Tikus Bertopi Proyek Ahmad Tohari
Cari Berita

Advertisement

Tikus Bertopi Proyek Ahmad Tohari

Ivan soekar
3 Mar 2017

Foto: Risnawati
Indikatormalang.com-Karya satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya sastra itu bersifat dinamis berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam penulisan karya sastra. Seperti halnya karya sastra dalam bentuk novel berjudul Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari yang menceritakan tentang kehidupan orang-orang proyek.

Novel Orang-Orang Proyek merupakan salah satu karya Ahmad Tohari yang mengangkat idealisme dan kejujuran harus ditegakkan dalam situasi apapun. Novel ini mencoba mengkritisi praktik-praktik rezim Orde Baru yang hampir mencampuri seluruh kehidupan masyarakat Indonesia di era 1980-1990-an. Dengan gaya bahasa lugas, Ahmad Tohari berhasil mencampurkan beberapa jalan cerita. Bahasa yang lugas namun cerdas, membuat novel ini mudah dipahami oleh pambaca awam sekalipun. Pesan-pesan moral juga begitu kental, yang dihadirkan oleh Ahmad Tohari melalui tokoh pemancing. Tokoh itulah seolah-olah menjadi penarik konflik dalam novel ini. Dalam novel ini, tokoh Kabul yang menjadi tokoh sentral mengalami berbagai konflik yang dilematis dengan berbagai hal dalam tugasnya sebagai pelaksana pembangunan proyek jembatan. Meskipun Novel ini terbitan 2013 dan tergolong novel lama, namun cerita dalam novel ini masih saja ada dalam kehidupan nyata, bahkan lebih banyak dari masa novel ini ditulis.

Kehidupan orang-orang proyek yang diceritakan pada novel ini jelas maksud Ahmad Tohari untuk menunjukkan bagaimana kecurangan dan perjuangan orang proyek. Konflik yang terjadi antara dua insinyur yang berbeda ideologi juga menguatkan bahwa karya Ahmad Tohari ini adalah tiruan dari kehidupan atau keadaan di proyek yang sesuai dalam kehidupan nyata. Dalam sastra tiruan ini disebut mimesis. Model ini melihat karya sastra sebagai tiruan atau gambaran terhadap sesuatu di luar sastra itu dan ’kebenaran’ menjadi kriteria utama (Pradopo, 2007: 192). Dalam novel “Orang-Orang Proyek”, dapat dilihat gambaran keadaan dari kehidupan seorang insinyur dan keprofesionalannya ketika mengerjakan proyek. Tokoh Kabul yang diceritakan Ahmad Tohari menentang ajaran atasannya yang bernama Dalkijo untuk melakukan korupsi. Penulis menggambarkannya pada kutipan novel “yah, berapa kali saya harus mengatakan, seperti proyek yang kita kerjakan sebelum ini, semuanya selalu bermula dari permainan. Di tingkat lelang pekerjaan, kita harus bermain. Kalau tidak, kita tidak bakalan dapat proyek. Dan anggaran yang turun diatur per termin, baru kita peroleh bila kita tahu cara bermain” (Tohari, 2013: 30) “Eh, Dik Kabul, saya tahu, dalam perhitungan yang wajar, keuntungan kita dari proyek-proyek yang kita kerjakan adalah nol atau malah minus. Tapi, ya itu tadi kalau kita bisa bermain, nyatanya perusahaan kita masih jalan. Bisa menggaji karyawan termasuk Dik Kabul sendiri. Dan saya, he-he bisa ganti Herley Davidson model baru setiap selesai mengerjakan satu proyek. Rekeningpun bertambah. Jadi, apa lagi?” (Tohari, 2013: 31) Adanya kutipan di atas menunjukkan dan membuka kembali ingatan tentang kasus korupsi proyek.

Dilihat dari tahun 2016 yang baru saja dilewati terjadi banyak sekali kecurangan di proyek pembangunan baik milik negara maupun milik perorangan. Seperti pada berita yang ditulis bulan Februari 2016 oleh Radar Madiun tentang kecurangan proyek Dinkes. Tim penyidik kejaksaan mengusut dugaan penyimpangan proyek Penyediaan Air Minum Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (PAM-STBM) yang mencapai Rp. 845,3 Juta. Kasus terjadi lagi bulan Mei yang ditulis oleh Suara Merdeka tentang kasus Proyek Drainase dan trotoar di Kota Kudus yang terjadi pada tahun 2016. Proyek yang merugikan negara hingga Rp. 600 ribu per meter persegi itu diduga merupakan praktik korupsi. Kecurangan pada proyek ternyata tidak berhenti di Jawa saja. Hal itu terlihat pada bulan Oktober tanggal 20 tahun 2016 berita Manado menulis, Badan Anggaran DPRD kota Bitung mencium aroma kecurangan di proyek pencegahan bencana yang dilaksanakan Badan Penanggulagan Bencana Daerah (BPBD) Pemkot Bitung. Hal itu dibuktikan dengan melihat kondisi di lapangan yang mendapati kontruk tanggul tidak lazim. Dimana untuk 20 meter sampai 30 meter, anggrannya mencapai ratusan juta rupiah.

Di kota Malang pernah terjadi kasus korupsi pada proyek. Berita yang ditulis oleh Kompas pada November 2016 bahwa Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, Jawa Timur menahan empat tersangka dalam dugaan kasus korupsi pada [royek jasa servis dan pengadaan suku cadang Dinas Pasar Kota Malang yang diduga fiktif. Proyek tersebut terjadi pada 2014 dengan nilai Rp. 300 Juta.

