Gelorakan Cinta Bumi, HMJ KPI Bedah Film The Mahuzes
Cari Berita

Advertisement

Gelorakan Cinta Bumi, HMJ KPI Bedah Film The Mahuzes

17 Apr 2017

Jakarta- Ada banyak cara untuk mendekatkan dan memahami manusia dengan alamnya salah satunya dengan alat buday massa, film. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta mencoba menggelorakan kembali rasa cinta bumi di tengah-tengah mahasiswa dengan membeda film dokumenter The Mahuzes karya tim WacthDoc. Senin (17/4).  Sejumlah peserta begitu asik menonton dan mendegarkan penjelasan seputar pentingnya alam Indonesia di tengah Politik Ekologi yang disampaikan langsung oleh Eko Cahyono peneliti sekaligus Direktur Sajogyo Institute yang berkedudukan di Institute Pertanian Bogor (IPB).  Eko Cahyono menerangkan, politik lingkungan sering berkedok dengan kebijakan yang sangat manis dengan embel-embel konservasi atau bahkan pengambilalihan lahan oleh negara. Namun, terkadang malah dijadikan alat untuk korporasi yang justeru lebih menekankan logika pasar yang jauh dari keadilan."Sekarang, seakan kita dijajah sambil tersenyum," ujarnya saat menyampaikan materinya.  Eko menambahkan, film ini hanyalah potret dari segelintir persoalan penyerootan tanah seluar 1,2 juta hektar di Merauke Papua. Di sejumlah tempat masih banyak ditemukan penguasaan lahan yang pada ujungnya hanyab menjauhkan masyarakat pada tanah adat dan budayanya."Pembangunan kita masih sebatas pemerataan saja, namun nir-keadilan," teasnya.  Film documenter ini memberikan kisah nyata kehidupan masyarakat Papua yang diawali dengan senyuman anak-anak yang tinggal disana, meskipun kehidupan mereka jauh dari kata layak bagi seseorang yang hidup di perkotaan dengan mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Namun dari yang dilihat dari film ini, mereka sangat menikmati kehidupannya dengan cara mereka sendiri tanpa ada rasa beban di wajah mereka yang berada di Distrik Muting, Merauke dalam Ekspedisi Indonesia Biru.  10 Mei 2015, Presiden RI Joko Widodo mengunjungi tanah Papua daerah persawahan milik PT Perama Pangan Papua yang luasnya 300 Ha tepatnya di Distrik Kurik, Marauke. Dalam pidatonya Presiden RI ingin membuat area persawahan, dimana tanah itu milik rakyat papua dengan luas 1,2 juta Ha dengan target 3 tahun. Papua hendak dijadikan lumbung pangan dan dan energy dunia berbasis perusahaan (Industri) proyek ini disebut Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).      Halimah Soraya selaku penanggung jawab pemilihan film ini merupakan respon atas kerusakan lingkungan di Indonesia saat ini. Di samping itu, persoalan kesadaran di tengah masyarat kita masih minim dalam membentukpola pikir terhadap merawan alam."Dari film ini kita tau betul bagaimana orang di Papua sana menjaga tradisi dan tanah mereka tinggali," ungkapnya.  Acara bedah film ini merupakan rangkaian acara Milad HMJ KPI dengan tema"Talk To Eart". Halimah menambahkan, Film ini terasa pas dibedah karena dengan film mudah difahami."Film cocok dengan rangkaia acara," tambahnya.


Jakarta- Ada banyak cara untuk mendekatkan dan memahami manusia dengan alamnya salah satunya dengan alat buday massa, film. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta mencoba menggelorakan kembali rasa cinta bumi di tengah-tengah mahasiswa dengan membeda film dokumenter The Mahuzes karya tim WacthDoc. Senin (17/4).

Sejumlah peserta begitu asik menonton dan mendegarkan penjelasan seputar pentingnya alam Indonesia di tengah Politik Ekologi yang disampaikan langsung oleh Eko Cahyono peneliti sekaligus Direktur Sajogyo Institute yang berkedudukan di Institute Pertanian Bogor (IPB).

Eko Cahyono menerangkan, politik lingkungan sering berkedok dengan kebijakan yang sangat manis dengan embel-embel konservasi atau bahkan pengambilalihan lahan oleh negara. Namun, terkadang malah dijadikan alat untuk korporasi yang justeru lebih menekankan logika pasar yang jauh dari keadilan."Sekarang, seakan kita dijajah sambil tersenyum," ujarnya saat menyampaikan materinya.

Eko menambahkan, film ini hanyalah potret dari segelintir persoalan penyerootan tanah seluar 1,2 juta hektar di Merauke Papua. Di sejumlah tempat masih banyak ditemukan penguasaan lahan yang pada ujungnya hanyab menjauhkan masyarakat pada tanah adat dan budayanya."Pembangunan kita masih sebatas pemerataan saja, namun nir-keadilan," teasnya.

Film documenter ini memberikan kisah nyata kehidupan masyarakat Papua yang diawali dengan senyuman anak-anak yang tinggal disana, meskipun kehidupan mereka jauh dari kata layak bagi seseorang yang hidup di perkotaan dengan mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Namun dari yang dilihat dari film ini, mereka sangat menikmati kehidupannya dengan cara mereka sendiri tanpa ada rasa beban di wajah mereka yang berada di Distrik Muting, Merauke dalam Ekspedisi Indonesia Biru.

10 Mei 2015, Presiden RI Joko Widodo mengunjungi tanah Papua daerah persawahan milik PT Perama Pangan Papua yang luasnya 300 Ha tepatnya di Distrik Kurik, Marauke. Dalam pidatonya Presiden RI ingin membuat area persawahan, dimana tanah itu milik rakyat papua dengan luas 1,2 juta Ha dengan target 3 tahun. Papua hendak dijadikan lumbung pangan dan dan energy dunia berbasis perusahaan (Industri) proyek ini disebut Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).

Jakarta- Ada banyak cara untuk mendekatkan dan memahami manusia dengan alamnya salah satunya dengan alat buday massa, film. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta mencoba menggelorakan kembali rasa cinta bumi di tengah-tengah mahasiswa dengan membeda film dokumenter The Mahuzes karya tim WacthDoc. Senin (17/4).  Sejumlah peserta begitu asik menonton dan mendegarkan penjelasan seputar pentingnya alam Indonesia di tengah Politik Ekologi yang disampaikan langsung oleh Eko Cahyono peneliti sekaligus Direktur Sajogyo Institute yang berkedudukan di Institute Pertanian Bogor (IPB).  Eko Cahyono menerangkan, politik lingkungan sering berkedok dengan kebijakan yang sangat manis dengan embel-embel konservasi atau bahkan pengambilalihan lahan oleh negara. Namun, terkadang malah dijadikan alat untuk korporasi yang justeru lebih menekankan logika pasar yang jauh dari keadilan."Sekarang, seakan kita dijajah sambil tersenyum," ujarnya saat menyampaikan materinya.  Eko menambahkan, film ini hanyalah potret dari segelintir persoalan penyerootan tanah seluar 1,2 juta hektar di Merauke Papua. Di sejumlah tempat masih banyak ditemukan penguasaan lahan yang pada ujungnya hanyab menjauhkan masyarakat pada tanah adat dan budayanya."Pembangunan kita masih sebatas pemerataan saja, namun nir-keadilan," teasnya.  Film documenter ini memberikan kisah nyata kehidupan masyarakat Papua yang diawali dengan senyuman anak-anak yang tinggal disana, meskipun kehidupan mereka jauh dari kata layak bagi seseorang yang hidup di perkotaan dengan mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Namun dari yang dilihat dari film ini, mereka sangat menikmati kehidupannya dengan cara mereka sendiri tanpa ada rasa beban di wajah mereka yang berada di Distrik Muting, Merauke dalam Ekspedisi Indonesia Biru.  10 Mei 2015, Presiden RI Joko Widodo mengunjungi tanah Papua daerah persawahan milik PT Perama Pangan Papua yang luasnya 300 Ha tepatnya di Distrik Kurik, Marauke. Dalam pidatonya Presiden RI ingin membuat area persawahan, dimana tanah itu milik rakyat papua dengan luas 1,2 juta Ha dengan target 3 tahun. Papua hendak dijadikan lumbung pangan dan dan energy dunia berbasis perusahaan (Industri) proyek ini disebut Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).     Halimah Soraya selaku penanggung jawab pemilihan film ini merupakan respon atas kerusakan lingkungan di Indonesia saat ini. Di samping itu, persoalan kesadaran di tengah masyarat kita masih minim dalam membentukpola pikir terhadap merawan alam."Dari film ini kita tau betul bagaimana orang di Papua sana menjaga tradisi dan tanah mereka tinggali," ungkapnya.  Acara bedah film ini merupakan rangkaian acara Milad HMJ KPI dengan tema"Talk To Eart". Halimah menambahkan, Film ini terasa pas dibedah karena dengan film mudah difahami."Film cocok dengan rangkaia acara," tambahnya.


Halimah Soraya selaku penanggung jawab pemilihan film ini merupakan respon atas kerusakan lingkungan di Indonesia saat ini. Di samping itu, persoalan kesadaran di tengah masyarat kita masih minim dalam membentukpola pikir terhadap merawan alam."Dari film ini kita tau betul bagaimana orang di Papua sana menjaga tradisi dan tanah mereka tinggali," ungkapnya.

Acara bedah film ini merupakan rangkaian acara Milad HMJ KPI dengan tema"Talk To Eart". Halimah menambahkan, Film ini terasa pas dibedah karena dengan film mudah difahami."Film cocok dengan rangkaia acara," tambahnya.