak lebih baik dari sebuah gagasan ini kepada hadirin pembaca.

Sekali lagi, marilah bercinta dengan korupsi. Tidak harus menunggu ijab kobul yang kemudian bersemayam dalam satu ranjang pada malam pertama. Bercinta dengan korupsi adalah setiap detiknya itu malam pertama. Setiap detak jarum jam dinding adalah kepuasan yang mendayu-dayu. Setiap sepoi yang menerobos sela jendel menandakan kenikmatan tiada tara. Begitu kiranya jika bercinta dengan korupsi. Pada era sekarang ini, setiap orang berhak melakukan yang namanya korupsi dan bercinta dengannya. Hanya saja, sebagian dari mereka belum tahu caranya. Bagaiman memulai. Bagaimana melakukannya. Bagaimana mempertahankan. Inilah yang belum dijangkau oleh semua kalangan. Jika ini sudah dijangkau dan melakukan secara massal, maka itu lebih baik. Mengapa? Agar pemerintah tidak menghayal menjangkau lapisan langit untuk memikirkan rakyatnya. Orang tua tidah harus bangun pagi mendahului si jago berkokok untuk meraup rizki. Pengusaha tidak memanajemen keuangan untuk menggaji karyawannya. Guru dan Dosen tidak membolak-balikan lembaran-lembaran yang bertajuk ilmu dan pengetahuan untuk disampaikan kepada siwa dan mahasiswanya. Serta masih banyak lagi yang berstatus keberpihakan yang bertanggungjawab. Tentu hal itu sangat nikmat, mudah, dan menawarkan solusi yang sangat jelas. Perhatikan, bahwa beberapa paragraf yang memaparkan argumen tentang korupsi dan bercinta dengan korupsi itu merupakan sisi yang lain dari yang lainnya.

Ada tiga hal yang tersirat di balik tersuratnya pesan-pesan itu. Pertama, ajakan untuk menelanjangi diri. Sesungguhnya itu bukan makna sebenarnya. Makna di balik kalimat itu adalah antonim terhadap tingkat kewarasan manusia itu sendiri. Maksudnya, setiap orang yang sudah membedakan mana yang baik dan mana yang bertentangan dengan kebaikan (akil balig[4]). Jika iya, bagaimana mungkin insan tuhan yang waras itu menelanjangi dirinya di depan umum baik secara fisik atau pun kebodohannya (psikis/psike[5]). Kedua, ajakan untuk mempertontonkan kemaluannya. Jika memahami poin pertama, maka kewarasannya akan menjalar ke sela-sela akalnya untuk menyampaikan, ”Hei bos, kamu bukan binatang yang mempertontonkan kemaluannya di depan umum. Jikalau kamu gak malu, maka kamu gak ada bedanya dengan binatang, maka sekarang berlarilah untuk mencari perhatian”. Apa bedanya kita sebagai insan Tuhan yang disematkan derajat lebih tinggi dari ciptaan-NYA yang lain dengan binatang yang tidak menutup auratnya. Di mana, setiap harinya mempertontonkan kemaluannya dengan bangga. Sebab dalam sifat mereka tidak disematkan akal, yang ada hanyalah hawa nafsu. Ketiga, ajakan untuk bercinta dengan korupsi. Ajakan ini sangat menarik karena sebagian besar pesannya lebih mendominasi poin dari pernyataan dalam setiap rangkaian kalimat. Tentu dipahami, bahwa bercinta itu menghambakan diri kepada sesuatu dengan sungguh-sungguh. Artinya ajakan ini sangat menarik jika dimaknai secara kejelasan kalimatnya. Namun lagi-lagi, bahwa makna tersiratlah di balik kalimat ajakan itu. Dimaksudkan bercinta dengan korupsi itu adalah mempercepat bencana yang melanda pelakunya, golongannya, umatnya, dan negerinya. Sehingga mari bercinta dengan korupsi adalah mari mempercepat kesengsaraan kita, jika kebodohan dan kebosanan hidup menguasai diri. Inilah cara berpikir yang salah dalam memaknai hidup dan kehidupan.

Hidup yang sementara ini bagaikan sebuah kapal yang berlabuh sesaat dan kemudian berlayar kembali untuk sampai pada tujuan akhirnya. Ini bukan akhir, ini adalah separuh jalan untuk kembali ke kampung halaman. Perjalanan ini sangat jauh. Tentu harus mempersiapkan bekal yang banyak. Bekal yang tidak ada habisnya itulah Antonim dari segala pernyataan di dalam rangkaian kalimat ini. Maka jangan sekali-kali bercinta dengan korupsi. Sebab yang demikian itu akan mempercepat kesengsaraanmu di dunia dan akhirat. Bercinta itu hanya menguntungkan individu dan beberapa pihak saja. Sedangkan korupsi sangat merugikan banyak orang. Lalu mengapa bercinta dengan korupsia? Jangan menyamakan diri dengan Api yang berkobar-kobar[6]. Tetapi jadilah Air dan tanah[7], sebagaiman yang demikian itulah asal dan usul kita sebagai manusia.

Penulis : Syarir Mustafa (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia FKIP UMM 2012)