Mahasiswa UB Melahirkan Bayi. Ini Tanggapan Mahasiswa Kota Malang
Cari Berita

Advertisement

Mahasiswa UB Melahirkan Bayi. Ini Tanggapan Mahasiswa Kota Malang

2 Apr 2017

Kondisi bayi laki-laki ditemukan tewas di kamar kost ibu yang melahirkannya. 

Indikatormalang.com - Peristiwa seorang mahasiswa universitas Brawijaya (UB) Malang asal Blitar yang melahirkan seorang bayi laki-laki dalam kost-kostannya sontak membuat geger kota Malang Jum'at, (31/3/17). Pasalnya mahasiswi tersebut belum bersuami, Kemudian proses melahirkannya juga dilakukan seorang diri tanpa ada yang mengetahui. Tragisnya bayi laki-laki yang dilahirkan tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa oleh pemilik kost dan warga sekitar Jl. Sumbersari Gang 1A No. 70 RT. 10 RW. 01 Kel. Sumbersari Kec, Lowokwaru, Kota Malang, dalam keadaan terbungkus kresek hitam yang di masukan disebuah tas. Diduga bayi tersebut akan di buang setelah dilahirkan.

Peristiwa tersebut mendapatkan banyak tanggapan dari kalangan Mahasiswa. Terutama mahasiswa yang merantau ke kota Malang. Kebanyakan dari mereka mengecam tindakan mahasiswa dalam peristiwa tersebut juga mengecam keras laki-laki yang menghamilinya, namun sebagai sesama mahasiswa mereka juga merasa simpati dan mengasihani mahasiswa tersebut.

Berikut 10 komentar para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang merantau ke Kota Malang.

1. Sejatinya Wanita itu lembut dan penuh Kasih sayang. Ingat orang tua kita.

Salah satu mahasiswa jurusan Biologi di UMM asal Gresik berinisial KAV menyayangkan tindakan mahasiswi yang di anggapnya tidak mencerminkan hakikat wanita yang lembuh dan penuh Kasih sayang. Menurutnya mahasiswi tersebut tidak layak disebut sebagai wanita apalagi seorang ibu.
"Apa dia layak disebut sebagai wanita, yang sejatinya lembut dan penuh kasih sayang tapi ternyata bertindak keji melebihi binatang" ujarnya emosi.
"Apakah tidak sayang dengan masa depannya, orangtuanya yg biayain kuliah susah payah" tambahnya.

2. Masih muda, belum siap menjadi seorang ibu.
Mahasiswa asal Ternate jurusan biologi di UMM berinisial RJ juga menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya mahasiswi tersebut belum siap baik secara psikologi maupun secara finansial menjadi seorang ibu, sehingga ia tega melakukan tindakan tersebut.
"Menurut saya kejadian tersebut sangat disayangkan karena pelaku yang mungkin masih mudah dan belum siap secara psikologi maupun finansial menjadi seorang ibu" ungkapnya.
"Lemahnya pola pikir dan kehidupan yang bebas membuat pelaku nekat melakukan hal tersebut" tambahnya.
3. Tragis, melahirkan tanpa bantuan terasa aneh.
"Tragis. menurut saya, Mungkin si ibu atau mahasiswi itu kebingungan sehingga tidak bisa berpikir apa pun yang baik" ujar mahasiswa bernisial A jurusan pendidkan bahasa dan sastra Indonesia UMM kepada indikator Malang.
A merasa aneh dan tidak mungkin mahasiswi tersebut melahirkan tanpa bantuan orang lain. "Saya penasaran bagaimana seoarang wanita melahirkan sendiri tanpa bantuan orang lain. Secara biologi itu terasa aneh dan ganjil" ungkapnya penuh penasaran.

4. Pemilik kost lebih waspada dan ikut mengawasi penghuni kost.

Menurut mahasiswa berinisial IM asal Lumajang jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UMM ini, Pengawasan dan kontrol kepada penghuni kost harus lebih diperketat.
"Alangkah baiknya untuk bapak atau ibu kost lebih waspada mengawasi, supaya bisa terkontrol apa yang di lakukan mahasiswa yang sedang kost pada tempatnya tersebut" ujarnya menyarankan.
"Jadi apabila kost di perketat maka akan timbul efek yang positif bagi mahasiswa yang kost di tempatnya tersebut" tambahnya.
5. Kasian ceweknya, yang cowok kemana? kok cemen nggak bertanggung jawab.

Mahasiswa asal Malang Selatan berinisial AF jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UMM ini merasa prihatin kepada mahasiswi tersebut. Menurutnya laki-laki yang akan gahmilinya harus bertanggung jawab.
"Laki-laki kayak gitu tu nggak pantes disebut laki-laki, dia pergi setelah dapat senangnya giliran susahnya aja gak mau ikut nanggung" ungkapnya marah pada si laki-laki.
"Karna kalau kayak gini kasian si ceweknya" tambahnya.

6. Perempuan itu tidak berniat menghilangkan nyawa bayinya.
YAS berpendapat lain dari yang lain, mahasiswa Asal Bali jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UMM ini tak terima jika dalam peristiwa tersebut ada unsur kesengajaan menghilangkan nyawa bayi yang dilahirkan.
"Dia itu nggak salah. dia itu nggak berniat untuk menghilangkan nyawa, kodrat dia sebagai wanita yg nuntut dia bertindak demikian" ujarnya seolah tak ingin wanita itu bersalah sepenuhnya.
"Mahasiswa zaman sekarang mah gitu, kelihatan nakal sedikit langsung digunjing, digosipin, padahal belum tau fakta aslinya" tambahnya.

Sementara itu, di pihak laki-laki lebih mengecam tindakan laki-laki yang menghamili mahasiswa tersebut, menurut para mahasiswa ini, sejatinya laki-laki sejati harus berani berbuat dan berani bertanggung jawab.

1. Laki-laki yang tidak memiliki peri kemanusiaan.

Mahasiswa berinisial AM jurusan ppkn (civic hukum) UMM asal Bima ini cukup marah pada laki-laki yang menghamili mahasiswi tersebut. Ia mengatkan bahwa laki-laki tersebut tidak memiliki peri kemanusiaan.
"Menurut saya laki-laki yang sudah menghamilinya haruslah bertanggung jawab atas apa yg dibuatnya, setidaknya memberikan rasa simpati terhadap perempuan tersebut" ujarnya.
"Saya pikir sungguh laki-laki yang sudah berbuat keji itu sama sekali tidak memiliki peri kemanusiaan" tambahnya marah pada laki-laki yang menghamili mahasiswi tersebut.

2. Laki-laki yang baik datangi orang tua perempuan yang di hamilinya. Jadikan dia Istri.

"Sebaiknya laki-laki yang bertanggung jawab harus mendatangi kepada pihak orang tua si wanita menyampaikan rasa tanggung jawab untuk memperistri sang wanita" ujar mahasiswa asal Jombang jurusan pendidikan guru sekolah dasar UMM tersebut kepada Indikator Malang.

3. Laki-laki itu Salah , perempuannya juga salah. Yang benar hanya kita yang berkomentar.

Mahasiswa berinisial AB asal Bima jurusan matematika UMM ini menganggap kesalahan ada pada keduanya, baik yang menghamili ataupun yang di hamili. Menurutnya, yang benar itu para komentator.
"Keduanya salah dimata kita, kita merasa diri benar dan suci. Padahal bisa saja kita lebih hina dari mereka" ujarnya menasehati para komentator.
"Maksud saya, kita tidak boleh berkesimpulan jelek begitu saja. Tanpa kita tahu akar permasalahannya" tambahnya.

Itulah 10 tanggapan mahasiswa yang ada di kota Malang. Dari beberapa tanggapan di atas, kita dapat mengambil hikmah atau pelajaran. Bahwa seharusnya kita sebagai mahasiswa terdidik harus lebih waspada dalam bergaul. Jangan sampai peristiwa tersebut terjadi pada diri kita lagi.