Gambaran kehidupan ketertindasan rakyat kecil juga disampaikan Ahmad Tohari dalam novel ini. Oknum pemerintah yang sering tidak memikirkan kehidupan rakyat dan memikirkan kepentingan sendiri, begitu juga yang terjadi dalam keadaan di proyek. Dalkijo yang terpengaruh oleh kenikmatan yang disuguhkan oleh pihak pemerintah meskipun menghilangkan kemanusiaan yang ada dalam dirinya. Seperti dalam kutipan di bawah ini: “Dan campur tangan itu ternyata tidak terbatas pada penentuan awal pekerjaan yang menyalahi rekomendasi para perancang, tapi masuk juga ke hal-hal lain. Proyek ini, yang dibiayai dengan dana pinjaman luar negeri dan akan menjadi beban masyarakat, mereka anggap sebagai milik pribadi. Kabul tahu bagaimana bendahara proyek wajib mengeluarkan dana untuk kegiatan partai golongan penguasa. Kendaraan-kendaraan proyek wajib ikut meramaikan perayaan HUT golongan itu. Malah pernah terjadi pelaksana proyek diminta mengeraskan jalan yang menuju rumah ketua partai golongan karena tokoh itu akan punya hajat. Bukan hanya mengeraskan jalan, melainkan juga memasang tarub. Belum lagi dengan oknum sipil maupun militer, juga oknum-oknum anggota DPRD yang suka minta uang saku kepada bendahara proyek kalau mereka mau pelesir ke luar daerah. (Tohari, 2013: 26) Dalam kutipan tersebut terlihat adanya oknum yang tidak bertanggung jawab dan mementingkan kepentingan pribadi. Kutipan di atas juga menggambarkan keadaan yang sebenarnya dalam kehidupan kenyataan.

Pada awal tahun 2017 tanggal 18 bulan Januari liputan 6 membawa kabar, kasus tentang proyek pembangunan milik PT Semen Indonesia menjadi trending topic di daerah Rembang dan sekitarnya. Aksi demo yang dilakukan gabungan masyarakat, mahasiswa dilakukan setelah Gubernur Jawa Tengah menentukan sikapnya yang terkait putusan Mahkamah Agung Nomor 99 PK/ TUN/2016 tanggal 5 Oktober 2016. Warga menilai keputusan Ganjar tidak serta merta membatalkan operasi pendirian pabrik semen di Rembang sepenuhnya, meskipun kehadiran industri semen yang memanfaatkan batu kapur dari Gunung Kendeng ditolak oleh masyarakat. Keluh masyarakat yang tidak didengarkan padahal menjadi kerugian dan membawa dampak pada masyarakat setempat. Gubernur yang seharusnya menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi masyarakat lebih banyak menutup telinga dan mata untuk melihat kebenaran.

Tuban yang merupakan salah satu kota industri dan memiliki banyak perusahaan juga mengalami kasus pada proyek. Pada tanggal 26 bulan Januari 2017 KIM (Kelompok Informasi Mayarakat) Ronggolawe menulis berita di situs online (kimrongglawe.com) yang menyatakan bahwa pada tanggal tersebut belasan warga demo Holcim Tuban. Demo dilakukan lantaran warga sekitar Ring menolak kebijakan perusahaan yang diduga tidak berpihak pada masyarakat. Warga beranggapan bahwa Holcim tidak berkomitmen dengan peraturan yang telah dibuat dan warga mengancam akan memblokir jalan menuju Holcim. Meskipun pada akhirnya pihak PT. Holcim menemui para pendemo yang diwakili oleh Trayudi Darma dan bernegosiasi dengan perwakilan pendemo Katsari, Suwandi dan Amir terkait tuntutan demo.

Berita dan bukti dari novel yang ditulis oleh Ahmad Tohari tidak berhenti begitu saja, bahkan membawa kabar terbaru Februari 2017 tikus bertopi proyek terus menelusur hingga ke Papua berhasil diciduk KPK. Berita yang dikabarkan oleh liputan 6 menyatakan adanya ketetapan KPK. Meikel yang merupakan tersangka dari kasus ini berhasil membuat negara mengalami kerugian sebesar Rp. 42 Miliar dari dana Rp. 89,5 miliar.

Dilihat dari segi mimesisnya, novel ini dianggap berkualitas baik karena sangat dekat dengan kenyataan atau diangkat dari suatu kenyataan. Masalah yang sering terjadi pada proyek yang sering kali terjadi karena adanya korupsi dan penggunaan material yang tidak sesuai merupakan kenyataan yang hingga saat ini belum terselesaikan. Di balik masalah itu, timbul pula masalah lain, yakni citra insinyur, kontraktor dan pekerja proyek yang buruk di mata masyarakat.

Ahmad Tohari sepertinya memang ingin menempatkan feodalisme dan budaya korupsi sebagai musuh yangharus dilawan. Contoh yang sangat nyata terjadinya kedua hal tersebut adalah pada proyek-proyek pemerintah, dimana Ahmad Tohari memotretnya dengan begitu gamblang. Segala macam intrik dan solusi pragmatis dari pelaku-pelaku proyek dalam novel ini benar-benar terjadi dalam kenyataan sehari-hari, bukan hanya pada masa orde baru, bahkan hingga saat ini.

Penulis: Risnawati
Mahasiswa Pend.Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang