HAM Ciutkan Pendidik
Cari Berita

Advertisement

HAM Ciutkan Pendidik

2 Apr 2017


Indikatormalang.com - Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan dan sebagai kebutuhan dalam kehidupan, dikatakan bahwa pendidikan adalah kebutuhan karena tanpa adanya pendidikan, kehidupan yang dijalani tidak akan berlangsung dengan baik. Masa dari pendidikan sangatlah panjang, banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan itu berlangsung hanya disekolah saja, tetapi dalam kenyataanya pendidikan berlangsung seumur hidup melalui pengalaman-pengalaman yang dijalani dalam kehidupanya.

Pengalaman merupakan fakta yang telah terjadi dari kehidupan kita. Pengalaman itu merupakan proses belajar kita. Tidak dapat dipungkiri, bahwa tujuan akhir pendidikan yaitu pekerjaan yang sesuai. Melalui pekerjaan kita dapat memenuhi kebutuhan hidup kita. Banyak usaha yang dilakukan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan akhir. Pendidikan berkembang dari masa ke masa. Banyak yang mempengaruhi pendidikan sehingga banyak perubahan yang terjadi. Banyak masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan. Masalah yang kecil hingga masalah yang serius. Salah satunya yaitu permasalahan perilaku pebelajar.

Pebelajar zaman dulu dengan pebelajar zaman sekarang sangat berbeda. Perbedaan tersebut salah satunya dalam masalah perilaku. Banyak penyebab hal ini terjadi. Hal-hal yang mempengaruhi keadaan pebelajar zaman sekarang yaitu perkembangan teknologi mempengaruhi pola pikir pebelajar, keteladanan guru yang rendah, dan lain sebagainya. Saat ini, tragedi guru dipenjara atas pelanggaran HAM banyak terjadi. Hal tersebut menjadi berita yang tidak membuat masyarakat tercengang lagi. Berita tersebut menjadi berita yang sudah dimaklumi oleh masyarakat karena banyak kasus yang sama terjadi. Orang tua yang menerima laporan dari sang buah hati tidak menerima perilaku dari tenaga pendidik. Padahal orang tua juga terkadang tidak tahu siapa yang memang bersalah atau apa sebabnya mengapa hal itu bisa terjadi. Orang tua selalu membenarkan perkataan anak. Orang tua menyambut pelaporan dari sang buah hati dengan hati yang terbakar dan langsung segera melapor kepada pihak kepolisian.

Zaman pendidikan dulu, ada guru yang melakukan kekerasan pada pebelajar tidak menjadi masalah bagi orang tua. Bukan karena tak sayang namun karena mereka juga ingin sang anak jera untuk tidak melakukan kesalahan yang sama atau kesalahan yang lain. Hal ini menghasilkan pebelajar yang memang benar patuh, sopan, jujur, mandiri dan perilaku lainnya terutama untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Memang benar HAM mulai ditegakkan di Indonesia, hal ini baik untuk Indonesia. Namun apakah baik jika HAM dipakai untuk hal yang tidak memajukan negara? Pebelajar zaman sekarang tidak peduli dan tidak takut pada kemajuan negaranya dan dirinya sendiri. Mereka mengandalkan orang tua, sehingga mereka tidak mandiri, manja, dan menimbulkan sifat negatif lainnya. Hal ini membuat SDM di Indonesia menjadi menurun, kualitas manusia di Indonesia menjadi tidak baik. Bagaimana dengan Indonesia? Jika generasi penerus bangsa hanya kita belai rambut saja (manja). Padahal pebelajar adalah penerus bangsa. Memajukan negara salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan selalu berhubungan dengan tenaga pendidik. Orang tua yang menyekolahkan sang buah hati di sekolah berarti menyerahkan hak didik kepada pihak sekolah salah satunya yaitu tenaga pendidik. Pihak sekolah pun berharap yang terbaik untuk penerus bangsa, karena hal ini adalah salah satu jalan untuk kemajuan negara di masa mendatang. Tenaga pendidik atau lebih akrab menyebut “guru” merupakan pembentuk akal, karakter bangsa, dan peran dalam kemajuan bangsa. Mereka pembangun penerus bangsa.

Penerus bangsa yang akan mengubah dan memajukan negara ke arah yang lebih dimuliakan oleh Allah. Namun saat ini, nama tenaga pendidik telah tercoreng di masyarakat. Tenaga pendidik tidak bisa leluasa melakukan caranya sendiri untuk membentuk akal dan karakter anak bangsa. Tenaga pendidik membentuk akal dan karakter bangsa memilih cara yang terbaik, mereka tidak akan sembarangan. Mereka dibatasi oleh HAM. Mereka diadili di meja hijau karena ingin mengubah karakter anak bangsa yang mulai rendah saat ini. Suara tenaga pendidik diabaikan karena telah mencubit, menyuruh keluar kelas, menyuruh lari, memukul pebelajar yang katanya anak baik dan patuh. Tidakkah disadari oleh masyarakat? Guru melakukan hal demikian karena ada sebab dan kepada siapa yang layak diperlakukan seperti itu. Pebelajar dicubit karena apa? Melakukan hal apa? Tingkah apa yang dilakukan? Berulang kali? Atau hanya sekali? Tidak mengerjakan tugas, gaduh saat pelajaran, bermain dan tidak masuk kelas saat pembelajaran, mengganggu teman, dan lain sebagainya. Orang tua tahukah perilaku sang buah hati yang katanya baik? Membenarkan segala perkataannya namun tidak melihat kenyataannya. Perlakuan pebelajar yang melebihi batas atau keterlaluan biasanya akan dikirimi surat dari pihak sekolah atau guru kepada orang tua. Hal ini merupakan salah satu bukti perlakuan pebelajar yang tidak baik. Hal yang dilakukan pebelajar merobek surat tersebut karena takut pada orang tua. Hal ini membuat tenaga pendidik menindak sendiri, turun langsung menghadapi pebelajar.

Niat tenaga pendidik bukan buruk, beliau juga manusia, bahkan ada yang telah menjadi orang tua, beliau hanya ingin mengubah agar tidak terulang. Untuk siapa? Untuk diri pebelajar tersebut di kemudian hari nanti. Jika kekerasan terjadi, pebelajar hanya melapor kepada orang tua. Mereka merengek dan mengadu seolah hal yang telah diperbuat paling benar. Orang tua telah penuh amarah sehingga melapor dan menyeret tenaga pendidik ke pengadilan. Tenaga pendidik menyuruh dan melakukan berbagai macam cara untuk meninggalkan hal yang salah dan buruk, namun orang tua membenarkan, melakukan tindakan tanpa melihat kenyataan. Tenaga pendidik bertindak agar jalan yang pilih benar, orang tua membela tanpa mengetahui perlakuan yang baik dan pantas untuk anak jika berulang. Bagaimana dengan kebenaran? Bagaimana dengan karakter? Bagaimana dengan perilaku anak? bagaimana dengan masa depan anak? Bagaimana dengan kemajuan bangsa? Melaporkan atas nama HAM.

Penulis : DWI INTAN FEBRIANI Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang